-->

Ruang Toggle

Radio Buku

Penggila buku di Jogjakarta Senin (23/4) lalu meramaikan peringatan enam tahun Komunitas Indonesia Buku (IBOEKOE). Lewat divisinya, Radio Buku, komunitas yang dimotori penulis Muhidin M. Dahlan itu berambisi mengarsipkan suara seribu orang pencinta buku dalam tiga tahun.

“MEMBACA adalah tindakan yang sunyi. Tatkala kesunyian itu menyergap pedalaman hati, saat itulah pengenalan spiritual di balik lembar-lembar buku dimulai, dan berakhir dengan ingatan yang tak mudah lapuk.”

Baris-baris kalimat terkait indah, tertulis di portal www.indonesiabuku.com. Di laman web yang desainnya didominasi hijau dan putih itu segala sesuatu tentang buku sebagai jendela manusia membaca dunia disajikan.

Dalam pilihan kanal web, disuguhkan katalog buku baru, esai, resensi buku, tokoh yang bergiat dalam penulisan buku, hingga puluhan tip ringan tentang dunia buku. Misalnya, bagaimana membuat perpustakaan pribadi hingga mengapa anak sering menyobek buku. Bukan hanya itu. Saat laman portal dibuka, pengunjung situs juga langsung disambut suara streaming radio yang disematkan di pojok kanan atas portal.

Tetapi, jangan berharap radio tersebut menyuguhkan entertainment pop seperti yang terdapat di frekuensi radio pada umumnya. Sebaliknya, radio yang dapat diakses khalayak umum lewat internet dengan mudah tanpa harus diunduh ini berisi tentang arsip yang berkaitan dengan buku.

Adalah Muhidin M. Dahlan yang menjadi salah seorang penggagas Radio Buku itu. Pria kelahiran Tolondo, 34 tahun silam itu, ditemui Jawa Pos di sela riuhnya pembukaan pameran seni rupa dokumentasi Re.Claim sekaligus peluncuran buku The Archive Indonesia Art World karya Dr Melani W. Setiawan di gedung Galeri Nasional Jakarta, Minggu (8/4).

“Nih, sedang ngrekam buat arsip di radio,” ungkap Muhidin sembari memegang recorder dan mendekatkannya dengan sound system besar.

Muhidin, yang mengenakan batik lengan pendek dan sepatu kanvas kala itu, serius mendengarkan dan merekam detik per detik berjalannya prosesi peluncuran buku Melani. Di dalam rekamannya juga tersemat beberapa testimoni tokoh tanah air, seperti kritikus seni rupa dan kurator pameran Jim Supangkat, hingga Direktur Museum Rekor Dunia Indonesia Jaya Suprana. Menurut Muhidin, tak semua acara yang terkait dunia buku dia datangi untuk dibikin arsip. “Harus ada bukunya,” jelasnya.

Radio Buku memang salah satu diversifikasi media dari portal Indonesia Buku. Portal itu merupakan media untuk menyampaikan visi, suara, dan ide-ide dari komunitas aktivis perbukuan, pencinta buku, hingga jurnalis yang peduli pada gerakan menghidupkan buku dalam tindakan. Komunitas ini berbasis di Jogjakarta, tapi jaringannya meluas ke berbagai kota di Indonesia.

Menurut Muhidin, sistem kearsipan di Indonesia saat ini masih lemah. Banyak momen yang meski terlihat kecil, namun sebenarnya penting, tak terekam oleh pemerintah dan media sekalipun.

Itulah sebabnya, dia memiliki ide untuk membangun suatu media yang berisi arsip-arsip buku dan seputar aktivitas perbukuan. Pada awalnya, Muhidin ingin mengembangkan Indonesia Buku dalam bentuk televisi buku. Sayang, lantaran tak memperoleh izin siar, dia lalu memilih radio sebagai media untuk menyampaikan arsip buku. “Pada kisaran 2010, saya dibantu para aktivis buku membikin Radio Buku ini,” terangnya.

Dengan modal sekitar Rp 5 juta Muhidin membeli peralatan siar sederhana. Dia mengaku tak kesulitan membuat program streaming radio di internet. “Banyak teman yang pintar bikin program streaming,” jelasnya.

Setelah jadi, Radio Buku memulai siaran perdana pada akhir 2010. Secara teknis, radio itu tak menyiarkan acaranya secara langsung. Semua acara yang disiarkan dalam bentuk arsip (rekaman).

“Setiap kata yang dilontarkan oleh announcer (penyiar radio)-nya pun diarsipkan terlebih dahulu, baru diputar di live streaming,” ungkap penulis buku Tuhan Izinkan Aku Menjadi Pelacur, dan salah satu penulis: Lekra Tak Membakar Buku itu.

Karena semua prosedur teknis menggunakan arsip, dokumentasi suara dalam bentuk MP3 bisa diunduh pendengarnya pada situs website Radio Buku.

Diferensiasi antara Radio Buku dan radio populer, antara lain, dari sisi konten. Muhidin menyebutkan, beberapa konten radio yang dianggap nyeleneh adalah rubrik pembacaan cerita dan wawancara. Hingga saat ini, radio buku telah mengarsipkan wawancara dengan kurang lebih 80 narasumber.

Memang, tak semua yang diwawancarai adalah orang populer. Misalnya,  warga di sekitar markas Radio Buku di Jalan Patehan, yang jaraknya tak lebih dari 200 meter dari dua pohon beringin Alun-Alun Selatan Keraton Jogjakarta.

“Bu, buku yang pernah dibaca dan disukai apa?” ujar Muhidin menirukan wawancaranya dengan seorang ibu rumah tangga di Jalan Patehan, yang ternyata sangat cinta dengan buku resep masakan. “Kami abadikan pendapat mereka dalam bentuk suara,” jelasnya sambil menyendok nasi uduk yang dibungkus daun.

Dalam dua tahun perjalanannya, Radio Buku juga mewawancarai sejumlah tokoh dari berbagai bidang. Misalnya, Bondan Nusantara, seniman dan penulis buku ketoprak, hingga seorang eksplorer, Agustinus Wibowo, si penulis buku Selimut Debu. Dari mancanegara, Radio Buku pernah mewawancarai penulis serta peneliti dari Australia Savitri Scherer; Annie Tucker, peneliti UCLA Los Angeles; hingga kurator sekaligus antropolog Anton Lorenz.

Kendati demikian, Muhidin menuturkan, semangat Radio Buku justru tak seperti media populer lain yang mengunggulkan unsur bombastis dan profil para tokoh terkenal. “Kami pilih metode jurnalis partikelir (semiprofesional). Yang kami utamakan justru orang-orang biasa saja,” jelasnya.

Mengapa demikian? “Karena akan jadi arsip besar ketika orang yang kami wawancarai pada suatu saat ternyata menjadi orang besar. Padahal, sebelumnya orang biasa saja,” ujarnya.

Karena itu, kini Muhidin getol mengumpulkan beragam arsip dari berbagai lapisan masyarakat dengan banyak profesi. Tak terkecuali seorang tukang sapu di Patehan. “Kami pernah menyesal tidak mengarsipkan tukang sapu yang mendedikasikan dirinya untuk kebersihan kampung Patehan, tanpa meminta imbalan sepeser pun. Ternyata esok harinya dia meninggal dunia,” akunya.

Karena itu, Muhidin dan kawan-kawannya kini mengejar target untuk mengarsipkan wawancara dengan seribu orang. “Kami targetkan tiga tahun ini rampung,” ungkapnya. Melihat konten radio yang bisa dibilang cukup berat itu, Muhidin tetap yakin bahwa Radio Buku akan kehilangan pendengar. Apalagi, misi Radio Buku menyasar seluruh usia dari anak-anak muda hingga orang lanjut usia.

“Komunitas buku akan tetap ada. Jumlahnya besar dan makin berkembang dari tahun ke tahun. Apalagi, mendengarkan buku itu sama dengan membuka cakrawala,” jelasnya.

Tak surutnya penggemar buku itu, antara lain, terlihat dari aktifnya follower Radio Buku lewat Twitter. Kini, follower-nya di atas 1.000 orang yang mayoritas penggemar buku.

Ketika ditanya apakah nanti Radio Buku dibuat komersial, Muhidin dengan tegas menjawab tidak. Radio Buku akan selalu fokus sebagai radio komunitas. Tak harus menjadi radio komersial supaya bisa dijangkau lebih banyak orang.

Selaras dengan teknologi yang semakin pesat, radio komunitas sekarang tak hanya bisa didengarkan masyarakat dengan pembatasan jarak. Lewat fasilitas internet, streaming Radio Buku pun bisa didengarkan hingga penjuru dunia.

Memilih tetap menjadi radio komunitas sebenarnya juga tak mudah. Pasalnya, banyak radio komunitas yang mati suri karena minimnya sokongan dana. Kendati demikian, itu tak dianggap sebagai masalah oleh Muhidin.

Pasalnya, Radio Buku memiliki dukungan pendanaan dari pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Dari program kegiatan pendidikan luar sekolah, Radio Buku mendapatkan kucuran dana sekitar Rp 23 juta setiap tahun.

Apakah kucuran dana pemerintah itu bakal menghambat ide dan kreativitas Radio Buku? “Tak mungkin menghambat. Sebab, saat ini pemerintah sendiri kesulitan ide kreatif. Karena itu, banyak kesempatan bagi masyarakat untuk bisa mendapatkan bantuan dari pemerintah atas ide-ide kreatifnya. Itu hak kita,” jelasnya.

Meski demikian, dia mengaku tak hanya menggantungkan biaya operasional dari pemerintah, tapi juga dari kantong pribadi. “Basis kami adalah seniman dan penulis. Kami punya banyak cara untuk mencari modal,” tandasnya lantas tertawa. (Henny Galla Pradana)

Sumber: Jawa Pos, 27 April 2012, hlm 1, “Radio Buku: Semangat Mengarsipkan Buku lewat Suara”


Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan