-->

Lainnya Toggle

Menulis Sampai Jauh

Oleh: Zen RS

Dalam antologi esai “Summer in Algiers”, Albert Camus menulis salah satu esai tentang posisi pengarang di Prancis. Camus tak lupa menyingung hasrat lazim para penulis yang (tentu) ingin agar tulisannya dapat dibaca secara luas. Jika ada penulis yang tidak ingin dibaca, tulis Camus lewat kalimat yang diletakkan dalam tanda kurung, “…mari kita mengaguminya tetapi tidak (perlu) mempercayainya.”

Tentu selalu ada orang (penulis atau bukan) yang menuliskan pikirannya tanpa ingin diketahui/dibaca orang lain. Jutaan halaman catatan harian yang ditulis ribuan orang dalam ratusan bahasa, saya kira, ditulis tidak untuk diketahui dan dibaca banyak orang – memang bukan tulisan jenis seperti ini yang dimaksud Camus.

Mungkin anda ingat bagaimana Pramoedya mengartikulasikan pentingnya menulis dalam katrologi Buru. Lewat mulut Ontosoroh, dalam “Anak Semua Bangsa”, Pram bilang: “Tahu kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapa pun? Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari….”

Pram, kali ini dalam “Rumah Kaca”, kembali utarakan hal serupa, kali ini bukan lewat mulut Ontosoroh tapi lewat mulut Minke: “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah.”

Artikulasi dua ucapan itu terasa berbeda kendati utarakan pesan yang sama. Pada kalimat yang dikatakan Ontosoroh, terasa sebentuk kelembutan yang intim, sehari-hari, dan karenanya terjangkau, tapi tak kurang sublimnya. Bukan hanya karena aktivitas menulis yang membuat Ontosoroh menyayangi Minke (sebuah pengakuan pribadi yang intim), tapi di situ Pram menggunakan alegori “suara” dan “angin”. Masa depan (baca: kebadian) kata-kata yang ditulis seorang penulis disampirkannya pada hal abstrak – tapi masih terhindar dari konsep– berupa “sampai jauh, jauh di kemudian hari”.

Pada kalimat yang diucapkan lewat mulut Minke, artikulasi Pram terasa lebih keras, minim sentuhan pribadi, minus alegori yang lembut, sehari-hari dan/atau terjangkau macam “angin” dan suara”. Dalam sekali pukul, Pram justru jejalkan konsep-konsep seperti “pandai”, “sejarah”, “masyarakat”. Kontras terasa pada pilihan Pram antara “di kemudian hari” dan “sampai jauh” dengan “sejarah” dan “masyarakat”.

Ini mengingatkan saya pada kritik Ignas Kleden yang menyebut bahwa percakapan antara Minke dan tokoh-tokoh laki-laki lebih mirip sebuah pertemuan gagasan, sementara percakapan dengan tokoh-tokoh perempuan seringkali menjadi pertemuan dua pribadi dengan segala macam tendensi, orientasi, dan preferensinya. Tiap kali perempuan muncul dan berdialog dengan Minke, tulis Ignas, “…terasa benar bahwa teks sendirilah yang menghasilkan dan mengharuskan munculnya percakapan-percakapan tersebut.” Sebaliknya dalam dialog dengan laki-laki, masih seperti ditulis Ignas, “…hampir-hampir menjadi diskusi yang kering dan selebral.”

Apa pun artikulasinya, dua kalimat yang diucapkan Ontosoroh dan Minke itu menggemakan hasrat yang lazim dari para penulis agar karyanya (dengan kembali merujuk Camus) “dibaca secara luas” dan jika mungkin akan terus dibaca (dengan menggunakan kata-kata Pramoedya) “…sampai jauh di kemudian hari”.

Pada video di atas, Jorge Luis Borges juga berbicara tentang karya yang dibaca secara luas dan mendatangkan “lingkaran besar pertemanan yang tak ternilai harganya”.

Wawancara itu dilakukan Joaquín Soler Serrano dibuat pada 1976, dua dekade setelah Borges mengalami kebutaan total (sekitar tahun 1955, saat Borges sudah menjadi Ketua Perpustakaan Nasional Argentina). Pada kesempatan wawancara itu, Borges berbicara banyak hal. Dalam versi ringkas seperti yang saya pajang di sini, Borges terutama berbicara tentang tugas kesenian untuk terus menerus mentransformasi apa yang dialami oleh manusia ke dalam bentuk simbol-simbol yang kelak “…akan bersemayam dalam ingatan manusia” (into something which can last in man’s memory).

Kata-kata Borges itu satu gema dengan kata-kata Ontosoroh (“…akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari). Lebih jauh dari itu, Borges juga berkata bahwa tulisan yang hidup dan bersemayam dalam ingatan banyak orang akan menjadikan penulisnya menetap dalam suatu pusat lingkaran besar pertemanan yang tak sepenuhnya bisa dikenali dan dimengerti oleh si penulis itu sendiri. Dan, bagi Borges, itulah pahala yang tak ternilai harganya (“And that is an immense reward”).

Pada pertemuan wawancara berikutnya dengan Joaquín Soler Serrano, kali ini 4 tahun kemudian pada 1980, Borges kembali mengulang tema tentang pertemanan surealis sebagai pahala bagi seorang penulis. Kata Borges kala itu: “Begitu surealis rasanya mencari seorang teman di mana pun kita berada dan mengetahui ternyata begitu banyak teman-temanku, mereka yang tidak pernah kenal dan temui. …Ini sungguh nyata. Saya tak bisa menjelaskan ini, meski aku pun ragu banyak hal di dunia ini dapat dijelaskan.”

Anda boleh percaya Borges sekaligus mengaguminya. Atau, dengan mengutip Camus kembali, anda juga boleh mengagumi tanpa harus mempercayainya.

*)Disalin dari web pejalanjauh.net, 18 Juli 2012

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan