-->

Literasi dari Sewon Toggle

Catatan Ringkas Seusai Membaca ‘Rindu’ Tituk Romadlona Fauziyah

Kumpulan Cerpen Rindu Karya Tituk Romadlona Fauziyah diluncurkan pada Sabtu, 5 Januari 2013 dari pukul 16.00 hingga selesai di Indonesia Buku, Jl. Patehan Wetan No 3, Alun-alun Selatan, Keraton, Yogyakarta. Acara ini gratis.

I
Jagat kesusasteraan Indonesia modern kembali disemarakkan oleh hadirnya penulis-penulis muda nan berpotensi, salah satunya ialah Tituk Romadlona Fauziyah (atau di lingkup akademik tertulis: Dra. Tituk Romadlona Fauziyah). Ia hadir dengan kumpulan cerpen bertajuk Rindu. Dalam karya perdananya itu, Tituk menampilkan 25 cerita pendek/kisah yang ditulisnya dari tahun 1982 hingga tahun 1992, suatu rentang waktu yang cukup panjang bagi seorang penulis, baik pemula maupun yang sudah berpengalaman untuk menghasilkan tulisan-tulisan yang dapat menginspirasi pembacanya.

Hemat saya, Tituk bukanlah sosok perempuan pertama yang berkiprah di jagat kesusasteraan Indonesia, khususnya cerita pendek. Sebelumnya, publik telah mengenal nama Nh Dini, Helvy Tiana, Rosa, Asma Nadia, Nurul F. Huda, Dorothea Rosa Herliany, Oka Rusmini, hingga Rina Ratih. Dengan capaian-capaian estetik-literernya masing-masing, para pengarang tersebut telah tampil mewarnai jagat kesusasteraan Indonesia. Harapan serupa juga layak disematkan pada Tituk dengan karya perdananya ini. Jadi, terlepas dari capaian-capaian estetik-literernya, cerpen-cerpen Tituk tetap layak diapresiasi sebagai sebuah karya sastra yang kelak bermanfaat bagi kita.

II

Dalam karya sastra, apapun genre-nya, sesungguhnya menyimpan gagasan estetik dan budaya yang jumlahnya tidak sedikit. Gagasan tersebut sesungguhnya tidak hanya terhenti pada fungsinya yang reflektif atau ekspresif, melainkan juga berfungsi normatif, yakni sebagai suatu kekuatan yang mampu menciptakan sebuah ruang yang di dalamnya kita dapat bermain dan bergerak ke segala arah. Jadi, karya sastra memang merupakan, pinjam istilah Prof. Dr. Suminto A. Sayuti, “rumah hidup” bagi kita. Mengapa demikian?

Sebab, secara kultural, kita berumah di dalam “bahasa” (karya sastra merupakan bagian dari bahasa bukan?). Kehidupan kita sehari-hari menjadi penuh dan lengkap lantaran kita menciptakan, memiliki, dan memanfaatkan bahasa. Bagi kita, cerpen-cerpen Tituk merupakan bagian dari “rumah hidup” kita. Kita ibaratkan saja “sebuah tungku”, ia kelak memberikan kehangatan hidup, sekaligus mematangkan karakter kita. Saya percaya bahwa karya sastra memiliki kemampuan untuk mematangkan karakter kita sebagai manusia.

Dalam salah satu cerpennya “Hati Nuning”, Tituk menyodorkan kisah perempuan bernama Nuning yang disenangi oleh temannya Faruk. Pembaca yang mengikuti kisah tersebut menduga bahwa Nuning akan jatuh cinta pada Faruk. Ternyata, pengarang cukup cerdas dengan kenyataan bahwa Nuning tidak mencintai Faruk dengan cara tidak membalas surat-surat Faruk yang dikirimkan kepadanya. Di sini, kita belajar tentang karakter kesetiaan seorang perempuan pada apa yang diyakininya yakni cinta pertama pada lelaki misterius (bernama Widi); meskipun itu terlihat melankolis!

Cerpen Tituk lainnya, “Rindu” juga mengisahkan tentang keteguhan hati seorang perempuan yang sedang bertugas sebagai guru di wilayah terpencil. Dalam masa-masa perjuangannya itu, perempuan yang disapa dengan nama sapaan “Bu Guru” itu ternyata menyimpan rindu dendam kepada seorang kekasihnya, Kak Fatih. Di sini, lagi-lagi kita belajar tentang karakter seorang perempuan (baca: guru) yang kuat dan tegar menghadapi lika-likunya kehidupan. Apakah ini merupakan pengalaman pribadi sang penulis? Mungkin saja begitu.

III

Saya pribadi, seusai membaca cerpen-cerpen Tituk merasakan adanya “pencerahan” yang unik dan khas. Pasalnya, dari cerpen-cerpen tersebut kita dapati hikmah yang luar biasa bagi kehidupan kita. Entah karena penulis berlatar belakang guru atau lulusan pondok pesantren, nilai-nilai/amanat yang bijak dapat dengan mudah kita petik dari setiap hasil goresan penanya. Cerpen-cerpen Tituk berangkat dan bermuara dari kehidupan sehari-hari sehingga mudah dicerna dan diapresiasi oleh siapapun!

Sementara itu, yang tak boleh dilupakan, cerpen-cerpen Tituk kelak memberikan kehangatan hidup, sekaligus mematangkan karakter kita yang selama ini masih “setengah matang”. Untuk itu, harapan saya, Tituk dapat belajar lebih giat untuk terus menulis dan menghasilkan karya-karya kreatif yang lebih baik di masa-masa mendatang. Sebagai masukan, ada dua hal yang saya sampaikan di sini. Pertama, unsur penokohan/perwatakan masih terlihat “hitam-putih” dan unsur suspense (keterkejutan) perlu dimuncul dalam karya-karya mendatang. Dan kedua, perlu diberikan catatan kaki untuk diksi/kosakata yang berasal dari bahasa Jawa, misalnya, semanak (hal. 111), thole (hal. 111), dan mbecak (hal. 113).

Selamat dan teruslah menulis!!!

Kampus 2 UAD: 3 Januari 2012

Sudaryanto, PBSI FKIP UAD Yogyakarta

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan