-->

Kronik Toggle

Cerita Rakyat Perlu Dibukukan

JAKARTA – Ratusan cerita rakyat yang ada hanya diceritakan dari mulut ke mulut. Untuk itu, diperlukan gebrakan baru dengan menuliskannya dalam  buku sehingga cerita-cerita itu bisa didokumentasikan dan eksis di masa mendatang.

“Dengan ratusan suku bangsa tentunya ada ada ratusan cerita di masing-masing suku. Sayangnya cerita-cerita bagus itu hanya diceritakan. Perlu digiatkan dalam bentuk tulisan,” tutur Elitua Simarmata, staf khusus Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Bidang Ekonomi Kreatif di Jakarta, Rabu (5/12/2012).

Dengan tidak dicatat, cerita-cerita akan musnah seiring dengan perkembangan jaman. Apalagi sampai sekarang tidak banyak sekolah yg mengajarkan. Dengan ditulis dalam buku akan lebih mempermudah mendalaminya.

“Banyak buku cerita fiksi maupun non fiksi bisa menjadi best seller hingga akhirnya  dipakai bahan film, menginspirasi pembuatan lagu, komik. Ini menjadi kelebihannya serta bisa menambahkan perkembangan teknologi yang ada,” katanya.

Seiring dengan banyaknya komunitas penulis, mestinya potensi tulisan dalam bentuk fiksi maupun non fiksi jauh lebih banyak. Apalagi jumlah penduduk di bawah 30 tahun lebih 60 persen.

*) Tribunnews, 6 Desember 2012

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan