-->

Kronik Toggle

Penulis Buku Bencana Lapindo Masih Hidup, Namun Sembunyi Hindari Resiko

Penulis buku Lapindo File: Konspirasi SBY-Bakrie, Ali Azhar Akbar, nampaknya sengaja menyembunyikan diri bersama dengan keluarganya setelah ancaman dan teror yang diterimanya secara terus menerus pasca terbitnya buku hasil tulisannya tersebut.

Pengacara Ali Azhar, Taufik Budiman mengatakan bahwa setelah diberitakan hilang, Ali sempat mengirimkan pesan pada dirinya bahwa ia dan keluarga harus bersembunyi demi keselamatan mereka. Ali mengatakan bahwa dirinya akan kembali muncul jika waktunya dirasa sudah tepat.

Taufik Budiman sendiri cukup yakin bahwa pesan yang diterimanya memang asli dari Ali Azhar. “Bahasa yang digunakan dalam pesan tersebut sesuai dengan gayanya selama ini. Saat ini kami bersyukur bahwa dia sudah bisa dihubungi, artinya dia masih hidup dan aman,” ungkap Taufik kepada Jakarta Post tanggal 29 Juli 2012.

Sebelumnya, Ali diberitakan hilang setelah berkontak dengan pengacaranya tanggal 20 Juni 2012 silam, sesaat sebelum peluncuran bukunya, di kampus ITB Bandung. Sementara versi lain menyebutkan bahwa Ali sudah hilang kontak dengan Taufik dua hari sebelum acara ini.

Sementara itu Komisi Untuk Orang Hilang dan Tindak Kekerasan (KontraS) Surabaya Andy Irfan Junaidi mentakan bahwa sangat mungkin Ali bersembunyi bersama keluarganya mengingat mereka semua tidak bisa dihubungi. “Beberapa rekan yang memiliki akses langsung ke Ali menyatakan bahwa Ali masih menyembunyikan soal keberadaannya dan meminta agar kami tidak mencarinya dulu,” ungkap Andy.

Andy juga manambahkan bahwa Ali sempat menerima sejumlah ancaman melalui SMS dan telepon setelah peluncuran buku itu dan saat judicial review ke Mahkamah Konstitusi.

Di sisi lain, koordinator KontraS pusat, Haris Azhar menyatakan bahwa hilangnya Ali merupakan sebuah indikasi bahwa kasus orang hilang masih sangat mungkin muncul di tengah kondisi yang lebih demokratis.

“Peristiwa ini membuktikan bahwa kasus orang hilang masih sangat mungkin terjadi setelah tahun 1998. Para pelaku penculikan aktivis di era Orde Baru masih bebas berkeliaran sampai sekarang. Tak ada efek jera, karena mereka semua tidak ada yang dihukum,” ungkap Haris kepada Jakarta Post.

Bencana semburan lumpur Lapindo yang terjadi 6 tahun silam, adalah salah satu bencana lingkungan terbesar yang pernah ada di Indonesia. Akibat semburan ini, 16 desa di tiga kecamatan tenggelam, lahan yang terendam adalah lahan tebu seluas 25 hektar di desa Renokenongo, Jatirejo dan Kedung Cangkring, masih ditambah lahan seluas 172 hektar di tujuh desa, 1605 ekor unggas, 30 ekor kambing, 2 ekor sapi dan 7 ekor kijang.

Dari sisi tenaga kerja, akibat semburan ini 30 pabrik yang tergenang terpaksa berhenti beroperasi dan mengakiatkan pengangguran sejumlah lebih dari 1800 orang.

Diluar semua dampak itu, dampak kesehatan kini semakin mengancam warga karena semburan gas yang dibawa lumpur mengandung logam berat kadmium dan timbal. Menurut data dari Walhi Jawa Timur, kandungan timbal yang dibawa oleh lumpur Lapindo ini 146 kali lebih berat dari ambang batas aman bagi manusia.

Hingga kini, proses penggantian kerugian terhadap para korban lumpur ini belum diselesaikan oleh pihak PT Minarak Lapindo.

*) disalin dari mongabay.co.id, 30 Juli 2012

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan