-->

Kronik Toggle

Relawan Bom Bali Luncurkan Buku Biografi

Haji Agus Bambang Priyanto, salah satu relawan pada tragedi Bom Bali I meluncurkan buku biografi “Keikhlasan Menuntun Langkahku”, di Kuta, Badung, Selasa.

“Sekarang zaman materialistis, segala sesuatu diukur dengan uang. Untuk ke depan, jika dalam melakukan misi kemanusiaan selalu berpikir materialistis, siapa yang akan melakukan pekerjaan seperti itu? Di buku inilah kami ingin menginspirasi anak-anak muda kita,” kata pria kelahiran Kuta, 20 April 1960 itu.

Menjelang peringatan sepuluh tahun Tragedi Bom Bali I ini, ia berharap akan ada Haji Bambang-Haji Bambang lainnya, sehingga pada saat negara menghadapi tragedi atau bencana, ada sosok yang tampil melakukan pertolongan secara ikhlas dan sukarela.

Pada buku setebal 228 halaman itu, diulas kehidupan Haji Bambang mulai dari perjalanannya sejak dalam kandungan, hingga akhirnya setelah menjadi relawan Bom Bali I dan melakukan berbagai misi kemanusiaan di Tanah Air, ia mendapat kesempatan berbicara di depan forum Perserikatan Bangsa-Bangsa.

“Saya berbicara di forum PBB atas undangan Sekjen PBB Ban Ki-moon,” katanya.

Sebagai relawan, sebagian besar halaman buku memang mengisahkan Haji Bambang ketika 11 jam melakukan proses evakuasi korban dan berpuluh-puluh hari bersentuhan dengan tim investigasi.

“Waktu itu, saya diberikan kepercayaan oleh Karo Humas Pemprov Bali Pak Nurjaya untuk memandu tamu-tamu VIP dari Jakarta maupun berbagai negara untuk menjelaskan tragedi itu pada mereka yang mendatangi monumen peringatan tragedi (Ground Zero) di Kuta,” ucapnya.

Di tempat itu, dirinya juga banyak memberi pengarahan pada masyarakat yang datang bersimpati dan berdoa.

Ia mengungkapkan ketika terjadi bom meledak di Sari Club dan Paddy`s Club pada malam 12 Oktober 2002, ia bisa cepat ke lokasi karena belum tertidur.

“Saya sedang membaca koran di rumah, di kawasan Kuta Permai, jaraknya 900 meter dari tempat kejadian. Dalam keadaan masih terjaga itulah yang menjadikan saya cepat ke lokasi untuk mencari tahu apa yang terjadi, awalnya saya kira bunyi ledakan berasal dari pesawat yang jatuh,” katanya.

Sampai saat ini, lanjut dia, semua peralatan yang digunakan untuk mengevakuasi korban seperti senter, HT, dan topi masih disimpan dengan rapi.

“Keuntungan dari penjualan buku ini sebanyak 50 persen akan saya sumbangkan kepada keluarga korban Bom Bali dan 50 persen sisanya itu disumbangkan untuk PMI Bali,” ujarnya sembari menyebut cetakan pertama sebanyak 1.000 eksemplar.

Di PMI Bali, lanjut dia, akan dibentuk sekelompok relawan yang apabila terjadi bencana, tim ini siap diterjunkan kapan saja untuk melakukan operasi tanggap darurat bencana.

“Satu regu 12 orang, dan akan dibentuk dua regu,” katanya.

*)Antara, 9 Oktober 2012

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan