-->

Kronik Toggle

Oho! Penulis Buku Anak Indonesia Asal Australia Terinspirasi Gotong-royong

Oho! Penulis Buku Anak Indonesia Asal Australia Terinspirasi Gotong-royong
Sabtu, 11 Agustus 2012, 14:24 WIB
Facebook
Nicholas Mark, penulis buku –Petualangan Anak Indonesia– mendongeng di depan siswa-siswa SD
Berita Terkait
Penulis Australia Bikin Buku tentang Anak Indonesia
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA —  Pengalamannya sebagaai aksi bencana letusan Gunung Merapi saat tinggal di Yogyakarta tahun 2010, menginspirasi penulis asal Australia, Nicholas Mark. Dalam bukunya, “Petualangan Anak Indonesia” ada satu cerita yang terilhami dari pengalaman tersebut.
Pengakuan itu diungkapkan oleh penulis asal Sydney, Australia, saat diwawancara dari Jakarta, Sabtu. Nicholas yang saat diwawancara berada di Sydney mengatakan, dia mengagumi jiwa gotong royong masyarakat Indonesia yang kuat
“Saya memperhatikan masyarakat Yogyakarta saling membantu korban bencana letusan Merapi. Pengalaman ini sangat berkesan bagi saya. Jiwa gotong royong yang sangat luar biasa itu menjadi inti cerita di Yogyakarta,” kata Nicholas dengan Bahasa Indonesia yang fasih.
Nicholas mengatakan, cerita di Yogyakarta mengisahkan dua saudara yang harus bertemu dengan banyak tokoh di seluruh Yogyakarta dan bekerja sama untuk menyelamatkan kota dari letusan Merapi.
“Oleh karena itu saya ingin fokus pada moral yang menekankan pentingnya persahabatan dan kepercayaan pada orang lain,” katanya.
Nicholas menjelaskan, dia mendapatkan ide cerita dari pengalamannya ketika jalan-jalan dan tinggal di Indonesia. Pengalaman tersebut dia gabungkan dengan imajinasinya.
“Pengalaman saya ketika mengunjungi Pulau Bali bersama keluarga ketika saya berumur 10 tahun, membangkitkan inspirasi untuk menulis tentang Hutan Monyet. Saya juga pernah mengunjungi Danau Toba dan beberapa kota di Sumatera,” katanya.
Penulis berusia 24 tahun ini mengaku ide cerita tentang telur emas di cerita tentang Mutia dari Sumatera berasal dari oleh-oleh telur kayu yang selalu dia lihat di toko oleh-oleh di Indonesia.
Nicholas memilih untuk menciptakan mitologi baru tentang telur emas, dunia garuda di atas langit dan keris khas Sumatera melalui cerita tentang petualangan seorang anak bernama Mutia di Sumatera. Selain telur emas, Nicholas juga menceritakan tentang petualangan Nanda, Dani dan para peri di Yogyakarta.
“Saya selalu ingin mencampur antara mitologi Indonesia dan mitologi Barat. Sehingga  terdapat hal-hal seperti dunia peri dalam cerita saya,” katanya.
Saat ini Nicholas sedang menyelesaikan studinya di Universitas Sydney, Australia. Nicholas sudah tertarik pada Bahasa Indonesia sejak duduk di sekolah menengah. Dia membuat cerita pertamanya tentang Wayan di Hutan Monyet Ubud sebagai tugas kuliah pertamanya pada tahun 2007.
Mahasiswa yang sedang menempuh semester akhir ini mengatakan, berangkat dari cerita pertamanya itu sang dosen pun menyarankan untuk mencoba mencari penerbit jika dia pergi ke Indonesia. Ketika Nicholas berwisata ke Yogyakarta pada akhir 2008, dia menemukan penerbit yang tertarik untuk menerbitkan bukunya.
“Setelah beberapa tahun, konsep bukunya berubah menjadi buku kumpulan cerita. Jadi saya memutuskan untuk menulis dua cerita lagi dengan latar belakang Sumatra dan Jogja,” kata Nicholas.
Nicholas menjelaskan, dia membutuhkan waktu empat hingga enam bulan untuk menyelesaikan tulisannya. Sementara untuk ilustrasi yang dibuat oleh Bambang Shakuntala membutuhkan waktu selama 2,5 tahun. Pada tahun 2012, buku “Petualangan Anak Indonesia” diterbitkan oleh Great Publisher dari Galangpress yang merupakan penerbit buku anak-anak.
Redaktur: Ajeng Ritzki Pitakasari
Sumber: Antara
http://www.republika.co.id/berita/senggang/seni-budaya/12/08/11/m8kxwm-oho-penulis-buku-anak-indonesia-asal-australia-terinspirasi-gotongroyong

JAKARTA —  Pengalamannya sebagaai aksi bencana letusan Gunung Merapi saat tinggal di Yogyakarta tahun 2010, menginspirasi penulis asal Australia, Nicholas Mark. Dalam bukunya, “Petualangan Anak Indonesia” ada satu cerita yang terilhami dari pengalaman tersebut.

Pengakuan itu diungkapkan oleh penulis asal Sydney, Australia, saat diwawancara dari Jakarta, Sabtu. Nicholas yang saat diwawancara berada di Sydney mengatakan, dia mengagumi jiwa gotong royong masyarakat Indonesia yang kuat

“Saya memperhatikan masyarakat Yogyakarta saling membantu korban bencana letusan Merapi. Pengalaman ini sangat berkesan bagi saya. Jiwa gotong royong yang sangat luar biasa itu menjadi inti cerita di Yogyakarta,” kata Nicholas dengan Bahasa Indonesia yang fasih.

Nicholas mengatakan, cerita di Yogyakarta mengisahkan dua saudara yang harus bertemu dengan banyak tokoh di seluruh Yogyakarta dan bekerja sama untuk menyelamatkan kota dari letusan Merapi.

“Oleh karena itu saya ingin fokus pada moral yang menekankan pentingnya persahabatan dan kepercayaan pada orang lain,” katanya.

Nicholas menjelaskan, dia mendapatkan ide cerita dari pengalamannya ketika jalan-jalan dan tinggal di Indonesia. Pengalaman tersebut dia gabungkan dengan imajinasinya.

“Pengalaman saya ketika mengunjungi Pulau Bali bersama keluarga ketika saya berumur 10 tahun, membangkitkan inspirasi untuk menulis tentang Hutan Monyet. Saya juga pernah mengunjungi Danau Toba dan beberapa kota di Sumatera,” katanya.

Penulis berusia 24 tahun ini mengaku ide cerita tentang telur emas di cerita tentang Mutia dari Sumatera berasal dari oleh-oleh telur kayu yang selalu dia lihat di toko oleh-oleh di Indonesia.

Nicholas memilih untuk menciptakan mitologi baru tentang telur emas, dunia garuda di atas langit dan keris khas Sumatera melalui cerita tentang petualangan seorang anak bernama Mutia di Sumatera. Selain telur emas, Nicholas juga menceritakan tentang petualangan Nanda, Dani dan para peri di Yogyakarta.

“Saya selalu ingin mencampur antara mitologi Indonesia dan mitologi Barat. Sehingga  terdapat hal-hal seperti dunia peri dalam cerita saya,” katanya.

Saat ini Nicholas sedang menyelesaikan studinya di Universitas Sydney, Australia. Nicholas sudah tertarik pada Bahasa Indonesia sejak duduk di sekolah menengah. Dia membuat cerita pertamanya tentang Wayan di Hutan Monyet Ubud sebagai tugas kuliah pertamanya pada tahun 2007.

Mahasiswa yang sedang menempuh semester akhir ini mengatakan, berangkat dari cerita pertamanya itu sang dosen pun menyarankan untuk mencoba mencari penerbit jika dia pergi ke Indonesia. Ketika Nicholas berwisata ke Yogyakarta pada akhir 2008, dia menemukan penerbit yang tertarik untuk menerbitkan bukunya.

“Setelah beberapa tahun, konsep bukunya berubah menjadi buku kumpulan cerita. Jadi saya memutuskan untuk menulis dua cerita lagi dengan latar belakang Sumatra dan Jogja,” kata Nicholas.

Nicholas menjelaskan, dia membutuhkan waktu empat hingga enam bulan untuk menyelesaikan tulisannya. Sementara untuk ilustrasi yang dibuat oleh Bambang Shakuntala membutuhkan waktu selama 2,5 tahun. Pada tahun 2012, buku “Petualangan Anak Indonesia” diterbitkan oleh Great Publisher dari Galangpress yang merupakan penerbit buku anak-anak.

Kliping: republika.co.id, 11 Agustus 2012

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan