-->

Lainnya Toggle

Wise Reading

Oleh: Ratih Dwi

Tanpa kita sadari, buku fiksi atau novel bisa menjadi seperti film fiksi, atau sebaliknya. Bukan hanya sama-sama memiliki cerita, novel dan film memiliki adegan-adegan yang terjalin membentuk cerita itu sendiri karena pada dasarnya film toh berasal dari skenario yang ditulis.

Adegan-adegan yang ada dalam novel dan film bisa jadi adegan tangis, tawa, sedih, bahagia, adegan lucu, pertarungan, silat, adegan drama, percintaan, adegan berdarah-darah, sampai adegan vulgar, baik adegan kekerasan vulgar maupun adegan seks vulgar. Nah, biasanya, dua adegan terakhir inilah yang paling berbahaya. Berbahaya jika dilihat anak-anak, remaja, dan orang-orang yang di bawah umur yang sesuai untuk menonton atau membaca adegan-adegan semacam ini. Anak-anak, remaja, dan orang-orang yang di bawah umur yang “sesuai” (misal, 21 atau 25 plus) tidak seharusnya menerima sesuatu yang belum saatnya mereka terima. Yah, memang toh pada akhirnya mereka akan “menerima” dan mengetahui hal-hal semacam kekerasan dan seks vulgar, tapi itu ada waktunya, nanti kalau mereka sudah dewasa, kalau mereka sudah berwawasan luas, kalau mereka sudah mengerti lebih, kalau mereka sudah bisa memilih dan memilah dengan bijaksana: bijaksana dalam artian tahu kalau sesuatu itu patut ditiru atau tidak, baik atau tidak, bermanfaat atau tidak, dsb.

Yang mengerikan, kejadian yang berbahaya itu sudah banyak terjadi di masyarakat kita. Dan pasti para pembaca sudah tahu soal itu. Aku jadi inget dulu waktu aku nonton bioskop sama temen kuliahku, kami waktu itu nonton film James Bond yang dibintangi Daniel Craig, kami berdua melihat sepasang suami-istri muda (entah mereka nggak waras atau gimana ya) menonton film tersebut dengan membawa anaknya. Parahnya lagi, anaknya ini masih balita gitu. Pertanyaannya adalah: 1). Kenapa orangtua itu membawa anak mereka yang masih kecil menonton film dewasa?; 2). Kenapa petugas bioskop memperbolehkan anak itu masuk?; 3). Kenapa para orangtua dan orang-orang yang seharusnya bertanggung jawab malah tidakbijaksana dalam bertindak? Dan dalam mendidik anak?

Belum lama ini kenalan kakakku di FB cerita-cerita tentang keprihatinannya terhadap para pembaca muda di Indonesia, terutama di lingkungan kita. Kenalan kakakku itu cerita di FB-nya kalau dia pernah melihat remaja-remaja SMA membeli novel-novel romance di toko buku. Anaknya yang masih remaja juga pernah cerita kalau teman-temannya di sekolah juga membaca novel-novel romance yang notabene untuk para pembaca 21 tahun ke atas. Parahnya lagi, kenalan kakakku itu pernah melihat seorang anak SMP membeli novel Fifty Shades of Grey (yup, novel erotica bertemakan BDSM yang amat sangat heboh di luar sana itu) di salah satu toko buku import. Dia sampai marah-marah di toko buku itu. Pertanyaannya adalah: kenapa si penjaga toko tidakbijaksana dalam menjual barangnya? Kenapa anak SMP dibiarkan membeli novel yang bahkan di Amerika saja kalau beli harus menunjukkan kartu identitas yang mengungkapkan umur si pembeli?

Pertanyaan intinya adalah: kenapa banyak orang tidakbijaksana dalam hal-hal yang penting bagi pendidikan moral dan karakter?

Sistem apa pun yang diterapkan, larangan apa pun yang ditegakkan, orang-orang yang tidak bijaksana akan tetap bertindak tidakbijaksana, terutama anak-anak dan remaja yang masih labil dan belum banyak mengerti, anak-anak dan remaja yang masih terlalu mudah menerima dan mencontoh sesuatu tanpa pikir panjang dan tanpa tahu apakah itu baik atau tidak, bermanfaat atau tidak, dsb. Aku melihat penerbit-penerbit besar sudah mencantumkan label “NOVEL DEWASA” pada karya-karya sastra terbitannya yang memang untuk konsumsi orang-orang yang sudah dewasa secara umur, tapi toh nyatanya anak-anak remaja yang belum waktunya tetap membeli (atau menyewa/meminjam) dan membaca karya-karya seperti itu. Ingat, anak-anak remaja masih labil dan mudah sekali mencontoh hal-hal “baru” semudah bayi menirukan perkataan orangtuanya.

Kalau sudah begini, apa yang bisa kita lakukan? Terutama, dalam lingkup ini, kita para pembaca buku? Apakah kita tega melihat anak-anak dan remaja berada pada posisi yang berbahaya bagi diri mereka sendiri? Sekali lagi, peraturan dan larangan tidak pernah ada gunanya, tidak akan pernah ada gunanya. Ingat semboyan orang-orang di Indonesia? Peraturan dibuat untuk dilanggar. Anak-anak dan remaja pun kalau dikasih tahu pasti ngeyel, tidak mau tahu.

Nah, dengan artikel ini aku cuma ingin menghimbau, menyarankan, mengusulkan kepada para pembaca Indonesia untuk bijaklah dalam memilih bacaan. Bacalah buku sesuai dengan umur kalian. Toh bacaan sesuai umur banyak juga yang menarik. Aku berharap, para pembaca Indonesia mau memperhatikan diri sendiri berapa pun umur kalian. Please don’t read erotica if you’re under 25, please don’t read romance if you’re under 21, please don’t read something containing violence if you’re under 18. Bukannya aku mau sok-sok mengatur, sok-sok suci. Tapi aku merasa punya keprihatinan terhadap para pembaca Indonesia karena aku sendiri kadang-kadang membaca romance, dan profesiku secara langsung berkaitan dengan novel-novel romance (untung umurku sudah 24 lebih *sigh*). Sulitnya, kita semua tahu kalau kita tidak bisa melarang penerbit untuk menerbitkan buku apa pun itu. Di dunia kapitalisme ini, kita hanya punya dua pilihan: surrender to capitalism, or die critically. Meskipun kita sangat berharap bahwa penerbit-penerbit di Indonesia bisa lebih bijaksana dalam memilih dan memilah naskah yang ingin dijual, kalau perut sudah keroncongan, tangan pun bertindak.

Nah, aku tidak bisa bilang kalau aku mau mengadakan kampanye, tapi aku mau bergerak mulai dari diriku sendiri, mulai dari blog-ku sendiri. Pertama, aku tidak membaca trilogi Fifty Shades walaupun kakakku punya karena aku belum genap 25 tahun. Kedua, mulai sekarang di blog resensi bukuku ini selain rating kualitas buku (yang biasanya 1 sampai 5 itu) aku juga akan mencantumkan rating umur (age category) di akhir resensiku untuk menunjukkan untuk siapa buku yang aku resensi itu. Rating-nya dimulai dari 18+, 21+, 25+, dan semua umur. Aku tidak akan mencantumkan rating hanya untuk anak-anak atau hanya untuk remaja, karena dari pengamatanku aku melihat malah ada banyak pembaca dewasa yang suka membaca buku anak-anak. Dan toh aku sendiri nggak suka baca buku anak-anak dan remaja. Sudah bukan seleraku lagi.

Yang perlu dan penting dalam pertimbanganku untuk menentukan age category tentunya adalah referensi (mungkin aku akan ambil patokan dari Goodreads) dan terutama konten dari buku itu sendiri. Tidak semua buku dewasa mengandung konten yang vulgar, tapi semua buku yang mengandung konten vulgar pasti untuk dewasa. Ini akan jadi acuan utamaku dalam menentukan age category dalam setiap resensiku. Kalau aku ada waktu, aku akan mengedit semua resensiku dan menambahkan age category di akhir semua resensi.

Ini adalah sebuah gerakan kecil untuk menghimbau dan mengajak para pembaca blog resensi bukuku untuk “sadar diri” dalam memilih bacaan sesuai umur. Karena menurutku, tidak baik memaksakan anak-anak dan remaja menjadi dewasa apa pun caranya dan oleh siapa pun, termasuk diri sendiri. Kalau bukan diri kita sendiri yang peduli, siapa lagi? Nah, gerakan kesadaran kecil ini aku namai gerakan Wise Reading: bijaklah dalam memilih bacaan.

*) disalin dari crazypurple.wordpress.co, 2 Juli 2012

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan