-->

Kronik Toggle

Fadli Zon Luncurkan Buku Kisah Idris Sardi

JAKARTA – Politisi Partai Gerindra, Fadli Zon akan meluncurkan sebuah buku yang berkisah mengenai perjalanan hidup maestro biola Indonesia, Idris Sardi.  Buku bertajuk“IDRIS SARDI, Perjalanan Maestro Biola Indonesia” adalah hasil wawancara dengan Idris Sardi dan riset terhadap sejumlah dokumen tulisan dan foto sekitar setahun belakangan.

Peluncuran buku akan dihelat di Hotel Kartika Chandra malam nanti pukul 19.30 WIB. Karya tulis ini menceritakan perjalanan seorang maestro biola, komponis, dan ilustrator musik Indonesia yang luar biasa bernama Idris Sardi. Buku juga dilengkapi CD musik perjalanan Idris Sardi yang merupakan sedikit cuplikan karya.

Idris Sardi lahir pada Selasa, 7 Juni 1938, di rumah sakit Budi Kemuliaan, Batavia (Jakarta). Ia mewarisi darah seni dari kedua orang tuanya. Ayahnya, Mas Sardi, adalah pemusik yang bisa memainkan lagu klasik maupun jazz, serta menguasai berbagai alat musik, antara lain saksofon, klarinet dan piano. Mas Sardi tercatat sebagai illustrator musik film pertama di Hindia Belanda tahun 1930-an. Sedangkan Ibunya, Hadidjah, adalah pemain film terkenal pada era 1936.

Perjalanan musik Idris Sardi berawal pada usia 5 tahun. Idris harus bangun pagi pukul 05.00 untuk mendengar dan menyaksikan ayahnya memberi contoh tangga nada dan nada panjang. Pada usia 7 tahun, untuk mengenal nada-nada, Idris mendapat tambahan teori musik dan piano. Di usia 9 tahun, barulah Idris secara resmi mulai memainkan biola. Ketika itu, Idris memakai biola ayahnya yang agak besar bagi lengan dan jari-jarinya. Mas Sardi membimbing Idris berlatih dengan disiplin ilmu musik klasik dan disiplin waktu yang ketat.

Tak ada yang menyangka, ternyata masa kanak-kanak Idris Sardi jauh dari kata bahagia. Masa kecil seperti di lumpur becek, begitulah Idris sering menjuluki sendiri fase hidup masa kecilnya yang berat.

Aneh memang, keras dan tegasnya sang ayah itu hanya ditujukan padanya seorang, tidak pada adik-adiknya. Pada usia 10 tahun, Idris diterima sebagai mahasiswa luar biasa di Sekolah Musik di Yogyakarta. Nikolai Varfolomeyev (pimpinan Sekolah Musik) sudah jatuh cinta tanpa ampun. Perjalanan Idris Sardi menimba ilmu di Yogyakarta terbentang dari akhir tahun 1949-1953.

Selama di Yogyakarta, Idris tinggal di Kampung Musikanan, di sebelah kanan Siti Hinggil, bagian dari halaman Keraton Yogyakarta. Setiap hari minggu pagi, Idris membuka siaran RRI Yogyakarta. Ia juga bermain di Orkes Simfoni Sekolah Musik Yogyakarta. Humoresque salah satu repertoar yang pernah ia mainkan disana.

Pada 23 Oktober 1953 (tepat 59 tahun lalu), ayah Idris Sardi meninggal dunia. Sebagai anak sulung, beban ekonomi keluarga berpindah ke pundaknya. Jalan hidupnya berubah. Yogyakarta dan mimpi sekolah di konservatorium Eropa ditinggalkannya. Idris membuat lagu pertamanya Gundah Gulana yang mengalir begitu saja untuk mengenang kematian sang ayah, Mas Sardi.

Pada usia 15 itu juga, Idris menjadi concertmaster di Orkes Studio Djakarta (OSD) pimpinan Saiful Bahri.

“Ketika itu, Idris bukan hanya concertmaster termuda di Indonesia, melainkan juga di dunia” kata Suka Hardjana.

Dua kali seminggu, Idris ke Yayasan Pendidikan Musik (YPM) mendapatkan bimbingan dari Hendriek Tordasi. Pada akhir 1953, Idris beralih memainkan musik klasik ke musik khas Nusantara. Akhir tahun 1959, Idris Sardi beralih dari dunia musik biola serius idolisme Jascha Heifetz ke komersialisasi Helmut Zacharias. Pada 1962, Idris bersama Bing Slamet dan kawan-kawan membentuk group band Eka Sapta.

Tak hanya muncul di acara-acara umum, Eka Sapta juga pernah bekerja sama dengan Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD) dan Korps Komando Angkatan Laut (KKO) untuk mendekatkan ABRI dengan rakyat dalam acara Malam Eka Sapta Non Stop Revue di berbagai kota di Sumatera dan Jawa. Masih di tahun 1962, Presiden Soekarno mengirim Idris sebagai salah satu musisi yang pergi ke Irian Barat, menjalankan Misi Kesenian Trikora III selama satu bulan.

Pada 1966, Idris menderita penyakit maag kronis. Ia pun tinggal bersama keluarga pejuang, Mr. Ahmad Soebardjo. Idris mendapatkan sentuhan kasih sayang. Idris kemudian menikah dengan Zerlita. Mereka mempunyai tiga anak: Santi Sardi, Lukman Sardi, dan Ajeng Sardi.
Perjalanan Idris Sardi menggarap musik film bermula pada 1953. Ketika itu Idris ikut sebagai pemain musik untuk film produksi Perfini (Perusahaan Film Nasional Indonesia) karya Usmar Ismail dengan ilustrator musik Tjok Sinsu dan Saiful Bahri. Film yang digarap antara lain Tamu Agung (1955), dan Tiga Dara (1956). Idris juga menjadi pemain musik berbagai film produksi Persari (Persatuan Artis Indonesia) pimpinan Djamaluddin Malik, dengan ilustrator Soepilin.

*)Tribunnews, 23 Oktober 2012

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan