-->

Peristiwa Toggle

Cak Nun Usulkan “Buku Babon” Gus Dur

SURABAYA — Budayawan Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) mengusulkan kepada PBNU untuk menyusun “buku babon” atau buku induk tentang tokoh NU dan mantan Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) secara lengkap.

“Bukan buku putih, tapi buku tentang Gus Dur yang berisi fakta-fakta yang lengkap sejak Gus Dur lahir hingga wafat dengan melibatkan banyak kalangan atau tokoh agar tidak ada rumor atau kultus tentang Gus Dur,” kata teman dekat Gus Dur itu di Surabaya, Selasa, sebagaimana diberitakan Kompas, 23 Januari 2013.

Ia mengemukakan hal itu saat menjadi pembicara dalam acara bertajuk “A Tribute to Martin Luther King dan Gus Dur: Warisan Pluralisme, Keanekaragaman, dan Demokrasi” yang digelar Konsulat Jenderal Amerika Serikat di Surabaya.

Dalam acara yang juga menampilkan Dubes AS untuk Indonesia Scot Marciel dan putri Gus Dur yakni Alissa Wahid sebagai pembicara itu, ia mengusulkan masyarakat Indonesia, terutama PBNU, untuk menyusun buku tentang Gus Dur dengan melibatkan pandangan tokoh Muslim, Kristen, Kong Hu Cu, dan sebagainya.

“Intinya, buku itu berbicara fakta-fakta tentang Gus Dur. Saya usulkan mulai dari nasab (garis keturunan) Gus Dur, peta perjalanan keilmuan, posisi sebagai putra kiai hingga menjadi kiai, fakta menengahi pertentangan politik dan agama dengan mendirikan PKB, dan pemakzulan,” katanya.

Ia mencontohkan perjalanan dari putra kiai hingga menjadi kiai itu antara lain sejarah tahun 1950-1960 ssat studi di Mesir dan Baghdad, sejarah 1970-1980 saat menjadi sekretaris di Pesantren Tebuireng, dan sejarah 1980-an saat Gus Dur mulai aktif menulis.

Selanjutnya, sejarah 1990-an saat memimpin Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), sejarah 2000-an saat menengahi pertentangan politik dan agama dengan mendirikan PKB untuk kalangan NU, serta tahun 2001 saat dimakzulkan sebagai presiden hingga wafat pada tahun 2009.

“Fakta-fakta di seputar pemakzulan itu penting agar alasan dibalik itu menjadi jelas dan bukan rumor lagi, bahkan fakta itu juga penting untuk menunjukkan apakah Gus Dur memang bersalah hingga dimakzulkan atau ada kepentingan politis,” katanya.

Hal yang juga tak kalah penting adalah humor Gus Dur dalam berbagai hal. “Misalnya saat Gus Dur studi di Mesir, beliau pintar memasak. Saat membuat sambal di Mesir itu, Gus Dur pakai kaki, karena di sana nggak ada uleg-uleg (alat penghalus sambal),” katanya.

Selain itu, Cak Nun juga siap memberi masukan untuk buku itu. “Saya yang mengajak Gus Dur meninggalkan istana. Saya katakan, Gus sebaiknya tinggalkan saja istana daripada bertempat di istana penuh setan akan lebih baik kembali ke istana rakyat di Ciganjur,” katanya, tersenyum.

Dalam acara itu, sejumlah tokoh lintas agama memberikan testimoni tentang pengalaman bersama Gus Dur. “Saya terharu, karena Gus Dur mencabut Inpres 14/1967 tentang Agama, Kepercayaan, dan Adat Istiadat China, bahkan beliau menggelar perayaan Imlek yang pertama hingga dua kali,” kata tokoh Majelis Tinggi Agama Kong Hu Cu Indonesia (Matakin) Surabaya Gatot Seger Santoso.

Sementara itu, Sekretaris PW Muhammadiyah Jatim H Nadjib Hamid mengatakan buku tentang Gus Dur juga harus berbicara sisi kelebihan dan  kekurangan dari Gus Dur.

“Misalnya, aksi massa pendukung Gus Dur yang merugikan kami, karena mereka merusak sejumlah sekolah milik Perguruan Muhammadiyah saat Gus Dur turun,” katanya.

Atau, kata peserta lain yang hadir dalam acara itu, Gus Dur itu tergolong sukses dalam menggiring TNI ke barak, tapi kebijakan hutan rakyat telah membuat hutan Indonesia sekarang habis, meski upaya reboisasi sekarang juga sudah mulai ada.

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan