-->

Peristiwa Toggle

Buku Erotis di Indonesia

21 Oktober 2012, Merdeka.com menurunkan serangkaian tulisan bertagar #novelerotis. Liputan ini mengulas rangkaian buku-buku beraroma erotis yang pernah ada di Indonesia dan menjadi fenomena. Berikut ini i:boekoe menyalin dan mengklipingnya.

Roman picisan, cerita singkat pengundang syahwat

Jika ditanya pada Anda manakah lebih penting, mengurusi korupsi atau pornografi? Jawaban pasti berbeda-beda, namun semua sepakat, kedua masalah itu sama-sama buruk dan berbahaya.

Tapi tak sadarkah kita, masalah pornografi ternyata jauh lebih berbahaya ketimbang korupsi. Masalah asusila memberikan efek langsung bagi mereka yang melihat, mendengar, sebab penyebarannya sangat masif. Masih ingat dengan video porno dilakukan oleh vokalis Noah (dulu Peterpan), Ariel dan sejumlah selebritas perempuan? Tayangan itu ditonton banyak orang termasuk remaja.

Bukan hanya video porno, cerita pendek esek-esek juga ramai-ramai dibaca oleh mereka masih ingusan. Penggambaran jelas dan alur cerita menggairahkan membuat mereka tidak memalingkan matanya.

Arus informasi deras dari internet semakin membuat remaja dijejali pornografi tak mampu mereka bendung. Ini menimbulkan budaya permisif di mana segala hal tak lagi memandang norma. Apalagi mereka tergolong belum mampu menahan hawa nafsu dan keingintahuan lebih lanjut. Pelampiasannya bermacam-macam. Mulai dari melakukan hubungan seksual dengan pacarnya, sexting atau mengirim pesan atau gambar cabul lewat media elektronik, hingga melakukan pemerkosaan, baik sendirian maupun beramai-ramai.

Dilansir dari harian Los Angeles Times (3/7/2012), satu dari empat remaja di Amerika pernah mengirimkan gambar telanjang mereka melalui sarana internet dan lebih dari setengahnya perempuan.

Cerita pendek erotis tak kalah bahayanya. Pekan ini, seorang remaja Malaysia mengaku dia dan banyak temannya suka membaca cerita porno diunduh dari sebuah laman asal Indonesia. Bagi generasi sekarang, internet berjasa memopulerkan kisah biru itu. Bahkan remaja bernama Rosli itu rela membayar Rp 53.400 untuk bisa mengunduh cerita panas itu.

Zaman dulu orang mengenal stensilan. Ini mengadopsi dari mesin stensil digunakan untuk mencetak dengan biaya murah namun berkualitas buruk. Saking parah mutunya, cetakan huruf dapat menempel di tangan. Keberadaan stensilan menambah daftar panjang pornografi di Indonesia. Dekade 1980-an banyak novel esek-esek murah meriah dijual dan mendapat pangsanya sendiri. Cerita cinta dewasa digambarkan begitu detil, alurnya kuat, membuat siapa pun membacanya seolah hadir menjadi pelaku.

Paling tersohor dari generasi stensilan yakni nama pengarang Enny Arrow. Dia begitu lihai memadukan bahan utama cerita dengan bumbu-bumbu lezat menggairahkan selera. Ungkapan dalam stensilannya vulgar, sengaja dikembangkan membangkitkan imajinasi liar pembacanya. Di sisi lain, ini seolah mewakili kenyataan soal kehidupan seks di tengah masyarakat negeri ini yang masih memberi label tabu bagi ranah biru itu.

Memasuki awal milenia, sastra Indonesia baru mengawali kebangkitan dengan larisnya Novel Saman karya pengarang muda Ayu Utami. Buku ini langsung kontroversial sebab mendobrak ketabuan dengan mendefinisikan pengalaman seksualitas perempuan. Banyak orang mengkritik tak lebih dari buku murahan yang melulu bicara ranjang, tapi tak sedikit yang menyebutnya gambaran kejujuran, polos, dan tidak pura-pura. Ditentang atau tidak, novel ini pun laris bak kacang goreng bahkan telah mengalami cetak 12 kali. Itu artinya sejak awal terbit, saban tahun buku ini masih diminati.

Kini, ratusan laman internet memuat kisah erotis siap disajikan di depan mata dan generasi di bawah Anda. Tak perlu ke toko buku, berburu ke tempat-tempat khusus. Dengan satu kali klik menggunakan jari, ribuan cerita bikin seluruh tubuh cenut-cenut sudah bisa dinikmati. Ada yang gratis, ada yang bayar. Semua tergantung pilihan. Namun pastinya, cerita pendek seperti ini bakal terus ada sepanjang manusia melakukan regenerasi.

3 Novelis ‘porno’ Indonesia

Profesi penyair dan novelis memang memerlukan insting yang kuat agar tulisannya dapat dideskripsikan oleh para pembaca. Novel-novel tersebut membuka imajinasi pembaca agar lebih menghidupkan bacaan-bacaan novel. Bahkan, Banyak novel-novel yang berbau percintaan khas anak-anak remaja. Tak dapat dipungkiri, novel berbau seks pun turut diciptakan untuk memenuhi koleksi bacaan para penikmatnya.

Terciptanya novel berbau seksualitas memang banyak digandrungi oleh kalangan remaja. Bahkan, pada tahun 1970-an, novel ini mampu membius pasar novel Indonesia. Penulis yang kerap menciptakan roman berbalut seks adalah Motinggo Busye yang bernama asli Bustami Djalid. Motinggo merupakan nama pena Bustami yang berasal dari Bahasa Minang.

Awal karier pria yang lahir di Kupangkota, Bandar Lampung, 21 November 1937 dalam dunia tulis menulis, dimulai ketika perwira Jepang Yamashita datang ke rumahnya memberi mesin ketik. Mesin itu akhirnya menjadi sahabat Motinggo untuk mencurahkan ide-idenya. Selain itu, persentuhannya dengan buku-buku sastra Balai Pustaka, telah menumbuhkan minatnya untuk terjun di dunia sastra.

Drama yang ditulisnya pun, Malam Jahanam (1958), mendapat hadiah pertama sayembara penulisan drama bagian kesenian departemen P & K tahun 1958 dan cerpennya berjudul Nasehat buat Anakku, mendapat hadiah majalah Sastra tahun 1962. Karya-karyanya banyak diterjemahkan ke bahasa asing, antara lain Bahasa Ceko, Inggris, Belanda, Prancis, Jerman, Korea, Jepang, dan Mandarin. Sebagai penyair, karya-karyanya masuk dalam antologi penyair Asia (1986) dan antologi penyair dunia (1990). Sepanjang hidupnya Motinggo telah menulis lebih dari 200 karya yang sampai saat ini masih tersimpan di Perpustakaan Kongres di Washington, Amerika Serikat.

Selain terlibat dalam dunia sastra dan drama, Motinggo juga menyukai melukis. Pada tahun 1954, sebuah pameran lukisan di Padang pernah menampilkan 15 lukisan karya Motinggo. Inilah novel-novel karya Motinggo Busye antara lain Malam Jahanam (novel, 1962), Tidak Menyerah (novel, 1963), Hari Ini Tak Ada Cinta (novel, 1963) Perempuan Itu Bernama Barabah (novel, 1963) Dosa Kita Semua (novel, 1963), Tiada Belas Kasihan (novel, 1963).

Namun, tidak hanya Motinggo Busye yang suka menciptakan novel berbau seksualitas, novelis Fredy Siswanto atau yang akrab disebut Fredy S juga berhasil membius masyarakat dengan karya-karya novel-novel percintaannya. Fredy S merupakan seorang novelis kondang di era tahun 1980-an. Namanya lebih populer di kalangan penggemar roman percintaan yang biasa berlalu lalang di terminal bus, stasiun kereta api maupun lapak bacaan pinggir jalan bukan perpustakaan megah seperti novel-novel Motinggo Busye.

Nama Fredy S sering dicibirkan sebagai penulis novel roman picisan karena novel-novelnya yang selalu bercerita tentang cinta. Gaya penulisannya seringkali berubah-ubah gayanya. Sesekali ia mengikuti gaya cerita Ashadi Siregar, penulis ngetop dan tenar waktu itu. Namun, banyak yang menilai, Fredy S justru berhasil memotret kehidupan nyata dari kalangan sosial kelas bawah di masa itu. Cerita yang beralur sederhana, terasa sangat membumi dan bercerita apa adanya.

Produktivitas seorang penulis bernama Fredy S ini sangatlah produktif. Karyanya yang berjumlah lebih dari 300 judul merupakan satu bukti bahwa Fredy S adalah novel handal pada zamannya. Bahkan, peredaran novel-novel Fredy S mampu menembus negara Malaysia dan Brunei. Tak tanggung-tanggung, penerbit di Malaysia telah meminta hak edar di negeri itu untuk 100 judul karyanya dengan hak royalti sebesar Rp 1.5 juta per judulnya.

Salah satu novel Fredy S yang berjudul “Tante Marissa”, bercerita mengenai hubungan percintaan tante dengan seorang pemuda impiannya yang digambarkan hubungan tersebut berjalan dengan “panas”. Adalagi novelnya yang berjudul “Senyummu Adalah Tangisku” yang pernah diangkat ke layar lebar dengan pemeran Rano Karno dan Anita Carolina.

Lalu, novelis lainnya yang sering menciptakan novel-novel berbau seksualitas adalah Abdullah Harahap. Namun, ia lebih dikenal penulis novel horor misteri di Indonesia. Abdullah Harahap lahir di Sipirok, Tapanuli Selatan pada 17 Juli 1943.

Abdullah Harahap mengawali karier semenjak masih duduk di bangku SMU di kota Medan tahun 1960 dengan menulis sejumlah cerita pendek serta puisi yang dimuat oleh media cetak setempat. Tahun 1963, ia pindah ke Bandung untuk melanjutkan studi di IKIP sambil meneruskan aktivitas menulis cerpen yang sempat membanjiri sejumlah media cetak baik yang terbit di Bandung, Yogya, Surabaya, Medan, dan paling terutama Jakarta.

Di tengah perjalanan kuliahnya, Abdullah Harahap menekuni profesi sebagai jurnalis di SK Mingguan GAYA dan GALA, lalu kemudian menjadi perwakilan tetap untuk wilayah Jawa Barat dari Majalah Selecta Grup. Perjalanan karier sebagai wartawan yang ditekuni AH selama seperempat abad lebih (1965-1995) menambah luas wawasan serta pengetahuannya sebagai penulis novel. Karena sebagai wartawan, ia bukan hanya sekedar meliput berita sesuai tanggung jawab diembannya, akan tetapi juga memanfaatkan setiap kesempatan yang ada untuk melakukan riset ke tempat-tempat tertentu yang dia inginkan untuk bahan novelnya.

Riset yang dilakukan oleh Abdullah Harahap ini menjadi sebuah keunggulan kengerian yang diciptakan di novel-novel horornya. Jadi horornya tidak melulu hantu penasaran yang sembarangan membunuh orang-orang. Ada latar belakang budaya, dendam kesumat, bahkan seringnya seks sebagai latar belakang kemunculan iblis-iblis yang menebar teror.

Hasil karya Abdullah Harahap antara lain Misteri Perawan Kubur, Misteri Sebuah Peti Mati 1, Misteri Sebuah Peti Mati 2, Misteri Lemari Antik, Manusia Serigala, Manekin, Penunggu Jenazah, Misteri Kalung Setan.

Motinggo Busye, sastrawan produktif dikecam karena novel erotis

… Sepasang manusia sedang dalam kenikmatan, yang lelaki sedang memangku yang gadis di atas sebuah kursi, yang membelakangi jendela. Keduanya tak tahu bahwa aku melihat mereka. Keduanya begitu asyik dalam terkaman-terkaman yang saling bertubi-tubi. Tris menyerang pada bagian leher gadis itu, kemudian mendesaknya pada sebuah lipatan kaki yang menggerumul, seakan-akan gadis itu terjepit…” (Busye, 1970: 98—99)

Begitulah cara Motinggo Busye, penulis sekaligus sastrawan era 1960/1970-an mengajak penikmat sastra membebaskan pikiran dan imajinasinya membayangkan hubungan intim antara lelaki dan perempuan melalui karyanya yang berjudul ‘Kutemui Dia’ yang tenar pada 1970. Melalui barisan kata-kata yang terstruktur rapi, Busye mencoba mendeskripsikan sebuah hubungan intim tanpa bermaksud mengedepankan unsur pornografi.

Dalam karyanya itu, Busye memilih tidak menggambarkan secara eksplisit bagaimana cara berhubungan intim antara lelaki dan perempuan. Dia juga memilih tidak menampilkan kata-kata yang langsung mengarah pada bagian vital atau alat kelamin laki-laki dan perempuan. Tapi, karyanya itu sudah terlanjur dicap sebagai stensilan (istilah buku porno pada zaman itu).

Penilaian atas beberapa karya seniman berdarah Minang yang dicap porno itu, mengundang Yuki Anggia Putri untuk menyelami kembali karya Busye. “Ketika itu, Motinggo Busye, penulis populer paling produktif, mendapat kecaman dari berbagai pihak, terutama kritikus sastra, mengenai nilai seni karya-karyanya. karya-karyanya dianggap porno dan dilarang peredarannya oleh pemerintah karena dinilai dapat merusak moral masyarakat dan mendorong perbuatan asusila,” tulis Yuki, mahasiswa lulusan Fakultas Ilmu Bahasa Universitas Indonesia di blog miliknya yukianggiaputri.blogspot.com yang dikutip merdeka.com, Sabtu (20/10).

Menurut Yuki, oleh beberapa pihak, kata-kata yang digunakan Motinggo dalam karyanya, masih dipandang tabu dan mengandung unsur porno. Yuki memandang, pemilihan kata dalam karya Busye yang menggambarkan hubungan intim, tidak menjerumuskan pembaca pada sebuah realitas yang memonopoli kebebasan akal dalam berkreasi. “Melihat karya sastra sebagai sumber apresiasi seni,” katanya.

Dia juga melihat kemahiran Busye mengungkapkan persenggamaan dengan bahasa yang metaforis dan konotatif. Semisal dalam kata: sedang dalam kenikmatan, terkaman-terkaman yang saling bertubi-tubi, bagian leher gadis itu, sebuah lipatan kaki yang menggerumul. “Walaupun terasa hiperbola, namun ungkapan tersebut berusaha membahasakan hubungan intim manusia dengan baik,” tambahnya.

Yuki mencoba membandingkan antara cara Busye dan Ayu Utami dalam menggambarkan hubungan intim melalui karyanya masing-masing. Menurutnya, karya Ayu Utami justru lebih berani dan eksplisit membahasakan senggama dengan nyata dan jelas. Serta tanpa ragu menulis alat kelamin laki-laki dan perempuan untuk melengkapi gambaran mengenai hubungan intim.

Menurutnya, perbandingan penulisan seksualitas tersebut tidak lepas dari zaman yang melingkupi mereka. “Busye dengan masa populer ’70-an yang penuh romantika dan sentimentalitas, dan Utami dengan masa populer kini yang menempatkan seksualitas sebagai upaya pembebasan diri, membahasakan tubuh,” jelasnya.

Motinggo Busye lahir dengan nama asli Bustami Djalid, dari pasangan Djalid Sutan Raja Alam dan Rabi’ah Ja’kub. Mantan redaktur kepala Penerbitan Nusantara periode 1961-1964 ini terbilang cukup produktif dalam berkarya. Sedikitnya ada 200-an karya yang telah dihasilkannya baik novel, drama, cerpen, maupun puisi.

Antara lain, Malam Jahanam, Badai Sampai Sore, Tidak Menyerah, Hari Ini Tak Ada Cinta, Perempuan Itu Bernama Barabah, Dosa Kita Semua, Dia Musuh Keluarga, Sanu, Infita Kembar, Madu Prahara, serta ratusan karya lainnya yang sampai saat ini masih tersimpan di Perpustakaan Kongres di Washington, DC, Amerika Serikat.

Busye mulai meramaikan dunia sastra Indonesia dengan puisinya Malam Putih yang dimuat dalam Siasat Tahun VIII Nomor 378/26, tahun 1953. Karya sastranya juga pernah dipentaskan di Universitas Pasadena, Amerika Serikat. Motinggo juga pernah memenangkan hadiah majalah Sastra tahun 1962 untuk cerpennya berjudul “Nasehat untuk Anakku” dan karyanya yang berjudul “Malam Pengantin di Bukit Kera” yang diterjemahkan ke dalam bahasa Cekoslovakia.

Selain dialihbahasakan ke dalam bahasa Cekoslovakia, karya-karyanya juga pernah diterjemahkan ke dalam pelbagai bahasa. Mulai dari Bahasa Inggris, Belanda, Prancis, Jerman, Korea, Cina, dan Jepang. Sebagai penyair, karya-karyanya masuk dalam antologi penyair Asia (1986) dan antologi penyair dunia (1990).

Banyak kritikus sastra yang mengamati perkembangan karya Busye. Karya-karyanya dipandang lebih banyak mengungkap tema-tema porno, tersirat atau pun vulgar. “Saya saat itu lebih cenderung mengangkat seks, karena novel seperti itu justru yang banyak diminati. Dan tiap orang kan sebenarnya interes,” ujar Busye seperti diikuti dari Harian Terbit, 17 September 1994.

Sekitar tahun 1984-199, Busye mengubah pandangannya. Pertama karena lesunya dunia perfilman nasional. Kedua, kritik keras dari anaknya yang disekolahkan di Pondok Pesantren Gontor, Ponorogo, Jawa Timur.

Busye selalu diingatkan untuk tidak membuat karya sastra atau film yang lebih banyak menonjolkan seksualitas. Menurut anaknya, masalah seksualitas atau pornografi itu dapat meracuni generasi muda bangsa.

Dari kritikan itulah Busye membuat novel Sanu Infinita Kembar (sisipan majalah Horison 1984 dan kemudian diterbitkan oleh Gunung Agung, 1985). Novel tersebut bagaikan penanda perubahan pandangan Motinggo dari hal-hal yang berbau seksualitas dan pornografi ke hal-hal yang bersifat religius, serius, transendental, pengembaraan intelektual imajinatif, serta absurditas.

Buah pikirannya yang dituangkan dalam karya seni membuahkan hasil. Busye mendapatkan hadiah ke-4 Sayembara Penulisan Cerpen Majalah Horison 1997 melalui cerpennya berjudul ‘Bangku Batu’. Cerpennya berjudul ‘Lonceng’ juga masuk kategori 10 cerpen terbaik 1990–2000 versi majalah sastra Horison 2000. Karya lainnya, cerpen berjudul ‘Dua Tengkorak Kepala’ ditahbiskan sebagai cerpen terbaik Kompas tahun 1999.

Banyak sastrawan dan kritikus yang berkomentar tentang Busye. Sebut saja Sutardji Calzoum Bachri yang mengatakan bahwa Motinggo Busye sebagai sastrawan Master of Style. Apresiasi atas karya Busye juga datang dari sastrawan WS Rendra. “Komitmennya ini memunculkan kekaguman dari seniman lain,” ujar Rendra.

Bahkan, kritikus sastra Indonesia dari negeri Belanda, Prof. Dr. Andreas Teeuw mengakui bakat sastra, seni, dan potensi artristik Busye.

Fredy Siswanto, pembuai imajinasi yang tak diakui

Mungkin bagi penikmat karya sastra saat ini, nama Fredy Siswanto kurang begitu akrab di telinga. Tetapi, pada masa 10 sampai 20 tahun lampau, novel karya dia paling ditunggu. Meski dijual di sudut-sudut terminal dan stasiun, emperan toko atau lapak penjaja surat kabar pinggir jalan, atau kios-kios buku murah semua ludes. Kalangan tua muda berebut edisi baru tulisan dia saban pekan atau bulan. Bagaimana tidak, harga murah, gaya tulisan mengalir, cerita membumi, dan mudah dicerna menjadi daya pikat tiap karya dia. Ditambah satu bumbu lagi, yakni erotis.

Fredy S, seperti itu namanya tertera dalam tiap sampul karyanya, dikenal sebagai salah satu penulis novel bertema percintaan. Tidak banyak yang tahu seperti apa sosok dan pribadinya, pun sampai hari ini. Entah benar-benar misterius atau mungkin dia memang rendah hati dan enggan muncul ke depan khalayak ramai. Kebanyakan karyanya yang berbicara tentang siapa dia. Tetapi tentu hal itu tidak bisa dijadikan patokan. Di zamannya, berbagai tulisan dia mampu membius imajinasi pembacanya. Tetapi, buat beberapa kalangan, karya dia bukan apa-apa. Sebagian menganggap tulisan dia hanyalah untaian kata-kata cabul dibalut romantika terkesan suci. Hanya picisan. Tetapi, novel yang picisan itu sudah ada lebih dari 300 judul dan hampir dipastikan semuanya laris manis. Sungguh sebuah prestasi yang tidak dapat dinafikan oleh siapapun.

Fredy Siswanto, Abdullah Harahap, Motinggo Busye dan beberapa sastrawan “kaki lima” lain tidak bisa disangkal kehadirannya dalam mewarnai dunia sastra Indonesia. Meski beberapa karyanya dicibir lantaran kerap menyelipkan plot adegan erotis yang membangkitkan birahi, ternyata jualannya bisa tembus sampai ke negeri tetangga macam Malaysia dan Brunei Darussalam. Penulis buku Jakarta Undercover, Muammar Emka, mengatakan kehadiran Fredy Siswanto, di jagad sastra Indonesia tidak bisa diingkari. “Karya Fredy Siswanto memang tidak bisa dilupakan, walaupun pada saat ini tidak banyak yang tahu. Biar dicemooh, tapi nyatanya tetap laris kan. Apalagi saat itu novel romantis berbumbu erotis menjadi konsumsi orang banyak,’ kata Emka saat dihubungi merdeka.com lewat telepon seluler, Sabtu (20/10).

Harus diakui, walau bagaimanapun berbagai novel karya Fredy S. juga berusaha menarik minat kaum muda agar gemar membaca. Bahkan, salah satu novelnya berjudul Senyummu Adalah Tangisku pernah diangkat ke layar lebar dengan pemeran utama bintang remaja top pada masa itu, Rano Karno dan Anita Carolina.

Namun, tetap saja di dunia sastra Indonesia, Fredy Siswanto diangggap tidak pernah ada. Memang karya dia tidak melegenda, atau paling tidak bisa disejajarkan dengan para pendekar sastra macam Sutan Takdir Alihsyahbana, W.S. Rendra, Romo Mangunwijaya, maupun H.B. Yassin. Mau tidak mau, dia harus terima karyanya terhempas dan terpinggirkan dan harus puas dengan cap sebagai roman picisan.

Selain menulis novel, Fredy Siswanto juga pernah menggarap skenario beberapa film layar lebar, antara lain berjudul Di Sana Mau Di Sini Mau (1989), Penakluk Srigala (1983), Gepeng Bayar Kontan (1983), dan Lara Jonggrang(Candi Prambanan) (1983).

Meski harus puas dicap sebagai sastrawan kelas bawah, picisan, kaki lima, dan segudang cibiran lainnya, toh nama Fredy Siswanto dan karyanya masih menjadi buruan sebagian kalangan sampai saat ini. Entah apa mereka benar-benar menikmati setiap bait dalam paragraf novel itu, atau hanya sekedar ingin memanjakan khayalan erotis, hanya mereka yang tahu.

Novel stensilan bacaan seks popular remaja 80-an
Bagi remaja era 1980-an, stensilan berbentuk novel yang bercerita tentang hubungan seks, mungkin bukan barang asing lagi. Buat mereka yang berasal dari keluarga dengan ekonomi ke bawah, dan tidak mampu menyewa kaset video betacam, maka cerita stensilan menjadi jalan keluarnya. Selain harga yang murah, cerita novel stensilan mudah dibawa dan bisa dibaca di mana saja.

Moamar Emka, penulis buku yang biasa mengungkapkan sisi gelap kehidupan seks di Jakarta menuturkan, dirinya tidak tahu pasti sejak kapan novel stensilan mulai beredar, yang dia tahu, novel yang dijual secara tersembunyi itu, sejak awal tahun 1980’an sudah ada.

“Sejak kapan mulai terbitnya, saya enggak tahu pasti, yang pasti, pas saya duduk di bangku SMP, tahun 1987, stensilan-nya Enny Arrow saya sudah baca,” kata penulis buku ‘Jakarta Undercover’ itu saat dihubungi merdeka.com, Sabtu (20/10).

Penulis yang identik dengan jenggot panjangnya itu juga menuturkan, untuk mendapatkan novel ‘esek-esek itu butuh perjuangan. Dia dan teman SMP-nya harus mencari ke lapak-lapak tua di sekitar Terminal Senen.

“Buat nyari stensilan itu susah, karena dijualnya under table, diperdagangkan juga di lapak, pengecer, dan toko tradisional. Jadi kalau mau beli, harus usaha juga,” kenangnya.

Penulis yang sudah menghasilkan puluhan buku ini menambahkan, perkembangan novel stensilan terlihat ketika penerbit menambahkan gambar adegan pria dan wanita berhubungan seks. Meski hanya berformatkan sephia, penambahan gambar tersebut makin mempopulerkan stensilan.

“Saya ingat, kalau enggak salah, pas SMA, tahun 1989, stensilan mulai menyelipkan gambar-gambar syur, seperti posisi orang yang sedang berhubungan,” katanya.

Yang menarik dari novel stensilan ini adalah hanya dengan membaca judul, sudah dapat menarik orang untuk membeli. Judul seperti ‘Gejolak Nafsu Ibu Ratna’, ‘Bercinta di Villa Sewaan’, ‘Ibu Maria, Dosenku yang Istimewa’ dan ‘Bercumbu dengan Pemuda Kampung’. Dari judul-judul tersebut, penulis mampu membangkitkan dan mengembangkan imajinasi dari alur cerita yang ditawarkan.

Enny Arrow legenda novel erotis Indonesia
Pembicara sebuah seminar lingkungan di Bandung itu menutup makalahnya. “Any question?” tanya dia pada peserta seminar.

Tak ada yang mengacungkan tangan.

“No, oke kalau any arrow?” candanya.

Hadirin yang berusia 40 tahun ke atas tertawa mendengar canda si pembicara. Sementara yang mahasiswa dan berusia belasan tahun mengerenyitkan dahi. Tak mengerti maksud lelucon itu.

Maksud any arrow adalah enny arrow. Mereka yang menginjak ABG tahun 1980-an, tentu hapal betul novel-novel karya Enny Arrow. Pada masanya, Enny Arrow adalah legenda. Remaja pria yang berusia belasan tahun tahun 80an pasti pernah sembunyi-sembunyi membaca novel Enny Arrow.

Pada era 80an belum ada VCD porno atau situs porno di internet. Maka pada novel karangan Enny Arrow-lah, para remaja mengenal pornografi untuk pertama kali.

Novel Enny Arrow tidak tebal, hanya puluhan lembar. Isinya luar biasa vulgar. Menggambarkan hubungan seks secara detil dan hiperbola. Pembaca diajak berimajinasi liar membayangkan sepasang kekasih berasyik masyuk. Tak ada alur cerita di dalam novel itu, hanya dari satu adegan seks ke adegan berikutnya.

Tak ada yang tahu siapa sebenarnya Enny Arrow. Pengarang itu tetap misterius hingga kini. Penerbitnya pun tidak mencantumkan alamat. Hanya Penerbit Mawar dengan logo sekuntum mawar mekar yang diletakkan miring.

Novel erotis Enny Arrow terbit puluhan judul. Judulnya sudah menggambarkan isi ceritanya seperti ‘Malam Kelabu’, ‘Gairah dan Cinta’ atau ‘Selembut Sutera’. Covernya gambar wanita yang berpose agak panas.

“Dulu belinya diam-diam di tukang koran. Harganya murah. Bilang aja stensilan Enny Arrow. Biar tidak dirazia guru, covernya disobek. Biasanya nanti halamannya tidak lengkap karena dibaca bergantian temen-temen sekelas,” tutur Agus Harianto (47), salah satu pembaca novel Enny Arrow, kepada merdeka.com.

Selain Enny Arrow, satu lagi novel erotis stensilan adalah serial detektif Nick Carter. Isinya sama-sama vulgar, hanya alur ceritanya lebih jelas. Sosok Nick Carter digambarkan seperti agen rahasia James Bond dengan petualangan dan misteri. Nah, hubungan seks diberikan sebagai bumbu.

Novel Nick Carter terbit di Amerika Serikat tahun 1964 oleh Awards Book. Settingnya banyak berlatar belakang perang dingin antara AS dan Uni Soviet. Diceritakan Nick Carter adalah agen AXE yang kerap terlibat asmara. Ada 261 judul petualangan Nick Carter yang terbit dari tahun 1964-1990. Tapi tak jelas siapa pengarangnya.

Tapi di Indonesia, agaknya novel Nick Carter ditulis ulang oleh penulis lokal. Cerita seks ditambah berkali-kali lipat sehingga lebih dominan daripada petualangan sang detektif.

Kejayaan Nick Carter dan Enny Arrow berakhir tahun 90an. VCD porno dan internet menggantikan cerita stensilan murah di kalangan remaja. Pornografi tak pernah mati. Hanya bermetamorfosis dalam media yang lebih modern.

5 Novel erotis yang diboyong ke layar perak
Novel erotis rupanya mampu menarik produser film untuk mengangkatnya ke layar perak. Berlatar percintaan, cerita dikemas semenarik mungkin sehingga dengan mudah dicerna oleh penonton.

Film-film ini banyak bermunculan di era-80an. Umumnya para produser mengambil cerita dari karya novelis terkenal seperti Fredy Siswanto dan Abdullah Harahap. Pada zamannya film-film itu cukup laris manis.

Sederet nama artis juga pernah menjadi bintang, salah satunya Yurike Prastica yang bermain dalam film ‘Lukisan Berlumur Darah’. Film ini diangkat dari novel karya Abdullah Harahap.

Kini, setelah tiga dekade berlalu mungkin masyarakat telah lupa dengan cerita-cerita itu. Namun, jika ingin mencari, novel-novel tersebut masih bisa didapat di emperan-emperan Senen, Jakarta Pusat.

Berikut sejumlah novel erotis yang pernah menembus layar kaca.

1. Senyummu adalah tangisku oleh Fredy S

Cerita ini mengisahkan percintaan dua pelajar Rafli dan Erena. Berasal dari keluarga berada, orangtua Rafli tak ingin anaknya sembarangan memiliki pasangan. Keluarga menentang keras hubungan Rafli dengan Erena.

Kisah asmara dua remaja ini semakin memanas manakala seorang wanita bernama Rosa mencoba menghancurkannya. Rosa merupakan teman sekolah Rafli dan Erena. Saking cintanya kepada Rafli, Rosa beberapa kali melakukan teror. Â

Keadaan ini ternyata membuat Rafli semakin kalut. Sebagai anak pengusaha, perilaku Rafli kerap kali brutal baik di sekolah, rumah dan masyarakat.

2. Lolita oleh Vladimir Nabokov

Novel karya Vladimir Nabokov menjadi salah satu novel yang paling erotis dari abad ke-20. Judul Lolita ternyata memiliki makna tersendiri mengenai seksual seorang wanita sebelum waktunya.

Karya pria asal Rusia itu berisi soal skandal. Meski kontroversial, ternyata Nabokov melambung namanya dan mendapat keuntungan besar dari novel yang laris manis di pasaran. Cerita di novel itu pun difilmkan.

3. Sepasang mata maut oleh Abdullah Harahap

Film ini berkisah soal pembunuhan sadis. Namun pembunuhan dilakukan setelah terjadi pemerkosaan yang dilakukan Parman yang diperankan oleh Sutrisno Wijaya. Parman memperkosa pacar Tarjo. Tarjo diperankan oleh (M. Rojali).

Mengetahui wanita itu hamil, Parman tak mau tanggung jawab tetapi justru menyalahkan Tarjo. Kemudian kepala Tarjo dipenggal. Pembunuhan bisa dilakukan setelah Parman mengetahui kesaktian Tarjo hilang setelah pedang dilumuri darah perawan.

4. Sejuta surat sutra oleh Fredy S

Cerita film ini begitu mendulang decak kagum karena mengisahkan percintaan seorang perawat bernama Retno Sari dengan Budi. Tak hanya soal cinta, diceritakan juga soal rebutan warisan sampai akhirnya Retno masuk penjara.

Awalnya Retno merawat Tahir Junaidy, duda kaya yang menderita kelumpuhan. Tahir memiliki tiga anak. Dua anak dari istri pertama bernama Yanuar dan Agus, sedangkan Budi adalah anak dari kekasihnya yang lahir di luar nikah.

Namun Tahir lebih mencitai Budi karena anak itu lahir dari seorang wanita yang dicintainya, sedangkan dua lainnya hasil pernikahan Tahir yang dilakukan secara terpaksa.

Kemulut terjadi ketika Tahir meninggal dunia. Yanuar dan Agus mulai meributkan warisan, tetapi nyatanya seperak mereka tak dapat apa-apa. Tahir hanya mewariskan hartanya untuk Budi dan Retno.

Kemudian antara Budi dan Retno saling cinta. Namun kisah keduanya tak berjalan mulus, ketika Retno difitnah melakukan kekerasan terhadap Budi. Nasib berkata lain, di pengadilan semua kebohongan Yanuar dan Agus terbongkar. Retno pun dibebaskan.

Setelah itu, Retno dan Budi kembali merajut asmara. Keduanya bisa hidup penuh dengan kasih sayang.

5. Lukisan berlumur darah oleh Abdullah Harahap

Dua artis terkenal Yurike Prastica dan Tiara Jaquelina bermain dalam film ini. Meski ceritanya mengenai perampokan dan pembunuhan, namun film tetap dibalut dengan kisah percintaan.

Cerita erotis, dari stensil hingga internet

Menikmati cerita erotis tak pernah habis dimakan zaman. Jika di era tahun 80an sampai 90an novel stensilan berjaya. Kini era menikmati cerita porno di internet.

Teknologi membuat penyajian cerita panas semakin menarik. Jika dulu ilustrasi foto dicetak kabur dengan warna hitam putih, kini cerita erotis turut juga dibumbui foto wanita cantik yang menggoda dengan resolusi tinggi.

Satu hal yang tak berubah, penikmat cerita erotis rata-rata berasal dari kalangan anak baru gede (ABG) yang baru pubertas. Banyak situs cerita dewasa di internet.

Cerita di situs itu tak ubahnya seperti novel stensilan tahun 1980an dulu. Bahasanya vulgar, seringkali tanpa alur cerita yang jelas. Pembaca diajak berfantasi mulai dari hubungan seks yang normal hingga yang paling ektrim.

“Saya ikut sebuah forum cerita khusus dewasa di internet. Jadi setiap member itu membuat cerita porno. Nanti member yang lain mengomentari dan memberi poin. Kalau yang jelek dan asal, dikasih rating buruk,” kata Bayu, seorang penggemar cerita erotis saat berbincang dengan merdeka.com.

Menurut mahasiswa ini, membuat cerita porno di forum-forum internet tak bisa asal-asalan. Pembaca internet biasanya ingin jalan cerita yang bagus serta fantasi yang liar. Lain dari yang biasa.

“Kalau dianggap jelek, komentarnya pedas. Diejek atau dilempar bata (istilah di internet). Kalau dulu kan pengarang novel stensilan tidak ada interaksi dengan penulis. Kalau sekarang itu kita berinteraksi dengan pembaca,” katanya.

Lalu apa bangganya menulis cerita porno?

“Ada rasa senang kalau cerita kita dipuji member yang lain. Asyik saja membuat cerita erotis dan imajinasi yang di dunia nyata tak mungkin terwujud. Kesalnya kalau tiba-tiba tulisan kita dicopy ke blog atau situs lain tanpa izin dan tanpa menyebut asal-usul tulisan,” tutupnya.

*)Merdeka, 21 Oktober 2012

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan