-->

Kronik Toggle

Naskah Kuno Keraton Cirebon Akan Didigitalisasi

Cirebon: Naskah kuno di Keraton Kasepuhan akan didigitalisasi, sehingga nantinya masyarakat pun bisa mengetahui secara luas naskah-naskah kuno tersebut.

Sultan Sepuh XIV PRA Arif Natadiningrat mengatakan, “Naskah-naskah kuno akan segera direvitalisasi,” kata Arif pada Senin, 29 Oktober 2012.

Arif menjelaskan, Keraton Kasepuhan memiliki sedikitnya 150 naskah kuno. Naskah kuno tertua berasal dari abad 16. Naskah kuno itu tadinya disimpan dalam sebuah peti. Tapi sekarang sudah disimpan dalam sebuah lemari kaca.

“Bahan kertasnya bermacam-macam,” kata Arif. “Ada yang terbuat dari daun lontar, daun daluang dan kertas Eropa.”

Untuk kepentingan ilmu pengetahuan, naskah-naskah kuno itu akan segera direvitalisasi. “Karena isi naskah kuno itu bermacam-macam. Mulai dari pengobatan, agama, dan banyak lagi lainnya,” ujar dia.

Tahap pertama yang akan dilakukan terhadap 150 naskah kuno tersebut adalah mengamankan dan mengkonservasi naskah-naskah kuno. “Selanjutnya akan didigitalisasi,” katanya. Pada tahap inilah masyarakat luas bisa mengakses langsung naskah-naskah kuno yang ada di Keraton Kasepuhan.

Tahap selanjutnya adalah menerjemahkan tulisan-tulisan dalam naskah ke bahasa latin. “Karena bahasa yang dipakai dalam naskah kuno bermacam-macam. Ada Jawa Kuno dan lainnya,” ujarnya.

Untuk revitalisasi ratusan naskah kuno ini, menurut Arif, dibutuhkan berbagai ahli. Mulai ahli konservasi, ahli obyek visual untuk tahap digitalisasi, ahli pilologi untuk ahli bahasa, dan penerjemah.

Saat ditanyakan kapan revitalisasi naskah-naskah kuno dilakukan, Arif mengungkapkan, bersamaan dengan revitalisasi 8 bangunan kuno yang ada di Cirebon. Ke delapannya yaitu Keraton Kasepuhan, Keraton Kanoman, Kacirebonan, Keprabonan, Astana Gunung Sembung, Gua Sunyaragi, Masjid Agung Sang Cipta Rasa, dan Lawang Sanga.

“Jadi tidak hanya bangunan yang direvitalisasi, tapi juga naskah kuno, benda pusaka, dan lainnya,” kata Arif.

Masterplan revitalisasi, Arif berharao akhir November sudah bisa selesai. Dana untuk pembuatan masterplan sebesar Rp 2 miliar. Sedangkan untuk revitalisasi dana awalnya dibutuhkan sekitar Rp 80 miliar. Rencananya dana ini akan ditanggung bersama antara pemerintah pusat, provinsi, dan kota.

Dadan Wildan, penulis buku Sejarah Gunung Jati, meminta agar naskah-naskah kuno yang ada di sejunlah keraton di Cirebon bisa direvitalisasi dan diperbaiki. “Daripada ke Belanda untuk mempelajari naskah kuno, lebih baik di negara sendiri,” katanya.

Dia menambahkan, naskah-naskah kuno itu merupakan aset yang sangat berharga dari perjalanan sejarah dan ilmu pengetahuan.

*) Tempo, 30 Oktober 2012

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan