-->

Kronik Toggle

The Stories of Affandi Diluncurkan

YOGYA, – Menteri Kordinator Perekonomian RI Hatta Rajasa secara resmi meluncurkan buku berjudul The Stories of Affandi di Museum Affandi, Yogyakarta pada Minggu (8/7/2012) petang.

Saat itu, menteri yang terang – terangan mengaku sebagai penikmat seni ini, datang bersama istri serta rombongan stafnya.

“Saya memang mencintai seni, bahkan bisa berjam – jam menikmati sebuah karya seni. Sama halnya ketika berkunjung ke berbagai negara, saya biasa membelanjakan uang untuk membeli karya seni,” jelasnya.

Dirinya menjelaskan bahwa dengan karya seni, ia bisa merasakan getaran cinta, karena di dalamnya berbicara tentang rasa, cinta, kebahagiaan serta ribuan kata dan makna lainnya yang terlahir dari sebuah goresan sang seniman.

Jauh berbeda dengan bahasa politik yang menurutnya kerap menjebak ke dalam dikotomi benar salah maupun kalah menang. Namun dalam karya seni, ada kejujuran dan rasa cinta, tidak ada kemarahan apalagi dikotomi benar salah. “Oleh karena itu, menikmati seni bisa melunakan hati,” tambahnya.

Lantaran kecintaannya pada seni itu pula, Hatta pun langsung menyanggupi permintaan panitia peringatan 100 tahun Affandi saat diminta untuk memimpin acara launching buku tersebut. Dirinya mengaku merasa sangat terhormat bisa meluncurkan buku yang memuat sosok Affandi yang ia kagumi itu.

Berdasarkan penjelasannya, tampak Hatta memang seorang yang mencintai dunia seni sekaligus memiliki pengetahuan tentang seni. Hal itu terbukti saat dirinya secara lugas menjelaskan tokoh – tokoh seniman dunia dan nusantara. Mulai dari seniman Eropa di abad ke 16 hingga era abad ke – 20 ketika naiknya nama Pablo Picasso. Ataupun menjelaskan sosok Raden Saleh, Rendra serta tak ketinggalan menjelaskan sosok Affandi.

Dari pemaparannya itu, Hatta ingin menyampaikan bahwa memahami karya seni, selayaknya tak dimaknai dari sudut pandang karya seni secara individual saja. Melainkan patut dipelajari juga latar belakang dibalik penciptaan karya seninya. Lantaran ia yakin bahwa para seniman, sebagaimana Affandi telah berhasil memotret perjalanan sejarah bangsa melalui goresan kuasnya. Begitu pula dengan seniman dunia lainnya yang juga menjadikan realitas sosial sebagai salah satu insiparinya.

“Bangsa yang besar adalah bangsa yang mencintai para tokoh besar termasuk seniman dengan karya – karyanya, buku ini akan menjadi warisan yang sangat berharga bagi anak cucu untuk menceritakan bahwa pernah hidup seorang maestro tanah air bernama Affandi,” jelasnya.

Adapun prosesi acara peluncuran buku itu sendiri, diawali dengan pertunjukan tarian yang dibawakan oleh 21 orang penari. Uniknya mereka mengenakan pakaian kaus, bersarung serta mengenakan topeng bergambar wajah Affandi. Ke 21 penari tersebut, memperagakan gerak – gerik Affandi ketika tengah berjalan. Di bagian akhir iringan penari, sosok Affandi lainnya berjalan sambil membawa buku The Stories of Affandi. Kemudian buku itu diserahkan kepada istri kedua Affandi, Rubiyem, lantas diserahkan kepada Kartika Affandi, hingga akhirnya Hatta Rajasa yang menerima buku itu untuk diluncurkan.

Sebelum acara seremonial launching buku berlangsung, Hatta bersama rombongan menyempatkan diri menelisik satu per satu karya Affandi yang berada di galeri pertama dan galeri ketiga. Ia memperhatikan satu demi satu lukisan tersebut sambil menerima penjelasan dari Kartika Affandi yang memilih berjalan sambil mendorong kursi rodanya sendirian.

Namun diantara lukisan yang berada di galeri satu, rombongan melewatkan satu buah lukisan karya Affandi yang berjudul Nude. Lukisan ini bergambar sosok perempuan bernama Maryati yang dilukis telanjang dengan posisi miring membelakangi. Sementara wajahnya tertutup sapuan kuas berwarna hitam.

Sementara itu, terkait buku setebal 348 halaman dan seharga Rp 1,25 juta ini, cucu pertama Affandi, Helfi Dirix menjelaskan bahwa buku itu merupakan kumpulan tulisan 15 orang seniman saat memotret sisi lain dari sosok Affandi. Sederet nama besar semisal Ajip Rosidi, Umar Kayam, Daoed Joesoep, Mia Boestam, Nashar, Nasjah Djamin, serta ada pula tulisan Suwarno Wisetrotomo, seorang dosen ISI Yogyakarta yang ikut serta menyumbangkan buah pikirnya lewat tulisan hasil wawancara dengan Sumardjono, sopir pribadi Affandi semasa hidupnya.

“Harapannya semoga bisa menginspirasi masyarakat, sehingga lahir kembali maestro – maestro lainnya,” pungkasnya. (Mon)

*)Tribunnews, 8 Juli 2012 dengan judul asli “Hatta Rajasa : Saya Cinta Seni”

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan