-->

Kronik Toggle

Negara Galau Karena Presiden

JAKARTA – Republik Indonesia mengalami kegalauan. Setidaknya itulah gambaran negara kita menurut Bambang Soesatyo yang meluncurkan buku “Republik Galau” di kantor YLBHI, Jakarta, Minggu (21/10/2012).

Politikus Golkar ini mengaku memiliki tradisi menulis buku. Sejak menjadi anggota DPR, Bambang mengatakan setiap tahun ia mewajibkan diri untuk menulis reportase berdasarkan pengamatan dari berbagai kejadian yang berlangsung di Indonesia.

Anggota Komisi III ini mengingatkan bahwa pada pertengahan tahun 2012 terbit publikasi Indeks Negara gagal, yang menempatkan Indonesia berada di posisi ke-63 dari 177 negara di dunia. Dari peringkat tersebut Indonesia lalu berada dalam posisi hati-hati (warning).

“Buku ini merupakan bentuk kegelisahan. Gelisah ketika ingin berupaya memberikan sesuatu kepada bangsa dan masyarakat di satu sisi, seiring kian menguatnya kesadaran bahwa semua yang saya berikan harus melalui proses memamah biak pemikiran,” kata Bambang.

Bambang mengaku melihat kegalauan dari semua peristiwa yang terjadi di Indonesia. Ia menilai tidak ada kehadiran pemimpin di Indonesia. “Semua persoalan diselesaikan dengan persoalan-persoalan baru. Selesai persoalan baru, muncul persoalan baru, begitu seterusnya,” katanya.

Akhirnya, Bambang menduga bahwa ada manajemen menyelesaikan persoalan dengan memunculkan persoalan baru. Ketika ditanyakan mengapa kegalauan itu akibat kesalahan presiden, Bambang menegaskan Indonesia dipimpin oleh satu orang.

“Bukan beragam orang. Sehingga yang bertanggungjawab adalah pimpinan kita itu. Dan persoalan besar adalah masalah kepemimpinan. Jadi sekali lagi, buku ini hanya mengingatkan pemimpin kita untuk melakukan perubahan-perubahan spektakuler dalam memimpin negara ini,” ungkapnya.

Ia pun mencontohkan kasus adalah pembiaran keributan antara KPK dengan Kepolisian. Baru kemudian Presiden SBY turun tangan setelah carut-marut.

Ketika hendak meluncurkan buku tersebut, Bambang mengakui adanya keberatan dari Ketua Umum Golkar Aburizal Bakrie. Namun setelah mendapatkan penjelasan Bambang, Ical pun luluh.

“Setelah saya menyatakan bahwa ini pemikiran pribadi dan saya sebagai anggota DPR, kemudian beliau mempersilahkan,” tuturnya.

Bambang mengatakan tujuan dari “Republik Galau” mewakili publik yang galau. Ia pun menceritakan dua buku sebelumnya yang ia tulis juga mewakili kegelisahan rakyat.

“Buku pertama saya adalah, berjudul Skandal Gila Bank Century, buku kedua bertepatan dua tahun periode SBY-Boediono judulnya Perang-Perangan Melawan Korupsi, dan sekarang tiga tahun periode SBY-Boediono saya mengelurakan buku Republik Galau. Dan itu mewakili perasaan kita semua,” tukasnya.

*)Tribunnews, 21 Oktober 2012

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan