-->

Kronik Toggle

AQLIC dorong gerakan Indonesia menulis Alquran

Jakarta – Lembaga Ar-Rahman Qur’anic Learning Islamic Center (AQLIC) ikut mendorong terwujudkan gerakan menulis Alquran yang kini menjadi program unggulan di Ar-Rahman Qur’anic Learning Center (AQL) Islamic Center Jakarta.

“Kami mengharapkan umat Islam mulai memhamai bahasa Arab dan mampu menulis Alquran secara fasih. Menulis Alquran akan mampu merangsang dan mencerdaskan otak serta memiliki nilai ibadah lebih tinggi di mata Allah SWT,” kata pimpinan AQL, Ustaz Bachtiar Nasir saat meluncurkan Ar-Rahman Qur’anic Learning Islamic Center (AQLIC) di Jakarta, Sabtu (14/7).

Bachtiar yang juga inisiator pendiri Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI), mengatakan, jika umat Islam paham dan mampu menulis Al Qur’an dengan fasih tentu ribuan khasanah klasik Islam juga akan mudah dipahami dan ditelusuri isinya.

“Gerakan menulis Alquran (ImanQu) sasarannya untuk merangsang umat Islam agar mampu menulis Alquran sampai khatam. Hal ini dilatarbelakangi ada sahabat Nabi Muhammad SAW yang sangat berkualitas, sahabat tersebut bersama Nabi Muhammad SAW tidak hanya menghapal tapi juga menuliskan Alquran sampai khatam,” katanya.

Menurut Bachtiar, latar belakang lainnya terbitnya program ImanQu terinspirasi sewaktu kuliah di Madinah ada kenalannya seorang profesional asal London yang mendalami pendidikan Islam bercita-cita ingin menulis Alquran selama 30 hari hingga khatam di Masjidil Haram.

“Profesor tersebut yang kerap menulis artikel internasional berujar, bahwa menulis Alquran merupakan tesis terbaik dirinya yang akan diwariskan kepada anak cucunya kelak,” ujarnya.

Bachtiar mengatakan dari pengamatannya sejak 2006, dapat disimpulkan saat ini dari mayoritas muslim di Indonesia, hanya sekitar 2 persen diantaranya yang benar-benar mampu membaca Alquran, memahami dan mengkaji isi kandungannya.

Dia mengharapkan, adanya lembaga AQLIC akan menjadi Islamic Center terbaik di Indonesia menuju dunia.

“AQLIC mengembangkan 5 pilar peradaban yaitu ibadah, iptek, sosbud, kesehatan dan kemanusiaan, ekonomi dan kewirausahaan. Hal ini diaplikasikan dalam berbagai program dan kelas tadabbur, Islamic studies dan berbagai kegiatan di unit bidang pendidikan dakwah, pendidikan, sosial, kaderisasi dan juga ekonomi kewirausahaan,” demikian Bachtiar Nasir.(*)Editor: Ruslan Burhani

*)ANtara, 14 Juli 2012

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan