-->

Resensi Toggle

Panduan Juri Musik & Nyanyi | Adjie Esa Poetra | 2012

Panduan Juri Musik dan NyanyiJudul: Panduan Juri Musik & Nyanyi
Penulis: Adjie Esa Poetra
Editor: Faiz Manshur
Isi:136 hlm.
Penerbit: Nuansa Cendekia, 2012

Yang Perlu Diketahui Dari Kontes Nyanyi

Oleh Donny Anggoro*

Gemebyar pelbagai kontes nyanyi misalnya seperti ajang Indonesian Idol tentunya membuat dunia musik bergairah. Apalagi kini dibantu dengan sistem penilaian yang melibatkan partisipasi aktif penonton via SMS dan ditayangkan di televisi pada prime time makin mengukuhkan keberadaan acara kontes nyanyi sebagai momen penting untuk memunculkan talenta baru di dunia seni musik. Hadirnya acara tersebut menginspirasi lomba-lomba serupa di berbagai daerah. Walau demikian, sayangnya tak banyak yang mengetahui bagaimana konsep penjurian dengan benar sehingga sepertinya dengan mencomot pemusik atau penyanyi yang sudah tenar sebagai juri urusan sudah beres.

Padahal dalam ajang kontes nyanyi Indonesian Idol belakangan ini, misalnya, komentar para jurinya sempat menjadi kontroversi lantaran mengomentari hal-hal yang tak berkaitan dengan musik. Uniknya hal seperti itu walau tak patut seolah dibiarkan supaya acara tersebut terasa penting berbekal konsep jurnalistik televisi sekarang “bad news is a good news” yaitu semakin memancing reaksi, apapun hasilnya sehingga sepertinya tak penting lagi apakah acara tersebut punya etika, pokoknya heboh!

Hadirnya buku ini seolah memberi penerangan kembali kepada tata cara standar penjurian yang benar. Ditulis oleh Adjie Esa Poetra, guru vokal senior yang pernah melahirkan sederet penyanyi tenar seperti almarhum Nike Ardilla, Melly Goeslaw, Rossa dan banyak lagi, buku ini menjadi panduan praktis bagi kita yang ingin menyelenggarakan kontes musik dan nyanyi.

Buku ini dibuka dengan bab yang menerangkan perihal integritas juri dengan mengingatkan syarat baku juri adalah orang yang selain kompeten dan jujur tapi tak terlalu kukuh dengan selera pribadinya sehingga akurasi penilaian bisa dipertanggungjawabkan. Juri yang adil adalah senantiasa memfungsikan otak dan perasaaan secara seimbang saat menilai, karena bernyanyi dan bermusik adalah pekerjaan hati dan sambung rasa sebagai media mengkomunikasikan karya seni bunyi dengan perasaan.

Adjie juga memberi penjelasan bahwa boleh-boleh saja seorang pemusik/penyanyi rock diminta menjadi juri lomba keroncong misalnya asalkan ia sendiri punya toleransi tinggi dengan jenis musik lain di samping pengetahuan dan memiliki kepustakaan musik yang memadai. Karena yang harus dihindari sebagai juri adalah orang yang terlalu fanatik terhadap satu jenis musik tertentu. Sedangkan untuk juri awam (bukan orang musik, biasanya selebriti seperti bintang film) yang kerap ada dalam tiap kompetisi nyanyi bisa diperlukan asalkan ia memiliki referensi musik yang baik. Kehadirannya secara tak langsung dapat menetralisir sikap juri lain yang mungkin sekarang sudah terlalu “kuno”, namun untuk menjaga kredibilitas, posisinya sebaiknya sebagai minoritas dengan rasio 5:1. Ini penting untuk menghindari fenomena kebuntuan penilaian antara juri karena akan lancar jika para juri sama-sama punya sikap toleransi selain bekal referensi musik yang memadai.

Dalam buku ini Adjie juga menulis beberapa profesi lain yang diperlukan untuk juri musik profesional, karena selama ini yang kerap dikenal hanyalah dari kalangan musisi atau penyanyi saja. Diantaranya mereka adalah guru musik/vokal, sound engineering, dan wartawan musik. Ketiga profesi ini memang kurang tampak karena perannya “di balik layar”, tapi cukup penting. Misalnya guru musik/vokal punya kemampuan mampu merangkul orang dari berbagai jenis musik. Begitu juga sound engineering yang kerjaan teknisnya terlibat sebagai operator studio rekaman karena profesinya sangat memungkinkan mengapresiasi berbagai jenis musik. Wartawan musik yang sudah pasti mampu mengkritik musik secara obyektif juga bisa dilibatkan karena kepustakaan musiknya yang luas dan beragam tak hanya memahami satu jenis musik saja. Untuk hal terakhir ini Adjie mengingatkan sebaiknya harus wartawan musik, bukan wartawan bidang human interest karena nantinya hanya mampu menilai penampilan fisik kontestan.

Buku ini penting dan mampu mengingatkan kepada khalayak agar kembali pada cara membentuk kompetisi nyanyi/musik yang berkualitas, bukan hal-hal lain yang dimaksudkan untuk menaikkan rating misalnya menampilkan kehebohan komentar juri yang tak berhubungan dengan musik.*

Donny Anggoro, editor lepas salah satu penerbit di Bandung, anggota Lembaga Bhinneka di Surabaya

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan