-->

Kronik Toggle

Hikayat Serimpi Lewat Ilustrasi Buku

Yogyakarta – Ada yang aneh pada sederet ilustrasi yang terpasang di dinding ruang galeri Bentara Budaya Yogyakarta. Dari puluhan gambar yang memuat model penari berkostum Jawa lengkap itu, semua postur tubuhnya tampak jenjang, mirip perawakan perempuan Eropa, meski rautnya tetap perempuan Jawa dengan semua mata terpejam. Ilustrasi penari itu merupakan obyek utama materi pameran bertajuk “Serimpi 1925” yang digelar pada 8-16 Agustus 2012. Pada masa lalu, Serimpi adalah tarian sakral yang hanya boleh dipertunjukkan di dalam keraton.

Ilustrasi penari itu merupakan hasil pembesaran cetak digital dari buku lawas berjudul Het Serimpi Boek karangan seorang wartawan berdarah Belanda, Mevrouw Van Helsdingen. Buku itu diterbitkan penerbit Uitgegeven Door Volkslectuur, Weltevreden, Batavia, pada 1925. Ilustrator buku itu adalah perupa yang juga berdarah Belanda, Tyra de Kleen. “Kleen menggambar dengan membayangkan proporsi tubuhnya sendiri sebagai orang Eropa, tapi tetap artistik,” kata dia. Yang mencolok, misalnya, tungkai panjang sang penari, sehingga pada bagian tarian yang duduk atau menyembah, postur itu terlihat mirip perempuan Eropa meski raut wajahnya tetap Jawa.

Ada 20 ilustrasi berupa gambar berwarna yang menggambarkan gerak tari Serimpi dan Bedaya seperti Serimpi Linggih Rakit, Serimpi Nyembah, Serimpi Jengkeng Ngenceng, Serimpi Dodok Nglayang, Serimpi Sirig, Serimpi Sekar Suwun, Bedaya Sindet, Bedaya Ngenceng Sampur, Bedaya Ukel, Bedaya Manah, Bedaya Tanjak, dan Bedaya Tanding.

Dari ilustrasi ini terlihat perbedaan dengan Serimpi saat ini. Misalnya memakai atribut keris dan jemparing (panah). Saat ini, ketika Serimpi boleh ditarikan ke luar keraton, malah ada yang menggunakan bedil. “Di masa sesudah Pakubuwono X ada juga model penari Serimpi yang membawa botol anggur. Atribut itu sebagai simbol kemewahan,” kata Hermanu.

Menurut dia, dengan teknik cetak manual yang sederhana, hasilnya tetap menampilkan warna yang hidup dengan bayang semu, gradasi, dan perpaduan detail warna kostum penari. “Sepertinya menggunakan sistem blok, bukan ruster seperti yang digunakan konsep cetak manual sekarang. Tak ada corak kotak-kotak saat diperbesar,” kata Hermanu lagi. Tak mengherankan bila ilustrasi berdimensi 8×15 sentimeter itu tak pecah meski diperbesar hingga ukuran 102×73 sentimeter. “Saya perbesar sampai sepuluh kali dari gambar aslinya, tetap tidak pecah,” ucapnya.

Pewarnaan ilustrasi dengan cat air mirip hasil teknik gradasi tercetak rapi pada tiap bagian lipatan kostum atau tubuh penari (drypery). Padahal, kata Hermanu, di masa itu sistem cetak belum ada yang menggunakan warna hitam layaknya saat ini yang menggunakan konsep warna CMYK (Cyan Magenta Yellow Key) sebagai proses pencampuran pigmen dalam percetakan. Warna hitam diprediksi diperoleh dari percampuran warna-warna gelap lain secara rutin.

Pada pameran ini juga dipajang 12 foto tari Serimpi pada masa Pakubuwono X (1893-1939). Pada foto tanpa nama pemotretnya itu ditemukan juga teknik montase atau dikenal juga teknik Topografischen dengan teknik crooping yang sangat rapi, sehingga nyaris obyek foto tak punya bayangan. “Sayang, buku ini tak tuntas karena penulisnya meninggal dunia,” kata Hermanu. Hanya ada 25 halaman tulisan berupa reportase Helsdingen tentang Serimpi di Keraton Surakarta. Sisanya berupa 25 ilustrasi dan 12 foto.

Bahasa Helsdingen puitis. Sebut saja saat pengagum gerakan Kartini itu menggambarkan penari Kasunanan Surakarta sebagai peri yang hidup di candi kuno, yang tak dapat dilupakan siapa pun yang menyaksikannya. Juga saat menggambarkan raja menyebar punggawanya untuk merekrut penari itu lewat seleksi ketat di pedusunan. Gadis berparas cantik dengan tubuh ideal akan dibawa ke keraton untuk dilatih dengan tarian sakral yang diciptakan pendiri Mataram, Sultan Agung, itu. Penari yang parasnya paling cantik, tulis Helsdingen, akan dijadikan selir oleh raja. “Yang lain dinikahkan ke adipati dan bangsawan lain. Sejelek-jelek nasibnya, menjadi guru tari sebagai regenerasi,” kata Hermanu mengutip tulisan Helsdingen.

Hermanu secara kebetulan menemukan buku lawas itu saat blusukan di Pasar Loak Gladak, Kota Solo. Harganya hanya Rp 50 ribu. “Tapi yang mahal jasa penerjemahannya karena masih memakai bahasa Belanda kuno, ada campuran Jermannya,” kata Hermanu. Biaya penerjemahannya Rp 75 ribu per lembar, lebih mahal daripada harga buku itu.

*) Tempo.co, 9 Agustus 2012

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan