-->

Kronik Toggle

Sang Hyang Kamahayanikan Award bagi SH Mintardja

YOGYAKARTA- Penulis cerita silat berlatar Kerajaan Mataram dan Sultan Agung, Singgih Hadi Mintardja mendapat anugerah Sang Hyang Kamahayanikan 2012. Penghargaan diberikan pada malam penutupan Borobudur Writers & Cultural Festival (BWCF) 2012 di Sheraton Hotel, Yogyakarta, Rabu malam (31/10). Penghargaan diterima putra SH Mintardja, Andang Suprihadi P.

Penghargaan ini adalah ciri khas BWCF yang baru pertama kali digelar di Borobudur,Magelang dan Yogyakarta 29-31 Oktober 2012. Festival bertajuk “Musyawarah Agung Penulis Cerita Silat & Sejarah Nusantara” ini memilih SH Mintardja sebagai penghargaan  perhatiannya pada sejarah Nusantara.

Karya-karya SH Mintardja dianggap unik dan merangsang minat pembacanya pada sejarah. Melalui karya seperti Nagasasra dan Sabuk Inten serta Api di Bukit Menoreh, para pembacanya dapat menghayati Mataram sebagai sejarah yang hidup.

Mudji Sutrisno SJ, anggota tim penganugerahan, menyatakan, SH Mintardja paling bisa meramu sastra dan data sejarah. “Itu memukau sehingga pada suatu masa jadi mimpi dan imajinasi begitu banyak pembacanya. Dari begitu banyak yang ia tulis, menjadi pintu masuk banyak orang untuk belajar dan mencintai sejarah Mataram,” katanya.

Pada masa SH Mintardja, menurut Mudji, publik dirawat oleh narasi kepahlawanan dan kebajikan lewat karyanya. “Itu dilanjutkan penulis seperti Arswendo Atmowiloto dan Seno Gumira Ajidarma. Namun, para sastrawan lebih muda belum melanjutkan pencapaian itu,” ungkapnya.

SH Mintardja yang meninggal pada 1999 menulis lebih dari 400 buku. Api di Bukit Menoreh yang terdiri atas 396 buku menjadi karya terpanjang sastrawan yang dilahirkan pada 1933 itu. Karyanya banyak dimuat di surat kabar sebagai cerita bersambung, terutama di harian Kedaulatan Rakyat dan harian Bernas di Yogyakarta.

Nama Sang Hyang Kamahayanikan merupakan judul sebuah kitab Budhis yang diperkirakan ditulis pada abad ke-14 di Jawa Timur. Kitab yang berisi tata cara ibadah penganut Buddha Tantrayana itu merupakan rujukan penting untuk memahami Candi Borobudur. Borobudur sebagai Candi Mahayana Tantrayana adalah juga simbol perdaban kebudayaan Nusantara yang agung.

Sementara piala Sang Hyang Kamahayanikan Award dirancang oleh eniman pahat Borobudur bernama ismanto. Dia adalah pematung yang berkarya di sekitar desa-desa Borobudur.(/sa)

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan