-->

Lainnya Toggle

Surat Untuk RA. Kosasih

Oleh: Hikmat Darmawan

ESAI PENGANTAR
ANUGERAH LIFETIME ACHIEVEMENT
R.A. KOSASIH

Pak Kosasih, komik Indonesia –para pembuat dan pembacanya, dan semua  yang diuntungkan olehnya— harus berterimakasih pada Bapak.

Tangan Bapak kini gemetar hebat jika mengangkat pena. Metabolisme perutmu telah rusak. Semua karena sebagian besar hidup Bapak habis di depan meja gambar, bekerja keras mengejar deadline membuat komik, untuk memenuhi dahaga ribuan –mungkin jutaan—penggemar komik Bapak.

Paling tidak, ada tiga generasi pembaca yang akrab betul dengan karya-karya Bapak. Sardono W. Kusumo, Umar Kayam, Arswendo Atmowiloto, dan Seno Gumira Adjidarma termasuk yang mengaku penggemar karya-karya Bapak. Dari tanganmu lahir berjilid-jilid komik superhero, komik wayang, komik petualangan, bahkan komik silat, dengan muatan yang imbang antara hiburan dan filosofi, antara yang lokal dan yang global. Tak heran jika para penggemarmu pun beragam jenisnya. Tak heran pula jika kegemaran pada komik-komik karya Bapak bisa diwariskan dari satu generasi ke generasi lainnya. Dari segi ini saja, jelas bahwa Bapak telah menciptakan tradisi.

Tapi lebih dari itu, lebih dari sekadar menciptakan tradisi membaca komik lokal selama tiga dasawarsa, karya-karya Bapak juga telah turut membidani industri komik Indonesia. Sebuah data menunjukkan bahwa konon sebuah judul komik karya Bapak bisa terjual hingga 30.000
eksemplar. Bapak sendiri mengenang bahwa dulu, komik-komik Bapak dan teman-teman Bapak sezaman, mengalahkan komik-komik terjemahan dari Amerika macam Superman, Batman, atau Spiderman. Ini prestasi luarbiasa bahkan untuk ukuran industri buku sekarang pun.

Dari tradisi dan industri itu, komik Indonesia turut menyumbang pada khasanah budaya popular Indonesia. Bukan hanya sebatas menjadi agenda setting, jadi bahan obrolan sesama penggemar. Bukan pula sebatas jadi penambah khasanah seni gambar modern di pinggiran kancah seni rupa kita. Seno Gumira pernah mencatat, pilihan Bapak untuk menggunakan
Bahasa Indonesia dalam komik Bapak sungguh menyumbang pada proses nation building Indonesia di masa formatif itu (yakni 1950-1960-an).

Pilihan bahasa ini penting, kata Seno. Kalau kita pikir-pikir, benar juga. Sewaktu Ide tentang Negara Indonesia yang bersatu dan mandiri masih abstrak di kebanyakan penduduk; sewaktu penduduk kita masih berai karena masing-masing daerah lebih akrab dengan Bahasa Belanda
dan Bahasa Daerah masing-masing, serta belum mengenal Bahasa Indonesia; komik Bapak sudah menyeberang laut ke luar Pulau Jawa, bertutur dalam bahasa nasional yang tertata, santun, dan liris.

Komik wayang memang jadi trademark Bapak. Dalam genre ini, Bapak mencontohkan (seperti juga telah Bapak teladankan saat mengadaptasi karakter Wonder Woman menjadi Sri Asih) bahwa warisan budaya dunia bisa direngkuh dan diolah menjadi budaya nasional, dan tampil dalam karya dengan signatur individual yang jelas. Bukankah ini sebuah persoalan seni rupa modern yang telah Bapak taklukkan dengan gemilang?

Lebih dari itu, lewat komik wayang ini, Bapak telah membuktikan bahwa komik bukanlah bacaan yang dengan sendirinya rendahan atau hiburan yang tak bermutu. Dengan komik wayang, Bapak menunjukkan bahwa komik adalah sekaligus seni visual dan sastra gambar yang efektif. Di sini,
Bapak menginspirasi betapa produk budaya populer modern bisa menerbitkan kearifan, pencerahan, atau kedalamannya tersendiri. “Bisa” –tapi apakah semua menyadari teladan ini?

Memang Bapak bukan yang pertama membuat komik di Indonesia. Tapi Bapaklah tonggak pertama industri komik Indonesia, dengan Sri Asih dan Mahabharata. Mungkin Bapak bukanlah penggambar terbaik, sebagaimana Bapak toh memuji komikus lain sebagai lebih bagus. Tapi,
narasi rekaan Bapak terbukti mampu melintasi zaman.

Ketika Bapak meletakkan pena untuk selamanya, ribuan halaman sudah Bapak guriskan. Dalam ukuran sewajarnya, Bapak adalah seniman yang total menggeluti medium pilihan Bapak. Sayangnya, komik bukanlah seni yang kemilau, ya, Pak. Walau tak kurang-kurang tokoh yang
merekomendasi penghargaan buat Bapak –seperti Arswendo Atmowiloto dan Seno Gumira Adjidarma, misalnya—toh, tak juga ada penghargaan yang mewujud.

Sudah saatnya kita, masyarakat pencinta dan pekerja komik, berinisiatif. Pada Festival Komik Asia 2005 pekan lalu, Bapak mendapat anugerah sebagai “Sang Inspirator”. Dan pada acara Pekan Komik dan Animasi kali ini, kami menyampaikan penghargaan yang simbolik. Penyerahan interpretasi ulang atas karya Bapak, oleh Thoriq yang pernah menggegerkan dengan komik Caroq pada era 1990-an. Ini simbol penolehan sejarah dari komikus generasi muda kepada generasi komikus pionir.

Sedang penyerahan tanda penghargaan buat Pak Kosasih, yang merupakan hasil kerjasama Konsorsium Pembaca R.A. Kosasih, Elex Media Komputindo, dan Panitia PKAN 5, merupakan tanda awal dari apresiasi kami pada kesenimanan Bapak. Konsorsium juga membuka semacam “Dompet Kosasih” agar masyarakat pencinta komik-komik Bapak, atau pencinta komik umumya, bisa ikut berpartisipasi. Ini sama sekali bukan uluran karitatif, tapi sebuah penghargaan yang seharusnya. Kalau tidak dimulai dari Bapak, kapankah apresiasi terhadap komikus lain akan
bergulir.

Semoga berkenan. Terima kasih, Bapak.

Bandung, 20 Juli 2005.

*)Disalin dari Multiply Hikmat Darmawan

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan