-->

Kronik Toggle

Menanti Mekarnya Kuncup Komik Indonesia

Oleh Nanien Yuniar

Komikus belum menjadi profesi menjanjikan di Indonesia. Komik Indonesia belum jadi tuan rumah di negeri sendiri. Pasar komik dalam negeri sampai sekarang masih didominasi produk komik luar negeri.

Namun semua itu tak membuat komikus tanah air menyerah. Mereka tetap menyumbangkan karya untuk meramaikan dunia perkomikan Indonesia walaupun pendapatan mereka dari komik tidak seberapa.

“Bikin komik di Indonesia itu lebih ke idealisme. Istilah bagusnya sih, mau memajukan perkomikan Indonesia,” kata ilustrator dan seniman komik, Bayou, saat ditemui Antara News di pameran pop culture Popcon Asia.

Komikus yang belajar membuat komik secara otodidak itu mengatakan sampai sekarang pendapatan seniman Indonesia dari karya komik mereka belum bisa dijadikan andalan untuk hidup, tidak seperti di negara lain.

“Kalo di Jepang bisa sampai terjual sekian juta eksemplar, itu di Jepang doang. Kalau di sini, tiga ribu  eksemplar juga susah. Daya baca dan daya beli Indonesia itu rendah banget,” keluh perempuan yang sejak kecil membaca komik Indonesia karya RA Kosasih itu.

Ilustrator yang gaya gambarnya terinspirasi manga itu mengatakan, bila semata-mata ingin mencari uang maka pasar luar negeri jauh lebih menjanjikan.

“Kalau di luar negeri, harga yang kita bilang mahal itu, murah kalau kata orang luar,” kata Bayou, yang komik pertamanya “The 9 Lives” diterbitkan oleh penerbit Amerika Serikat, Tokyo Pop.

Di luar negeri dia menjual doujinshi–manga karya fans berdasarkan alur cerita komik yang sudah beredar– karyanya seharga 10 dolar AS, sama dengan harga komik profesional dari penerbit yang jumlah halamannya lebih banyak.

“Kalau di sini, sudah cetak mahal, mau ngambil untung gede juga mikir..’orang-orang bisa beli nggak ya?’ ” kata Bayou yang sekarang bekerja sebagai ilustrator di sebuah perusahaan media.

Untuk pasar komik dalam negeri, Bayou sekarang sedang mengerjakan dua proyek komik dengan penerbit komik online Makko dan penerbit KOLONI (Komik Lokal Indonesia).

Seperti Bayou, Archie the Redcat juga mengandalkan pemasukan dari luar negeri. Ratusan karya ilustrasi dia ludes terjual di luar negeri.

“Kalau ngandelin lokal ya cuma untuk jajan doang. Cuma idealisme aja,” ungkap komikus yang sudah menelurkan karya “White Feathers” dan “Luv” untuk pasar komik dalam negeri itu.

Menurut Archie, proses membuat komik di Indonesia adalah proses terbalik dari pembuatan komik di luar negeri.

“Kalau di luar kita bikin komik buat dapat uang. Di sini, saya ngumpulin duit dulu baru bisa bikin komik,” ujar Archie.

Komikus yang mencintai kucing dan warna merah itu mengatakan sebenarnya pembuatan komik membutuhkan konsentrasi tinggi sehingga tidak bisa diganggu dengan pekerjaan lain.

Dan karena hasil membuat komik baru bisa diperoleh setelah komik diterbitkan, maka dia harus mengumpulkan uang untuk biaya hidup selama membuat komik.

“Dapat uang dari komik kan nanti kalau sudah terbit di toko buku. Bikin komik kan bisa berbulan-bulan, misalnya enam bulan. Nah, selama enam bulan makan apa dong?” kata Archie.

Pencipta komik “Sang Sayur”, Shirley alias SYS, menyiasati masalah itu dengan menjual pernak-pernik komik.

Lulusan Desain Komunikasi Visual Parsons School of Design, New York, itu memanfaatkan ilmunya untuk membuat pernak-pernik komik buatannya seperti boneka bawang putih yang jadi maskot “Sang Sayur”.

“Lumayan untungnya kalau ditambah dari merchandise,” kata SYS, yang mengaku tak akan menolak kalau mendapat pekerjaan ilustrasi lain.

“Kalau ada proyek lain yang bisa dihandle why not? Kan income juga,” kata ilustrator yang sempat belajar membuat komik di Machiko Manga School itu.

Restu orang tua

Dengan status profesi yang keuntungannya tidak jelas, membuat sebagian orangtua tidak mendukung keinginan anaknya menjadi komikus.

Archie pun sempat mengalami masa-masa itu. Prestasi sekolahnya sempat jatuh karena prioritas utamanya membuat komik. Archie sampai pernah dilarang menggambar oleh orangtuanya.

“Tapi saya keras kepala. Saya diam-diam ikut lomba komik, lomba gambar. Pulang-pulang ke rumah tahu-tahu dapat piagam dan duit,” ujar Archie.

Orangtua Archie pun akhirnya luluh melihat kesungguhan anaknya. “Akhirnya orang tua mengerti, ternyata saya bisa berprestasi di bidang itu,” kenang Archie yang mulai menemukan banyak teman seperjuangan setelah mengikuti lomba komik di majalah Animonster.

Hal yang sama dialami Jhosephine Tanuwidjaya alias Jho-Tan, komikus yang karya debutnya di Indonesia mulai terbit bulan ini. Awalnya dia tidak mendapat restu orang tua.

“Orang tua menganggap komik itu kesannya cuma buat anak-anak. Jadi sulit untuk didukung,” ungkap Jho yang belajar ilustrasi di Sheridan College, Kanada, dan baru kembali ke tanah air tahun lalu.

“Tapi sekarang orang tua saya sudah menerima karena saya kelihatan benar-benar kerja keras, nggak main-main,” kata perempuan yang selagi di Kanada sudah menjual karya-karyanya ke Amerika dan Inggris.

Menembus penerbit

Harapan agar komik Indonesia bisa menjadi tuan rumah di negeri sendiri tampaknya bukan hal yang muluk lagi.

Kini, peluang mengorbitkan komik karya sendiri mulai bertambah. Ada penerbit seperti KOLONI yang berdedikasi menerbitkan komik karya anak Indonesia. Ada juga penerbit komik online seperti MAKKO,
yang menyediakan komik-komik dalam jaringan yang bisa diakses semua orang tanpa biaya.

Menurut Marketing Director MAKKO, Jozef Thenu, penerbitannya memang bertujuan untuk membangkitkan industri komik di dalam negeri.

“Semurah-murahnya komik Indonesia, orang-orang pasti akan memilih beli komik luar negeri. Jadi kami buka gratis,” katanya.

Walau medianya online, penerbitan itu menerapkan konsep penerbitan seperti penerbit komik cetak profesional.

“Ada sistem editorial. Mungkin MAKKO bisa dibilang nyebelin karena banyak minta revisi sini situ. Tapi itu harus dilakukan agar industri komik Indonesia rapi,” kata Jozef.

Jhosephine juga memulai karirnya lewat MAKKO. Salah seorang temannya sejak SMP yang bekerja di MAKKO mengajak Jho bergabung setelah melihat portofolio Jho di internet.

“Setelah saya balik dari Kanada mereka suruh saya masuk MAKKO. Bulan Juli komik saya mulai terbit di situ,” kata Jho merujuk pada komik barunya yang berjudul “Kentang”.

Bila Jho ditawari penerbit, beda hal dengan Matto. Lelaki yang kini menjadi ilustrator komik “5 Menit Sebelum Tayang” itu memulai karirnya dengan mengirimkan karyanya ke penerbit.

Menurut Matto, tidak sulit menembus penerbitan. “Saya melihat karya-karya yang masuk penerbit itu. Lalu saya buat komik dengan standar seperti itu,” ungkap Matto.

Komikus bernama asli Muhammad Fathanatul Haq itu sudah menerbitkan komik berjudul “1SR6”, yang bercerita tentang sebuah kelas di sekolah menengah seni rupa Jogjakarta.

Semua itu menumbuhkan optimisme akan kebangkitan komik di Indonesia. Jho pun yakin suatu saat karya-karya komikus Indonesia bisa akan menjadi tuan rumah di negeri sendiri.

“Komik Indonesia itu masih kuncup. Mungkin lima tahun ke depan bisa jadi pekerjaan yang menghasilkan,” kata Jho.

Matto mengamini hal itu. Menurut dia, pasar komik Indonesia makin potensial seiring berjalannya waktu.

“Ke depannya komik Indonesia pasti bisa berjaya kalau terus konsisten. Sekarang saja sudah lumayan banget,” pungkas dia.

*)Kompas Online, 3 Juni 2012

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan