-->

Kronik Toggle

Pegawai Perpustakaan Kaku, Animo Membaca Rendah

Animo membaca semakin rendah, karena masih bayak perpustakaan tak bersahabat dengan anak-anak. Kesan perpustakaan yang terlalu formal dan layanan pegawai perpustakaan yang terkesan kaku, membuat anak-anak jadi semakin enggan keperpustakaan.

Hal itu diungkapkan oleh Maudy Koesnadi, artis sekaligus masyarakat pecinta membaca saat dalam Gerakan Nasional Indonesia Membaca di Gramedia Expo Surbaya, Rabu (3/10/2012). Menurut Maudy, perpustakaan jangan hanya menjadi tempat orang dewasa mencari literatur ataupun mencari bacaan yang serius, sehingga pustakawannya pun banyak yang bertampang masam.

“Dulu waktu kecil saya suka membaca apa saja, tetapi karena di rumah tak ada bacaan untuk anak sekecil saya, yang waktu itu masih berusia 8 tahun, maka saya diajak keperpustakaan. Tetapi di perpustakaan saya malah bosan karena suasananya tak enjoy buat anak seusia saya,” ujar Maudy.

Tak hanya Maudy Koesnadi yang hadir sebagai pembicara, dalam seminar ini juga hadir Sri Sularsi, Kepala Perpustakaan Nasional, Suko Widodo, Dosen Fisip Unair dan wakil Gubenur Jatim, Saifullah Yusuf. Sri Sularsih mengakui saat ini pihaknya sedang gencar menggalakan cinta membaca di sekolah dan dipedesaan. Namun kendalanya pihak sekolah dan desa kekurangan tenaga pustakawan yang handal, sehingga banyak bantuan buku hanya tersimpan di perpustakaan sekolah dan kantor desa.

“Untuk itu kami mulai gerakan membaca dari sekolah dan desa yang lebih riil. Dimana pihak sekolah dan desa sendiri sebagai penggerak gemar membaca. Sehingga bisa tercipta generasi yang suka membaca,” tandasnya.

*) Beritajatim, 3 Oktober 2012

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan