-->

Kronik Toggle

Pojok Korea di Universitas Indonesia

DEPOK – Bertempat di Rektorat UI lantai 2, Dubes Korea, Kim Young Sun bersama Rektor UI, Gumilar R. Somantri menandatangani Nota Kesepahaman antara Kedutaan Korea dan Universitas Indonesia untuk membentuk Pojok Korea (Korean Corner) di Perpustakaan Baru UI, Lantai 3.

“Di ruangan seluas 8 x 5 M ini, Kedutaan Korea akan memfasilitasi berbagai informasi seputar Korea melalui medium buku, film, katalog, pakaian khas korea dan sebagainya,” ujar Devie Rahmawati, Kepala Kantor Sekretariat Pimpinan UI, dalam rilisnya, Kamis (9/8/2012).

Pembentukan “pojok Korea” ini menjadi perlambang dari kerjasama yang erat antar dua negara. Kerjasama dalam bidang pendidikan dan kebudayaan diharapkan mampu menjadi sebuah model hubungan kerjasama yang khusus, sehingga kedua negara dapat memperoleh manfaat positif.

Korea memiliki kedekatan khusus dengan Indonesia, mengingat pada tahun 1998, dimana banyak investor asing meninggalkan Indonesia, investor Korea justru menanamkan investasinya di Indonesia. Tercatat saat ini investasi dari Korea Selatan salah satu yang terbesar di Indonesia dengan nilai mencapai USD1,15 miliar di 524 proyek.

Terkait hal kebudayaan, yang sangat menarik ialah bagaimana publik tanah air begitu memuja para artis dari Korea Selatan. Dari berbagai konser yang mendatangkan para seniman dari negeri ginseng tersebut, tiket penjualan selalu habis.

Fenomena demam korea (Hallyu – Korean Wave) di Indonesia ini tidak lah mengherankan. Karena industri kultur pop di Korea menemukan celahnya di Asia (termasuk Indonesia) melalui kedekatan kultural dengan bangsa-bangsa Asia, yang kita tahu, perekonomiannya juga sedang melaju kencang.

Sebut saja Indonesia, Malaysia, Singapura. Kelas konsumen negara-negara ini setidaknya di atas rata-rata.Tidak hanya itu, betapapun orang Indonesia bangga bila dapat berbahasa Inggris, tetap ada yang ganjil. Kita tetap berbeda tajam secara fisik maupun pola pikir dengan orang-orang Barat. Identifikasi kultural ini menjadi modal lain bagi Korea industri kebudayaan Korea.

Dengan hadirnya Pojok Korea ini, kita dapat menggali lebih dalam bagaimana Budaya yang dikapitalisasi, dapat menjadi “diplomat” bagi sebuah bangsa terhadap bangsa lain.

Diharapkan, publik secara luas, tidak hanya sekedar mengapresiasi, namun juga mengambil pelajaran untuk juga kemudian anak negeri bisa membangun industry kebudayaan nusantara yang mampu tidak hanya menjadi tuan rumah, namun dikagumi dan menghasilkan devisa bagi Indonesia.

*)Tribunnews, 9 Agustus 2012

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan