-->

Kronik Toggle

Buku G30S/PKI Kalah Laku dari Buku Anak-Anak

SURABAYA- Peristiwa kelam pemberontakan G30S/PKI sudah berlalu 47 tahun silam. Tak ada lagi film ‘thriller documentary” G30S/PKI yang pada zaman Orde Baru lalu selalu tayang di TVRI setiap malam 30 September.

Toh, ingatan akan sejarah berdarah itu masih tersimpan dalam buku-buku sejarah. Ya, meski sejak era reformasi, tidak ada lagi pelajaran tentang G30S/PKI di sekolah-sekolah, namun koleksi buku-buku nya masih utuh.

Salah satunya di Perpustakaan Pemkot Surabaya di Jl.Rungkut Asri.
Kepala Perpustakaan dan Arsip Pemerintah Kota Surabaya, Arini Pakistyaningsih menegaskan, pihak nya memang masih menyimpan buku-buku seputar G30S/PKI.

“Buku-buku ini disimpan sebagai bukti sejarah bahwa kita pernah mengalami situasi itu. Saya kira ini penting sebagai bagian proses pembelajaran untuk meningkatkan nasionalisme,” tegas Arini saat ditemui di ruang kerjanya, Senin (1/10/2012).

Pejabat berjilbab ini tidak menyebut pasti jumlah bukunya. Dia hanya menegaskan bahwanya jumlahnya cukup banyak dari total 200 ribu buku di gedung perpustakaan milik Pemkot ini. Arini lantas menunjukkan dua buku. Satu berjudul “The Missing Link G30S (misteri Sjam Kamaruzzaman & biro chusus PKI)” karangan Agus Dwi Hartanto.

Buku satunya berjudul  “Gerakan 30 September 1965 (kesaksian Letkol (PNB) Heru Atmodjo)”, editornya Gordo Sembiring dan Harsono Sutedjo.

Ditanya apakah masih banyak warga yang berminat dengan buku-buku G30S PKI? Arini menegaskan masih ada cukup banyak warga yang menaruh minat. Biasanya mahasiswa jurusan sejarah yang memang mencari literatur. Juga peneliti.

“Kalau minatnya lumayan sedang. Ada tapi tidak terlalu banyak. Di sini yang paling banyak dicari buku anak-anak dan ketrampilan,” sambung mantan kepala Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Pemkot Surabaya ini.

Terlepas dari kebenaran sejarah G30S/PKI yang masih simpang siur, Arini menyebut tidak ada alasan untuk tidak membaca buku-buku nya.

“Terlepas dari itu, saya rasa teman-teman yang pinjam buku ini, kan bisa membandingkan. Bahwa ada buku yang isinya seperti ini dan itu. Dengan seperti itu, mereka akan cerdas dengan sendirinya,” sambung dia.

*)Tribunnews, 1 Oktober 2012

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan