-->

Tokoh Toggle

I Nyoman Darma Putra: Dari Rambut ke Buku

AYU SULISTYOWATI

I Nyoman Darma Putra (51), penulis dan Guru Besar Fakultas Sastra Universitas Udayana, Denpasar, menjadikan rumahnya tempat apa pun yang tiada duanya di hatinya. Bagi Darma, tangan ajaib sang istri, Luh Putu Diah Suthari, menenteramkan hati.

Meski ia sering bolak-balik ke Australia untuk urusan proyek pendidikan, rumah berlantai dua seluas sekitar lima are di Jalan Gunung Agung, Denpasar, itu selalu membuat Darma rindu pulang. Taman indah di halaman depan rumah membuatnya nyaman dan mensyukuri hidup bersama kedua anaknya.

Para penghuni rumah tersebut memiliki kesibukan masing-masing. Darma aktif sebagai dosen dan penulis buku, selain juga sebagai jurnalis di Bali dan Australia. Istrinya seorang wirausaha, sementara anak-anak bekerja dan kuliah. Akan tetapi, Darma selalu menanamkan kebersamaan di dalam rumah adalah segalanya.

”Rumah menjadikan segala yang timpang menjadi seimbang. Segala yang negatif menjadi positif. Segala yang jenuh menjadi penuh gairah. Ini tempat berinteraksi yang paling ideal bagi kami,” kata Darma, pertengahan Juli lalu.

Darma menuturkan, ruang keseimbangan itu tak hanya ditemukan dalam dialog atau komunikasi di antara anggota keluarga. Hidangan dari dapur juga menjadi bumbu kemesraan rumahnya. Ia memang tidak mengharuskan sang istri menjadi koki andal. Hanya saja, ia berharap istrinya juga memupuk keseimbangan dan menebar bumbu cinta dalam setiap masakan yang disajikan. Bahkan, ia pun suka memasak.

”Kami memiliki pembantu. Namun, istri itu bagaikan seorang editor dalam suatu media. Ia pun perlu mengedit seluruh masakan pembantu. Apa yang terjadi, cinta pun ada di atas meja makan. Nikmat rasanya,” ujarnya.

Dari kamar tidur

Meski demikian, ia mengaku dapur bukan ruang favorit meski penting bagi keharmonisan keluarganya. Kamar tidur merupakan ruang paling favoritnya. Di kamar ia pun lancar mengerjakan tulisan-tulisan akademisnya. Ia betah berjam-jam bersama laptop.

”Pemandangan dari dalam kamar ini indah. Tamannya nyaman sekali dengan adanya percikan air. Damai dan tenang untuk mengerjakan apa pun di sini. Lihat saja…,” tutur Darma sambil memperlihatkan sudut favoritnya.

Ia mengaku masih memerlukan beberapa rak buku untuk buku-buku yang belum tertata. Itu bagai mimpi yang tertunda baginya. Apa boleh buat, buku memang menjadi kebutuhan pokok Darma setiap hari. Bahkan, lulusan Sastra Indonesia Universitas Udayana ini tak menyangka bisa mengawali menulis dari jurnalis di Kelompok Bali Post mulai 1980 hingga 2008, kontributor bagi Australian Broadcasting Corporation (ABC) mulai 2002 hingga 2006.

Berawal dari profesi jurnalis ini, ia mengenal sejumlah kawan dari luar negeri, termasuk para peneliti asing. Ia pun terusik dengan kegigihan para peneliti asing ini dalam mencari narasumbernya bagai investigasi. Lalu ia merasa tertantang dan mencoba menulis dengan gaya akademisi dari penelitian-penelitian.

Selesai kuliah strata satu, ia melanjutkan studi S-2 dan S-3 ke Australia. Di sela-sela menyelesaikan sejumlah proyek penelitian serta tesis dan disertasinya, Darma menulis buku, seperti Tonggak Baru Sastra Bali Modern, Wanita Bali Tempo Doeloe: Perspektif Masa Kini. Belum lama ini, ia meluncurkan tulisan Pasangan Pionir Pariwisata Bali (biografi Ida Bagus Kompiang dan Anak Agung Mirah Astuti).

Potong rambut

Selain rumah dan keluarga, ada hal lain yang membuat Darma selalu ingin pulang, yaitu rambutnya. Apa hubungan rumah dan rambut? ”Istri saya itu tak hanya pintar memasak dan menata taman di rumah, tetapi juga ahli memotong rambut saya. Makanya, saya selalu rindu pulang,” ujarnya serius.

Ini bukan urusan berhemat 30 dollar AS memotong rambut di negeri seberang. Ini persoalan kepercayaan bagi seorang Guru Besar Fakultas Sastra Universitas Udayana ini. Menurut dia, tidak semua orang bisa memotong rambut dengan baik dan rapi. Namun, dengan dasar kepercayaan, ia lebih percaya diri tampil di mana pun dengan guntingan tangan sang istri.

”Sekarang ini, saya berharap anak perempuan saya bisa memotong rambut seperti ibunya. Kalau urusan memasak, di rumah ini sudah tidak ada perbedaan lelaki dan perempuan. Semuanya sudah terbiasa di dapur. Saya dan keluarga pun berupaya menghormati tamu-tamu siapa pun itu dengan dapur yang menyatu dengan ruang tamu serta keluarga. Rumah ini terbuka jika ada yang ingin membuat minuman atau makanan sendiri,” katanya.

Dapur, taman yang sejuk, dan rambut yang dibelai jari-jari sang istri menjadikan kehidupan Darma terasa nyaman. ”Tulisan dari semua penelitian pun mengalir,” katanya. Terbukti, saban tahun Darma bisa menulis sampai dua buku. Itu belum termasuk kajian-kajian penelitiannya yang terserak di sejumlah jurnal ilmiah.

*)Kompas 12 Agustus 2012, “Ketenteraman Ada di Dapur dan Rambutku”

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan