-->

Kronik Toggle

Pameran Ilustrasi Buku Bedaya-Srimpi

Thomas Pudjo Widijanto

Materi pameran Ilustrasi Bedaya dan Serimpi di Bentara Budaya Yogyakarta memang terkesan sederhana. Nyaris seragam. Sekitar dua puluh karya, semuanya perempuan dalam posisi sedang menari dalam berbagai bentuk gerak.

Namun, para perempuan itu memainkan berbagai sikap dan gerak tarian klasik Jawa bernama Bedaya dan Serimpi. Pada pameran 6-12 Agustus 2012 ini, 20 ilustrasi mewakili 20 karya tari Bedaya dan Serimpi yang diciptakan Tyra de Kleen, pelukis perempuan kelahiran Swedia, yang berkarya di Hindia Belanda sekitar tahun 1920 silam.

Di situ ada tari Serimpi Menjangan Ronggah, Serimpi Sekar Suwun, Serimpi Ngancap, Bedaya Ukel, Bedaya Manah, Bedaya Tanjak, dan sebagainya. Seluruh ilustrasi tari itu untuk melengkapi buku tentang Bedaya dan Serimpi yang ditiulis Beata Anna van Helsdingen tahun 1925 berjudul Het Serimpi Boek.

Pameran ini secara tidak langsung memang seperti berbicara tentang sejarah tari Serimpi dan Bedaya, karya-karya tari yang awalnya berasal dari dalam Keraton Surakarta dan Yogyakarta dan kemudian menyebar ke seluruh lapisan masyarakat luas. Kemungkinan 20 karya tari dalam ilustrasi itu sebagian sudah punah, tak ada generasi sekarang yang mengenalinya lagi.

Karena itu, pameran ini menjadi sebuah aktivitas penting, apalagi dikaitkan dengan kegiatan budaya saat sekarang ini entah itu pameran atau pertunjukan selalu berimpitan dengan apa yang namanya komersial. Pameran ini lantas menjadi langkah kepedulian, yang akhirnya menjadi bentuk kegiatan budaya yang mempunyai makna penting dalam ranah kebudayaan Jawa.

”Mencari penulis ataupun ilustrasi tentang tari-tari Serimpi dan Bedaya bukan persoalan mudah. Penelusuran yang kita lakukan hanya menemukan tiga tokoh dan semuanya orang Barat,” kata Hermanu dari Bentara Budaya Yogyakarta, pemrakarsa pameran ini.

Inilah ironi yang menyertai pemeran ini, seandainya tidak ada penulis-penulis Barat yang meneliti tentang Serimpi dan Bedaya, sesungguhnya kita telah kehilangan jejak. Bahkan, tarian Serimpi dan Bedaya yang semua pelakunya perempuan oleh Beata Anna van Helsdingen, penulis buku Het Serimpi Boek, dijadikan alat perjuangan hak asasi perempuan Indonesia.

”Saya akan memberikan wawasan tentang hak asasi seorang perempuan di tanah Hindia Belanda (Indonesia). Anda mungkin akan segera mengenali dan menghargai hak emansipasi perempuan lewat tulisan-tulisan saya dan Anda mungkin akan setuju dengan saya,” kata Beata Ana dalam kutipan katalog pameran.

Kisah

Tari klasik, khususnya tari Bedaya, adalah tari yang dianggap sakral yang diciptakan para raja Jawa tempo dulu. Bedaya adalah bahasa Sansekerta yang berarti budi. Karena itu, hampir seluruh tari Bedaya berbicara tentang pesan simbolis yang intinya untuk membangun budi pekerti. Sebagaimana diungkapkan Guru Besar Jurusan Tari Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, Y Sumandiyo Hadi, tari Bedaya bisa dikatakan karya simbolis yang menggambarkan proses atau bahkan perjalanan pemerintahan seorang raja, khususnya dalam Kerajaan Mataram Islam.

Dikatakan sebagai karya simbolis, menurut Sumandiyo, di Keraton Yogyakarta, misalnya, sejak Hamengku Buwono I sampai Sultan Hamengku Buwono X selalu diciptakan tari Bedaya, yang isinya cenderung berkaitan dengan kelembagaan keraton, isi pesan tari, dan pengaruhnya bagi masyarakat. Boleh dikatakan, apa yang diungkapkan Sumandiyo, bedaya adalah upaya para raja membangun citra kekuasaannya.

Tari Bedaya paling baru adalah karya Sultan Hamengku Buwono X berjudul ”Sang Amurwobumi ”, yang diciptakan sekitar tahun 1990. Dengan karya ini, Sumandiyo sempat terkejut, karena ”Sang Amurwobumi” adalah nama lain dari Ken Arok, tokoh kontroversial dengan sifat-sifat premanismenya. Namun, berangkat dari Ken Arok, ”Bedaya Amurwobumi” ingin memberikan ajaran tentang kemanusiaan.

Tarian Bedaya Ketawang sampai kini menjadi tarian sakral bagi Keraton Surakarta ataupun Keraton Yogyakarta. Inilah tarian magis yang sampai kini diyakini diciptakan Sultan Agung (1591-1645) dan Nyi Roro Kidul, tokoh imajiner sebagai Ratu Penguasa Laut Selatan. Tarian ini hanya dibawakan pada saat seorang raja naik takhta.

Dikisahkan, dalam sebuah pertapaan, Sultan Agung melihat Nyi Roro Kidul yang sangat mencintai dirinya. Cinta itu diucapkan dengan nyanyian pantun sambil menari di hadapan Sultan Agung. Begitu indahnya pantun itu, Sultan Agung sangat tertarik sampai ia memerintahkan Nyi Roro Kidul mencipta dan melatih tari Bedaya.

Nyi Ratu Kidul bersedia melatih. Itulah yang kemudian menyebabkan pantun dan tarian yang diciptakan dianggap sebagai karya suci. Sesuai dengan permintaan Nyi Roro Kidul, latihan hanya bisa dilakukan pada malam Anggoro Kasih (malam Selasa Kliwon). Di luar itu, permintaan Nyi Roro Kidul adalah setiap latihan harus ada sesaji dan bakaran kemenyan.

Sesaji dan bakar kemenyan itulah yang kemudian menjadi tradisi untuk mengawali pentas tari Bedaya Ketawang. Dalam setiap pementasan tari itu, harus dipilih perempuan-perempuan yang tidak sedang menjalani menstruasi. Pantun yang konon diciptakan oleh Nyi Roro Kidul itu harus dinyanyikan secara koor (bersama) wanita dan laki-laki. Nyanyian itu sangat terkesan suci karena tidak boleh dinyanyikan di sembarang tempat, tidak boleh dinyanyikan dalam pergaulan hidup sehari-hari, selain waktu pentas.

*)Kompas, 12 Agustus 2012 “Bedaya Membangun Karisma Raja”

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan