-->

Tokoh Toggle

Moeslim Abdurrahman, Obituari Penulis Buku "Islam Transformatif"

Oleh Muhammad AS Hikam

Kang Moeslim Abdurrahman, bagi saya, adalah sosok multi-talenta. Ia bukan saja seorang penulis, peneliti, aktivis LSM, dosen, politisi, tetapi juga seorang yang penuh humor dan canda.

Sebelum mengenal almarhum face to face, secara intelektual saya sudah diperkenalkan oleh almaghfurlah Gus Dur beberapa tahun sebelumnya. Sering dalam obrolan di PBNU atau dalam perjalanan kluyuran bersama almaghfurlah dan Pak Ghofar Rahman (mantan Sekjen PBNU dan aktivis LSM juga), nama Kang Moeslim muncul dengan kekocakannya yang brilian. Bahwa Kang Moeslim adalah seorang intelektual Islam yang berlatarbelakang Muhammadiyah, tidak menjadi masalah bagi Gus Dur seperti juga intelektual dengan latar belakang lain. Maka sebelum saya bertemu Kang Moeslim di kampus Cornell University Ithaca, NY pada 1994 -kalau tak keliru, saya sudah mengagumi dan menjadikannya sebagai salah satu figur intelektual yang harus saya timba kawruh dan pengalamannya.

Dan memang tidak keliru. Bersama almaghfurlah Gus Dur, almarhum Cak Nurcholish Majid, almarhum Romo Mangunwijaya, almarhum Aswab Mahasin, Pak Djohan Effendi, Pak Chabib Chirzin dan beberapa nama cendekiawan dan aktivis senior lain, saya kira almarhum Kang Moeslim adalah salah satu “hero” dalam kehidupan kecendikiawanan saya. Kendati tak selalu sependapat dengan pandangan dan langkah-langkah politik almarhum, tapi toh tak menghalangi saya untuk selalu berusaha mengikuti perkembangan pemikirannya sampai detik terakhir.

Saya bertemu terakhir dengan almarhum saat Pak Hendroprijono mengadakan pesta ulang tahun dan peluncuran buku awal Mei 2012 lalu di Hotel Dharmawangsa. Waktu itu saya lihat beliau masih seperti biasa: ceria dan penuh canda dengan tampilan khasnya yang sangat sederhana untuk ukuran seorang cendekiawan kaliber internasional.

Kang Moeslim adalah figur cendekiawan hibrid, seperti juga Gus Dur almaghfurlah. Dia tidak merasa terlalu silau sebagai seorang doktor lulusan salah satu universitas terkemuka di AS, yakni University of Illinois at Urbana-Champaign. Sosok Kang Moselim selalu mengingatkan saya kepada sosok Asghar Ali Engineer, cendekiawan Muslim dari India yang sangat sederhana, kocak, dan brilliant, yang juga karib dari almaghfurlah Gus Dur.

Buat Kang Moeslim tidak ada hal yang tidak bisa dibahas secara mendalam dan non konvensional. Mirip almarhum Ahmad Wahib yang juga karib Pak Djohan Effendi, Kang Moeslim tak segan atau menghindar dari kontroversi kendatipun harus beresiko terhadap kehidupannya. Jarang seorang cendekiawan yang guyonnnya agak “kurang ajar” di hadapan Gus Dur, dan rasanya almaghfurlah pun selalu ngakak bila di sekitarnya ada beliau.

Kang Moeslim adalah cendekiawan muslim avant garde, yang pikirannya tak mau dihalangi batas-batas aliran dan benua. Seorang jebolan pesantren kampung tetapi juga mampu bicara dalam seluruh fora dunia tentang masalah-masalah keislaman yang terjait dengan kemiskinan, kesalehan beragama, dan trensformasi umat beragama termasuk Islam. Ia memang asli Muhammadiyah tetapi sangat dekat dengan NU karena beliau share dengan terobosan yang diupayakan Gus Dur almaghfurlah.

Kang Moselim juga mengakrabi para kampiun cendekiawan seperti Romo Mangun, dan Bu Gedong dari Bali karena kesamaan obsesi mereka dengan pendidikan dan menyantuni kaum miskin. Sama dengan almarhum Gus Dur, almarhum Ibu Gedong dan almarhum Romo Mangun, Kang Moeslim juga sangat mengagumi Paolo Freire yang model pendidikannya berupa membebaskan kaum miskin dari jebakan struktural dan model pendidikan elietis yang memantapakan struktur penindasan atas nama ilmu pengetahuan!

Saya sangat berhutang budi kepada Kang Moeslim karena kecermatannya dalam mengupas masalah dan kesederhanaan dalam hidup. Saya kehilangan salah satu figur cendekiawan setelah Gus Dur yang mampu membongkar urusan yang kompleks menjadi cukup sederhana tanpa pretensi keilmuan yang ndakik-ndakik. Kang Moeslim yang saya kenal adalah seorang cendekiawan yang membumi, dan seorang yang membumi dengan tuntunan kecendekiaan. Kang Moeslim, saya teramat kehilangan anda. Selamat jalan Kang, salam hormat saya untuk almaghfurlah Gus Dur. Insya Allah anda berdua akan bertemu dan guyon lagi dalam keabadian.

Muhammad AS Hikam, Penulis adalah mantan Menristek era Presiden Gus Dur, Wakil Rektor President University

Sumber: rmol.co, 9 Juli 2012, “Gus Dur Selalu Ngakak Bila Ada Kang Moeslim”

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan