-->

Kronik Toggle

Menag Tertawa Baca Buku "Wartawan Naik Haji"

Jakarta- Menteri Agama Suryadharma Ali tertawa membaca buku “Wartawan Naik Haji: Tersungkur di Gua Hira” karya Wakil Pemimpin Redaksi ANTARA Akhmad Kusaeni yang pada musim haji 2011 mendampingi Amirul Haj sebagai pengarah “Media Center Haji”.

“Buku ini memotret semua kegiatan saya selaku Menteri Agama dan Amirul Haj.Tetek bengek penyelenggaraan haji diubek-ubek. Itu tercermin dalam tulisan dan juga foto-foto narsisnya. Dasar wartawan, saat melempar jumrah saja difoto. Padahal saya yang menteri, tidak difoto,” ujarnya di Jakarta, Jumat.

Menag sebelumnya menerima buku “Wartawan Naik Haji” dari Pemimpin Redaksi LKBN ANTARA Saiful Hadi dan Akhmad Kusaeni, penulis buku.

“Saya mau juga dong dibuatkan buku foto seperti ini,” kata Menag yang langsung dijawab oleh Saiful Hadi bahwa fotografer ANTARA dengan senang hati membuatnya.

Menag mengaku senang dengan penerbitan buku tersebut karena memuat foto-fotonya yang dalam situasi sangat manusiawi, relaks, dan plong/longgar di tengah suasana memimpin operasi penyelenggaraan haji yang ruwet dan kompleks.

Ia terbahak-bahak saat melihat fotonya (di halaman 173) yang sedang menggendong bayi yang lahir di suatu rumah sakit di Madinah dari seorang jamaah haji Indonesia. Di latar belakang tampak si ibu yang baru melahirkan masih tergolek di ranjang memperhatikannya.

“Saya seperti ayah bayi itu di foto ini, padahal di depan saya ada KH Hasyim Muzadi yang tidak terlihat di foto,” paparnya.

Ia juga tersenyum-senyum saat melihat foto dirinya yang sedang dipijat-pijat tangannya oleh seorang nenek-nenek jamaah haji pada bab “Mati Ketawa Ala Jamaah Haji” (hal 150). Wajah si nenek bernama Koyimah binti Nasrun dan berumur 102 tahun itu tampak sumringah, sementara Menag tampak tersenyum-senyum menikmati pijatan si nenek.

“Nenek ini sadar kamera ya, padahal umurnya sudah lebih 100 tahun. Dengan keahliannya memijat tangan jamaah haji yang kecapaian, dia dapat uang banyak tuh,” ucapnya tidak mau menjelaskan berapa tips yang diberikan kepada si nenek seusai dipijat tangannya.

Ia juga “surprise” melihat di buku itu ada juga fotonya yang sedang memotret dengan masih mengenakan pakaian ihrom, sementara puterinya menggelendot dengan manja memperhatikan gambar yang ada di kamera (halaman kata sambutan menteri agama).

“Tidak cuma wartawan yang bisa memotret, menteri juga bisa. Lihat gambar ini,” katanya.

Buku “Wartawan Naik Haji: Tersungkur di Gua Hira” sebelumnya diluncurkan dengan membagikannya kepada sejumlah tokoh seperti Menteri Komunikasi dan Informatika Tifatul Sembiring, Dirut PT Balai Pustaka Zaim Uchrowi, Dirut RRI Niken Widiastuti, Dirut TVRI Farhat Syukri dan Dirut ANTARA Ahmad Mukhlis Yusuf.

“Buku ini merupakan ijtihad diri saya untuk bisa lebih memaknai prosesi haji. Kalau tidak tahu maknanya, haji hanya jadi perjalanan wisata saja,” kata Akhmad Kusaeni.

Akhmad Kusaeni adalah pengarah “Media Center Haji” pada 2011. Ia mengatakan bukunya yang diterbitkan oleh Antara Publishing itu dimaksudkan untuk membantu para calon peziarah haji dan umroh supaya bisa menjadi mabrur dalam ibadahnya.

“Tanpa pemahaman terhadap sejarah haji dan konstektualnya dengan masalah kekinian, ibadah haji akan menjadi hampa dan sia-sia. Perjalanan ibadah haji tidak akan lebih dari perjalanan wisata saja. Jamaah yang tanpa penguasaan akan falsafah haji hanya akan menjadi turis tanpa makna,” tukasa.

Kusaeni mengatakan setiap tahun begitu banyak jamaah haji Indonesia yang berangkat ke Tanah Suci, tapi korupsi tetap saja marak, kejahatan-kejahatan tetap terjadi. Seakan-akan hajinya sia-sia. Kesalehan sosial tidak tercipta sepulang dari ibadah haji.

“Haji mabrur hanya manis sebagai doa dan ucapan selamat. Itu karena jamaah tidak memahami falsafah haji secara utuh,” ujarnya.

Buku Wartawan Haik Haji: Tersungkur di Gua Hira ini berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan pribadi Kusaeni sendiri sebagai calon haji pada 2011. Pertanyaan-pertanyaan mendasar tersebut belum ia dapatkan dari manasik atau buku-buku haji yang ada.

Ia berusaha mencari jawabnya sendiri dengan menelusuri kitab-kitab, selancar di mesin pencari dunia maya, atau mewawancarai ahlinya.

“Jawaban hasil ijtihad pribadi saya itulah yang akan anda baca lembar demi lembar, halaman demi halaman dari buku ini,” tuturnya.

Pertanyaan-pertanyaan itu adalah mengapa harus berhaji, mengapa harus di Arafah, mengapa harus bermalam di tenda di Mina, mengapa harus melempar setan dan mengapa batunya harus diambil di Musdalifah, mengapa harus ada kewajiban qurban, mengapa tahalul sebaiknya sampai gundul, mengapa ini, mengapa itu?.

Buku ini juga dilengkapi foto-foto yang diambil oleh wartawan profesional dan diberi kata pengantar oleh Menteri Agama Suryadharma Ali.(*)

*)ANtara, 20 Juli 2012

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan