-->

Kronik Toggle

Seabad Pabrik Gula Ngadiredjo Luncurkan Buku

Surabaya – Pabrik Gula (PG) Ngadiredjo Kediri, milik PT Perkebunan Nusantara X (Persero) pada musim giling tahun ini mampu mencatat tingkat rendemen (kadar gula dalam tebu) tertinggi di lingkungan BUMN.

Dalam jajaran lima besar PG dengan rendemen terbaik di lingkungan BUMN, PTPN X (Persero) menempatkan tiga PG miliknya, yaitu PG Ngadiredjo, PG Modjopanggoong, dan PG Pesantren Baru.

Memulai giling pada 3 Mei 2012, produksi gula PG Ngadiredjo per 15 September 2012 mencapai 63.325 ton dengan jumlah tebu yang digiling mencapai 751.527 ton.

Akhir giling PG ini diprediksi pada bulan November mendatang. Tahun lalu, laba PG Ngadiredjo mencapai Rp 111,26 miliar dan tahun ini ditargetkan menembus Rp 126 miliar.

Keberhasilan PG Ngadiredjo berkat penerapan best agricultural pratices secara konsisten. “Peningkatan kinerjanya cukup signifikan, dalam 15 hari terakhir ini rendemen terus berada di atas 10 persen. Total rata-rata mulai awal giling sampai sekarang mencapai 8,69 persen,” jelas Dirut PTPN X Subiyono di sela-sela peringatan 100 tahun PG Ngadiredjo di Kediri, Selasa (9/10/2012).

PG Ngadiredjo hari ini memperingati 100 tahun pendirian pabrik dengan meresmikan Monumen Tebu Mas dan meluncurkan buku “Seabad Pabrik Gula Ngadiredjo: Menepis Keraguan, Menggapai Keberhasilan”. PG Ngadiredjo didirikan oleh perusahaan swasta Belanda, NV Handels Vereeniging Amsterdam (NV HVA) pada 1912. Pabrik ini resmi dikelola oleh PTPN X pada 1996.

Di masa mendatang, PG Ngadiredjo menyadari sepenuhnya bahwa tantangan yang dihadapi akan semakin berat. Karena itulah, PG Ngadiredjo telah bersiap menjawab tantangan dengan serangkaian perencanaan.

Salah satu contohnya adalah mulai menggarap program co-generation sebagai bagian dari upaya efisiensi sekaligus mengoptimalkan diversifikasi. PTPN X (Persero) menyadari bahwa paradigma pabrik gula harus diubah dengan tak lagi menjadi pabrik yang hanya menghasilkan gula saja, melainkan harus bertransformasi menjadi industri berbasis tebu (sugarcane based industry) secara komprehensif.

Program co-generation dilakukan dengan mengolah ampas menjadi sumber energi listrik yang bisa dipasarkan secara komersial. Program ini sudah mulai dirintis sejak 2011 dan diharapkan bisa resmi memproduksi produksi listrik untuk keperluan komersial pada tahun mendatang.

Dengan penerapan program ini, PG Ngadiredjo bisa mengurangi biaya operasional sekaligus memperbanyak sumber pendapatan pabrik.

“Kelebihan tenaga listrik yang dihasilkan PG Ngadiredjo ke depan bisa dijual. Memang jumlahnya tidak banyak,” ujar Subiyono.

Selain di PG Ngadiredjo, program co-generation juga dilaksanakan di PG Pesantren Baru yang juga milik PTPN X (Persero).

Subiyono menambahkan, PTPN X (Persero) kini memang terus mendorong program diversifikasi. Selain dengan co-generation untuk memporoduksi listrik, perusahaan pelat merah itu juga tengah merampungkan pabrik bioetanol berkapasitas 30.000 kiloliter dengan investasi Rp 467,79 miliar di PG Gempolkrep, Mojokerto. Bioetanol tersebut diproduksi dengan bahan baku tetes tebu yang akan disuplai dari PG-PG milik PTPN X.

(gik/bdh)

*)Detik, 9 Oktober 2012

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan