-->

Peristiwa Toggle

David Jenkins: Biografi Presiden Soeharto

JAKARTA — David Jenkins (70) berada di Jakarta dalam rangka mempersiapkan biografi Presiden Soeharto. ”Saya akan membagi biografi itu dalam beberapa seri. Seri pertama adalah periode 1921 hingga 1949,” ujar Jenkins saat berkunjung ke Redaksi Kompas, Selasa (15/1), untuk mencari foto-foto Soeharto pada periode 1942-1949.

Jenkins didampingi rekannya, Sabam Siagian, Pemimpin Redaksi Jakarta Post yang pertama. Jenkins menuturkan, ia memerlukan waktu lebih dari 10 tahun untuk menyusun buku itu. Ia juga telah mewawancarai orang-orang yang mengenal Soeharto pada era itu.

”Saat ini draf biografi itu panjangnya 400.000 kata. Itu pasti terlalu panjang. Itu sebabnya, saya akan meringkasnya agar biografi itu tidak terlalu tebal,” ujarnya bersemangat.

David Jenkins adalah nama yang paling dimusuhi di Indonesia pada masa pemerintahan Orde Baru tahun 1980-an. Pada tahun 1986, Pemerintah Indonesia berang dan memprotes keras karena tulisan Jenkins di surat kabar Sydney Morning Herald dianggap menghina Presiden Soeharto.

Dua tahun sebelumnya, bukunya yang berjudul “Suharto and His Generals” dilarang masuk ke negeri ini. Sebagai akibatnya, dia juga tidak diizinkan memasuki negara ini. Namun, waktu menyembuhkan luka.

Pada awal 1990-an, Sabam terkejut saat bertemu Jenkins di Jakarta. Ia bertanya kepada Jenkins, ”Lho, kamu kok bisa masuk ke Indonesia?” Jenkins menjawab, ”Saya tidak tahu, tetapi kenyataannya saya diizinkan masuk.”

Malamnya, Sabam mengajaknya ke resepsi diplomatik. Jenderal (Purn) LB Moerdani, mantan Panglima ABRI, yang hadir dalam resepsi itu menegur, ”Kamu kan tidak seharusnya berada di sini.” Jenkins hanya tersenyum.

Besoknya, LB Moerdani, yang akrab disapa Benny Moerdani, menelepon Clara Joewono di CSIS dan bertanya, ”Kok Jenkins bisa masuk ke Indonesia?” Clara menjawab, ”Lho, kan Pak Benny sendiri yang bilang Jenkins sudah boleh masuk.” Benny kemudian menutup teleponnya. Tidak jelas apakah Benny benar yang mengizinkan atau Clara yang tidak ingin Benny marah. Demikian dikabarkan Kompas, 16 Januari 2013.

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan