-->

Kronik Toggle

Ibu Rumah Tangga Luncurkan Buku Pantun Nakal

Yogyakarta: Seorang ibu rumah tangga, Adriana, 54 tahun, meluncurkan antologi pantun bertajuk Terasi Rasa Duren di ruang seminar Taman Budaya Yogyakarta (TBY), Sabtu, 29 September 2012. Dalam peluncuran itu, Adriana pun membuat para penonton terbahak saat membacakan sejumlah pantun nakal dan vulgar yang dicomotnya dari antologi yang diterbitkan penerbit Madah Yogyakarta.

Dalam antologi setebal 97 halaman itu terdapat 193 pantun yang dibuat Adriana sejak 2007-2012. Misalnya saja ketika pantun tanpa judul dibacakan, “Ada ketupat dalam rantang, lalu disenggol anak centil. Apa yang abang dapat dalam kutang, ada tombol yang disebut pentil.”

Tak hanya itu ada pula bunyi pantun, “Buah Kemiri dimakan kodok, kodoknya mabuk diam menangis. Paling enak kalau dicipok, sama lelaki yang bibirnya berkumis.”

Tema korupsi pun tak ketinggalan diselipkan dalam pantun Adriana. Misalnya, “Bajing loncat di atas pohon pala, akar kuat di atas ketela. Korupsi makin merajalela, si pemberantas pun ikut-ikutan pula,” kata ibu tiga anak itu.

Adriana menuturkan, meski belakangan di berbagai acara televisi sering terselip pantun komedi, hal itu masih hanya berhenti pada konsep pantun dua baris serta tak berkembang di tataran riil budaya lainnya.

Untuk menggeliatkan dunia pantun dalam jagat sastra Indonesia, setidaknya dari Yogyakarta, peluncuran karya Adriana itu dikemas dalam acara Bincang-bincang Sastra edisi ke-84 dengan melibatkan Studio Pertunjukan Sastra (SPS) sebagai penggagas.

Sekretaris SPS Latief Nugraha menuturkan pantun merupakan tradisi sastra yang lekat degan kebudayaan nusantara. Sayangnya, kini, jumlah penulis pantun yang produktif dan serius bisa dihitung dengan jari.

Sastra dengan ciri tipografi tiap bait yang terdiri dari empat baris dan bersajak a-b-a-b itu paling kerap digunakan untuk mengungkapkan sindiran. Hal ini merangsang manusia dengan mendidik sifat kritis.

Sedangkan pembicara dalam acara bincang-bincang itu, pegiat sastra Sutrisman Eka Wardana, menuturkan kekuatan pantun Adriana bukan karena berasal dari tema nakal yang diusung tapi kejelian penggunaan bahasa.

*)Tempo.co, 1 Oktober 2012

2 Comments

Dendi Kadarsan - 03. Okt, 2012 -

Mau beli buku ‘Terasi Rasa Duren’ nih….

oesman doblank - 23. Okt, 2012 -

Kalo hitung waktu dari meNIT
Hitung koruptor dari nyusutnya anggaRAN
Waktu ngeliat ibu ibu tampil geNIT
Tentu aja bikin si otong jadi penasaRAN

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan