-->

Kronik Toggle

Disability Corner Perpustakaan UI Menghilang

Depok – Universitas Indonesia baru saja memiliki Perpustakaan yang untuk ukuran perguruan tinggi di Indonesia cukup mewah.

Perputakaan yang memiliki 1,5 juta koleksi buku ditata dengan gaya modern dan dilengkapi fasilitas teknologi terkini. Setidaknya ada Online Public Access Catalog, akses internet, ruang belajar khusus, Mkiosk, bookdrop hingga book dispenser

Pembangunannya sempat mendapat kritik karena dinilai menghambur-hamburkan uang negara. Sejak dua tahun berdiri, perpustakaan yang bernama “The Crsytal of Knowledge” ternyata tak bisa lepas dari kontroversi.

“Kemarin waktu kami mau pakai ternyata disability corner sudah tidak ada,” ujar Leonella Tetriana, mahasiswa magang di Pusat Kajian Disabilitas (Puska) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia ketika dihubungi, Kamis 11 Oktober 2012.

Disability corner adalah ruangan khusus yang awalnya dialokasikan untuk penyandang cacat. Tapi ternyata sejak sebulan lalu, tempat khusus ini menghilang.
Leonella juga baru mengetahui ketika akan mengurus acara untuk penyandang cacat di bulan Desember. Rencananya, Puska akan menggelar acara serah terima printer braille di ruangan tersebut. Maka mereka pun mempersiapkan segala prosedurnya.

“Kami mau survei dulu,” ujar Leonella. Ternyata ketika ia menanyakan ke bagian informasi perpustakaan, staf di sana justru tidak tahu kalau ada ruangan untuk penyandang cacat. Puska pun menanyakan kembali ke pengelola gedung. “Ternyata sudah sejak sebulan lalu dialihfungsikan,” ujar Leonalla.

Situasi ini menurut trainer Puska, Jaka Ahmad, sangat mengecewakan. Sebab sebagai minoritas, penyandang cacat merasa diabaikan. “Saya sedih karena hak kami diambil, dimanapun minoritas sering diabaikan,” ujar Jaka yang juga seorang penyandang tunanetra.

Ia bersama rekan di Puska belum memutuskan langkah selanjutnya. “Kami akan minta keterangan dahulu dengan rektor mungkin nanti dapat ruang pengganti,” ujar dia.

Ketika Tempo menghubungi Kepala Perpustakaan UI, Luki Wijayanti, tidak ada keterangan resmi soal alih fungsi perpustakaan ini. “Saya hanya pemakai bukan pengelola gedung, jadi saya tidak punya otoritas,” kata Luki yang dihubungi terpisah.

Kepala Kantor Komunikasi UI, Siane Indriani juga menolak memberi keterangan lengkap. “Langsung saja ke wakil direktor, saya tidak berhak,” tulis dia dalam pesan singkat. Adapun Rektor Gumilar belum menjawab pesan singkat maupun sambungan telepon.

*)Tempo, 12 Oktober 2012

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan