-->

Tokoh Toggle

Dessy Sekar A Chamdi: Membaca Itu Penting

“MEMBACA menjadi dasar pengentasan rakyat dari kemiskinan,” ucap Dessy Sekar A Chamdi dengan penuh keyakinan. Beralaskan prinsip ini, perempuan yang dikenal sebagai Ketua Dewan Pengurus Yayasan Literasi Indonesia itu tak lelah terus mengampanyekan gemar membaca kepada masyarakat Indonesia. Tak hanya berkampanye, Sekar, panggilannya, juga ikut membina sekitar 100 rumah baca di sejumlah daerah di Indonesia. Bersama 15 relawan Yayasan Literasi Indonesia (YLI), dia juga menghidupkan Library@batavia, perpustakaan di Museum Bank Mandiri, yang berlokasi di depan Stasiun Kota, Jakarta.

Kemiskinan lekat dengan kebodohan, begitu Sekar berargumen. Kebodohan bersahabat dengan buta huruf. Buta huruf tak sekadar berarti ketidakmampuan seseorang membaca huruf, tetapi juga buta huruf fungsional. Masyarakat banyak yang sudah mampu membaca aksara, tetapi tak memanfaatkannya. Mereka kurang membaca.

“Padahal, dengan membaca mereka memahami bagaimana meningkatkan ekonomi. Ini semua karena akses terhadap bacaan masih rendah,” kata sarjana Teknik Kimia Universitas Brawijaya, Malang, ini.

Setiap daerah mempunyai perpustakaan. Dana ratusan juta hingga miliaran rupiah digelontorkan untuk membangun perpustakaan-perpustakaan tersebut. Namun, tak banyak warga mengakses atau memanfaatkannya. Pengelolaan perpustakaan daerah pun cenderung setengah-setengah.

“Pada awal 2000-an, saya baru tahu di Jakarta ada lima perpustakaan pemerintah daerah. Namun, saya dan teman-teman yang gemar membaca saat itu tak satu pun yang tahu di mana alamat perpustakaan tersebut,” ujarnya.

Dari sinilah Sekar berpikir, penyadaran gemar membaca kepada masyarakat masih rendah. Bagaimana menjadikan perpustakaan lebih dekat dan mudah diakses masyarakat sehingga budaya membaca lebih kuat.

Bersama teman-teman, Sekar mulai aktif dalam sejumlah kegiatan kampanye yang diadakan Forum Indonesia Membaca mulai 2004. Mereka menjadi relawan hingga 2005. Kegiatan itu sempat terhenti pada 2005-2006 saat dia bekerja sebagai relawan sebuah lembaga sosial asing di Aceh pasca-tsunami.

Kampanye

Pada pertengahan 2006, dia memilih kembali ke Jakarta. Rupanya upaya penyadaran gemar membaca masih menjadi minat terbesarnya meski sempat terbengkalai satu tahun karena pekerjaannya di Aceh.

Bersama rekan-rekan, dia kembali menghidupkan YLI. Tak hanya terus menggiatkan kampanye membaca buku, Sekar juga mendirikan rumah baca di Kawasan Duren Tiga, Jakarta Selatan.

Rumah baca itu memakai rumah kontrakan di tengah permukiman warga. Pembiayaannya pun dilakukan dengan kesukarelaan. Buku koleksi didapat dari sumbangan, seperti perusahaan, masyarakat, dan relawan.

“Kegiatan kami waktu itu adalah terus merekrut relawan dan mengumpulkan buku. Kami juga terus mengadakan kampanye di mal, sekolah, kampus, juga di jalan. Kadang kami menumpang tempat di pameran-pameran buku secara gratis. Semuanya kami lakukan secara sukarela,” katanya.

Relawan yang bergabung pun mencapai puluhan orang. Mereka berasal dari berbagai profesi, mulai pelajar SMP, SMA, mahasiswa, karyawan swasta, pegawai negeri sipil, hingga pensiunan.

“Para relawan ini bergabung umumnya karena mempunyai hobi dan minat yang sama, yakni membaca. Mereka juga senang terlibat dalam berbagai kegiatan kampanye walaupun tak dibayar. Saat kumpul-kumpul bareng, mereka bahkan lebih sering harus membiayai sendiri,” tutur Sekar.

Penyelenggaraan World Book Day 2006 menjadi momen yang tak terlupakan bagi Sekar. Di situlah YLI dapat memperluas jaringannya. Mereka berhubungan dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dan sebuah lembaga pusat kebudayaan asing yang mengapresiasi kegiatan-kegiatan YLI.

Dari World Book Day, YLI juga mulai membangun jalinan komunikasi dengan komunitas taman bacaan dan komunitas literasi dari sejumlah daerah.

“Kami bisa berbagi satu sama lain. Mungkin karena kami berkembang di Jakarta, teman-teman di daerah melihat kami. Padahal, mereka juga tak kalah meski di daerah-daerah,” ujarnya.

Kini sekitar 100 taman bacaan di sejumlah daerah menjadi mitra YLI. Sebagian tumbuh berkembang karena terinspirasi langkah YLI.

“Saya sering diundang rekan-rekan komunitas taman bacaan di daerah untuk memberikan pelatihan atau sekadar berbagi pengalaman. Saya bahagia melakukan itu semua,” katanya.

Kota Tua

Pada 2008, Sekar diperkenalkan dengan pengelola Museum Mandiri yang berlokasi di Kota Tua, Jakarta. YLI pun menggelar festival di museum tersebut secara rutin. Tak hanya pameran buku, mereka juga berkampanye dengan menggelar kegiatan-kegiatan atraktif.

“Semuanya dilakukan para relawan. Kalau ada yang bisa berbahasa Perancis, dia memberi kursus bahasa Perancis, yang bisa sulap, mengadakan atraksi sulap. Dari situ kemudian kami mereferensikan kepada pengunjung bacaan-bacaan yang menarik,” tutur anak sulung dari empat bersaudara ini.

Sejak 2008, rumah baca yang semula berada di kawasan Duren Tiga digabungkan dengan perpustakaan Museum Mandiri. Sejak itu, perpustakaan pun dikenal dengan Library@batavia. Di sini Sekar duduk sebagai penasihat. Sebanyak 15 relawan aktif menjadi lokomotifnya.

Menjadi relawan bukan hal baru bagi Sekar. Sejak kuliah di Jurusan Teknik Kimia Universitas Brawijaya, Malang, perempuan kelahiran Singkawang, Kalimantan Barat, ini juga aktif dalam kegiatan kerelawanan. Dia pernah menjadi anggota organisasi lingkungan, gerakan perempuan, hingga pencinta alam.

Namun, dunia bacaan adalah minat utamanya di samping musik dan film. Dunia itu pula yang digelutinya setelah lulus sebagai sarjana teknik kimia. Sekar tak memilih bekerja sesuai studinya karena ingin menekuni bidang yang menjadi minatnya, dunia baca dan relawan.

“Kebetulan sejak kecil saya suka membaca. Ayah saya sering membawa kami ke perpustakaan. Dari sinilah minat membaca saya tumbuh dan kuat serta menjadi minat saya hingga dewasa,” katanya.

Sekar mengaku tidak menyesal meskipun bidang kerja yang dipilihnya tak membuat dia berkelimpahan harta. Kegiatan yang ditekuni adalah panggilan jiwa yang tumbuh dari minat hatinya.

Dia pun memahami, langkah penyadaran yang dilakukannya tidak langsung dapat terlihat hasilnya. “Namun, lihatlah 5-10 tahun ke depan, perubahan itu akan terlihat,” ujar Sekar. (*)

*)Kompas, 24 Agustus 2012

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan