-->

Kronik Toggle

Tiga Tahun Sempurnakan 3 Juz Al Quran Bahasa Madura

Terjemahan Al Quran dalam bahasa Madura terbitan Lembaga Penerjamahan dan Pengkajian Al Quran (LP2Q) merupakan yang pertama kalinya disetujui ulama Madura, Banyuwangi dan Jember.

Setelah cetakan pertama 2006 lalu, 200 terjemahan dibagikan ke pesantren-pesantren di Madura dan daerah tapal kuda. Jamaah Pengajian Surabaya (JPS) yang merumuskan alih bahasa tersebut mempersilakan bagi pesantren maupun ulama berbahasa Madura untuk mengoreksi.

Dari situlah, diketahui bahwa terjemahan Al Quran ke dalam bahasa Madura masih perlu ada penyeragaman bahasa. Sebab, sejumlah daerah memiliki dialek Madura yang berbeda.

“Karena itu, diserahkan ke LP2Q untuk disempurnakan bahasanya. Kerjasama dengan STAIN di Pamekasan dan juga ahli budaya Madura,” kata H Kholiq Bendahara LP2Q yang juga pengurus JPS pada suarasurabaya.net

Tapi, rupanya perjalanan terjemahan Al Quran dalam bahasa Madura tidak berhenti sampai disitu. Sebab, proses penerjemahan masih harus disempurnakan.

Penyempurnaan dimulai 2008 lalu dengan melibatkan para ulama dan pengasuh pesantren mulai dari Bangkalan hingga Sumenep. Proses ini tidaklah mudah. Banyaknya pemahaman yang berbeda dari beberapa pihak yang terlibat menjadi kendala. Hingga resmi diluncurkan pada Juni 2012 lalu di Pendapa Ronggosukowati Pamekasan, tim penyempurna baru menuntaskan 3 juz.

Menurut Kholiq, waktu 3 tahun untuk 3 juz sangatlah lama. Maklum, selain kendala perbedaan pemahaman bahasa, waktu yang digunakan untuk menyempurnakan hanya dua hari. Yaitu Jumat malam hingga Sabtu. Karena itu, proses penyempurnaan sisa 27 juz ditargetkan bisa selesai lebih cepat sehingga masyarakat Madura dan daerah tapal kuda bisa segera memanfaatkannya.(git)

*)Suarasurabaya, 27 Juli 2012

Terjemahan Al Quran Bahasa Madura, JPS Kembangkan Pengajian 5 Bahasa
Pengajian yang digagas Jamaah Pengajian Surabaya (JPS) memang terbilang unik. Penggunaan empat bahasa dalam terjemahan Al Quran menjadi ciri khasnya.

Berawal dari bahasa Indonesia, Jawa dan Sunda, JPS kemudian mengembangkan bahasa Madura. Pada 2002 lalu, sebanyak 16 orang anggota JPS menjalankan ide almarhum KH Abdullah Sattar Majid Ilyas Pengasuh JPS. KH Abdullah Sattar ingin melanjutkan cita-cita sang ayah yang berinisiatif menerjemahkan AL Qur’an ke dalam bahasa Madura.

Arman Mandaliana Bendahara JPS mengatakan penerjemahan itu juga dilatarbelakangi beberapa jamaah yang berasal dari Madura. “Jamaah juga banyak yang Madura. Makanya, punya ide untuk menerjemahkan ke bahasa Madura,” kenang Arman pada suarasurabaya.net.

Proses penerjemahan Al Quran ke bahasa Madura melibatkan 16 orang yang seluruhnya asli Madura. Seminggu dua kali, selama 4 tahun mulai 2002 hingga 2006, 16 orang itu menerjemahkan 30 juz Al Quran dengan dibimbing oleh KH Abdullah Sattar.

Menurut H Kholiq pengurus JPS, penerjemahan ke bahasa Madura relatif tidak mengalami kesulitan. Kecuali di juz ke-30 atau juz amma yang memiliki perbedaan dari surat-surat lainnya.

“Kalau surat-surat sebelumnya banyak pengulangan di Al Quran. Kurang lebih 40 persen sama kata-katanya. Tapi di juz amma ini yang tersulit,” katanya.

Namun, penerjemahan itu akhirnya tuntas. Tahun 2006, Al Quran beserta terjemahannya dicetak. Dalam lembaran prakata di Al Quran tersebut, HRP Muhammad Noer (alm) tokoh Madura yang juga mantan Gubernur Jawa Timur memberikan sambutan positifnya.

Semenjak adanya terjemahan Al Quran tersebut, JPS mulai membaca Al Quran dengan disertai membaca terjemahannya dalam 4 bahasa yaitu Indonesia, Jawa, Sunda dan Madura. Pengajian biasa digelar seminggu sekali di sebuah masjid di Surabaya dan Lawang.

Keberadaan terjemahan Al Quran dalam bahasa Madura itu pun disambut baik oleh Kementerian Agama. Terbukti, Al Quran tersebut mendapat tashih dari Lajnah Al Quran Kementerian Agama pada Februari 2010. Cetakan pertama diterbitkan oleh Lembaga Penerjemahan dan Pengkajian Al Quran (LP2Q).(git)

*)Suarasurabaya, 26 Juli 2012

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan