-->

Ruang Toggle

Komunitas akumassa

akumassa adalah program dokumentasi warga yang digagas Forum Lenteng. Forum Lenteng adalah organisasi yang berbentuk perhimpunan dengan anggota individu yang didirikan oleh pekerja seni, peneliti budaya, mahasiswa komunikasi/jurnalistik pada tahun 2003. Forum ini bekerja mengembangkan pengetahuan media melalui pendidikan alternatif berbasis komunitas. Forum ini bertujuan menjadikan pengetahuan media bagi masyarakat untuk hidup yang lebih baik, terbangunnya kesadaran bermedia, munculnya inisiatif, produksi pengetahuan, dan terdistribusikannya pengetahuan tersebut secara luas.

Ada beberapa program di Forum Lenteng, salah satunya adalah Program Pendidikan dan Pemberdayaan Komunitas Melalui Media, akumassa. Program ini merupakan kerja kolaborasi dan berjejaring dengan berbagai komunitas di daerah dengan melakukan pelatihan penggunaan media (video, teks, fotografi dan media online) sejak 2008. Hingga saat ini, Program akumassa telah dilaksanakan di 10 lokasi, yaitu; Rangkasbitung, Lebak—Banten, Ciputat—Tangerang Selatan—Banten, Cirebon—Jawa Barat, Lenteng Agung—Jakarta Selatan, Padang Panjang—Sumatera Barat, Serang—Banten, Surabaya—Jawa Timur, Randublatung, Blora—Jawa Tengah, Pemenang, Lombok Utara—Nusa Tenggara Barat dan Depok—Jawa Barat.

akumassa.org adalah jurnal online berbasis komunitas yang dikembangkan oleh Forum Lenteng sejak 2008. Berawal dari alat mekanisme pelaporan aktivitas program, jurnal ini kemudian berkembang menjadi jurnal yang secara independen dikelola oleh komunitas; www.akumassa.org.

Hingga saat ini, www.akumassa.org dikelola oleh 10 sub-redaksi yaitu; Forum Lenteng (Jakarta), Gardu Unik (Cirebon), Anak Seribupulau (Blora), Saidjahforum (Rangkasbitung), Komunitas Sebumi (Serang), Komunitas Djuanda (Tangerang Selatan), Komunitas Kinetik (Surabaya), Komunitas Pasir Putih (Lombok Utara) dan Komunitas Suburbia (Depok-Jawa Barat). Selain itu juga ada kontributor-kontributor dari berbagai daerah yang tidak menjadi bagian dari Program akumassa. Mereka berasal dari; Bandung, Bogor, Tangerang, Depok, Indramayu, Klaten, Malang, Padang, Pamulang, Purworejo, Solo, Sukabumi, dan Tasikmalaya. Seluruh kontribusi komunitas dan kontributor dilakukan secara mandiri tanpa bayaran dan dapat didistribusikan ulang secara gratis (open source).

Didasari atas gagasan tentang jurnalisme warga, masyarakat khususnya pekerja kreatif muda (usia 19-35 tahun) yang dapat memanfaatkan tekhnologi modern dan internet global sebagai media informasi alternatif dan juga untuk melengkapi maupun memeriksa fakta-fakta yang diberitakan dalam media. Apa yang dikerjakan oleh Forum Lenteng selama ini, adalah sebuah usaha mengumpulkan narasi-narasi kecil tentang kota yang dituturkan ‘sendiri’ oleh masyarakatnya. Karena selama ini berita-berita yang diketahui oleh masyarakat berada pada kuasa media massa besar. Dengan gagasan tersebut, Forum Lenteng berinisiatif untuk membuat media massa alternatif  berbasis jaringan internet dalam bentuk blog yang diaplikasikan ke dalam program dan ide akumassa.

Isi dalam artikel-artikel yang terbit dalam www.akumassa.org berisi tentang kepingan-kepingan kecil akan sejarah dan peristiwa di tiap kota dampingan ataupun kota di luarnya.

Media produksi informasi dan komunikasi ini memiliki peluang yang cukup besar sebagai media yang dikelola oleh masyarakat itu sendiri untuk memberikan informasi dan pandangan yang dimilikinya atas sejarah dan peristiwa yang terjadi, baik dalam lingkup terkecil (komunitas) hingga hubungannya dengan negara.

Program Pemantauan Media oleh Komunitas

Sejak bergulirnya Reformasi 1998, Indonesia saat ini menjadi salah satu negara dengan keterbukaan informasi dan kebebasan bermedia yang paling menjanjikan. Kontrol yang ketat terhadap media massa oleh penguasa yang selama hampir 32 tahun kekuasaan Orde Baru, diruntuhkan oleh gerakan mahasiswa. Keterbukaan itu telah melahirkan ‘perayaan’ bermedia dengan bebas di Indonesia dengan diikuti oleh lahirnya media massa baru yang diprakarsai oleh para pemilik modal dan masih terpusat di kota-kota besar (Jakarta, Surabaya, Bandung, Medan, Makassar dan lain-lain). Sehingga arus informasi itu, tetap saja masih dikuasai oleh sebagian kecil lembaga/perusahan media dan terpusat di kota-kota besar, yang pada akhirnya memunculkan ketimpangan produksi dan arus infomasi di tingkat bawah. Untuk itulah perlu sebuah prakarsa untuk melibatkan masyarakat secara aktif dalam memproduksi informasi dan mendistribuskannya secara mandiri.

Dengan berkembangnya dan mudahnya akses teknologi informasi oleh masyarakat,  telah memberi peluang kepada kita untuk terlibat dalam aksi ‘bermedia’. Atas dasar itulah Forum Lenteng membuat Program Pemantauan Media oleh Komunitas, yang melibatkan komunitas tingkat lokal memproduksi informasi sendiri. Program ini berupa pelatihan media (audio visual, teks dan online) di komunitas lokal—dengan partisipan umur 19 tahun keatas. Produksi informasi yang berupa konten lokal itu didistribusikan secara terbuka. Melalui Program akumassa, para partisipan membangun kesadaran bersama untuk memproduksi informasi yang mereka perlukan. Komunitas-komunitas ini membentuk kerja sama bermedia antar komunitas yaitu; Jaringan Kerja akumassa. Jaringan ini bekerjasama dalam pertukaran informasi untuk peningkatan kerja mereka masing-masing.

Atas prakarsa Forum Lenteng, dibuatlah website www.akumassa.org yang menjadi mekanisme distribusi informasi tersebut. Atas dasar itu, melihat potensi Jaringan Kerja akumassa, Forum Lenteng berinisiatif melakukan program pemantauan media oleh komunitas lokal. Program ini juga menjadi program peningkatan kapasitas jurnalis komunitas dan menjadi bagian dari upaya partisipasi publik dalam memantau media di Indonesia.

Adapun isu-isu pokok yang dipilih sebagai fokus dalam kegiatan pemantauan  media oleh komunitas di tingkat lokal. Isu-isu tersebut berfungsi sebagai batasan analisa para pemantau terhadap pemberitaan yang disajikan oleh media massa lokal, di antaranya adalah, Good Governance atau Kebijakan Publik, Hak Asasi Manusia (HAM), Perempuan dan/atau Anak, Kriminalitas, Lingkungan Hidup, dan Perilaku Pelaku Media.

Good Governance atau Kebijakan Publik dapat diartikan secara sederhana adalah suatu istilah yang mewacanakan bagaimana terwujudnya satu tatanan pemerintahan yang baik, di mana negara bekerjasama dengan pemilik modal dan pemangku kepentingan lainnya (termasuk media) dan juga masyarakat untuk menciptakan kesejahteraan bagi semuanya (masyarakat). Keindependenan media berfungsi sebagai bank informasi, wadah atau kanal edukasi bagi publik dan juga sebagai kontrol sosial. Karena itu peran media menjadi isu yang cukup penting dalam menciptakan pemerintahan yang baik dan bersih.

Hak Asasi Manusia (HAM) dapat diartikan sebagai segala bentuk hak yang melekat pada manusia dan keberadaannya sebagai makhluk Tuhan yang wajib dihormati, dijunjung tinggi dan dilindungi oleh apa dan siapapun (termasuk negara dan peraturan hukum) demi kehormatan, harkat dan martabatnya. HAM merupakan satu hal yang tidak dapat dikurangi dalam bentuk dan keadaan apapun dan oleh siapapun. Hak-hak dasar itu meliputi hak untuk hidup, hak untuk tidak disiksa, hak kebebasan pribadi, pikiran dan hati nurani,hak beragama, hak untuk tidak diperbudak, hak untuk diakui sebagai pribadi dan persamaan di dalam hukum, hak untuk berserikat, hak untuk tidak dituntut atas dasar hukum yang berlaku surut. Atas dasar itu media memiliki peran, kewajiban dan peran untuk memantau kinerja negara (pemerintah) dalam menjalankan kewajibannya untuk memenuhi hak-hak warga negara, yaitu HAM itu sendiri.

Perempuan dan/atau Anak menjadi penting dalam pemantauan terhadap media karena dua hal ini merupakan salah satu tema yang paling sering diangkat oleh media. Posisi perempuan dan anak sebagai kelompok yang dianggap rawan, memiliki potensi menjadi objek dalam pemberitaan media.

Kriminalitas atau Kejahatan di sini ialah segala bentuk perbuatan (yang diberitakan media) yang memperlihatkan relasi antar pelaku dan korban, yang memunculkan kerugian, serta merupakan tindakan pidana (melanggar ketentuan hukum dan Undang-Undang yang berlaku). Dalam kajian News-making criminology, tidak lepas dari persoalan bagaimana media membentuk realitas pemberitaan di media massa yang sering mengalami mistifikasi atau tidak proporsional dengan realitas sebenarnya. Pemberitaan yang tidak mengungkap realitas tentang seriusitas kejahatan, tipologi kejahatan yang paling banyak terjadi di masyarakat, penciptaan image yang tidak tepat tentang kejahatan dan penjahat, penggunaan terminologi yang tidak tepat, serta pemberitaan yang melanggar hukum dan etika pers.

Isu tentang Lingkungan Hidup menjadi penting, karena lingkungan erat kaitannya dengan kesejahteraan manusia. Pengertian lingkungan yang dimaksud di sini ialah kombinasi antara kondisi fisik yang mencakup keadaan sumber daya alam seperti tanah, air, energi surya, mineral serta flora dan fauna yang tumbuh di atas tanah maupun dalam lautan, dengan kelembagaan yang meliputi ciptaan manusia seperti keputusan bagaimana menggunakan lingkungan fisik tersebut. Kemudian media massa itu sendiri berkewajiban dalam menjamin adanya perhatian yang luas terhadap upaya-upaya sistematis dalam memulihkan kembali kelestarian lingkungan hidup.

Perilaku Pelaku Media merupakan isu yang bersifat kasuistik, yaitu lebih memfokuskan pada pemantauan terhadap tindak-tanduk yang dilakukan oleh pelaku media (wartawan atau jurnalis) dalam menyajikan materi kepada publik, serta tindakan mereka dalam meliput berita.

Berbagi Buku

Mulai pertengahan bulan Mei 2011, Forum Lenteng dan program akumassa mendistribusikan sejumlah buku untuk program perpustakaan komunitas. Buku-buku ini adalah bagian dari program Buku Untuk Semua yang digagas oleh Forum Lenteng atas dukungan Ford Foundation, sebagai salah satu cara mendistribusikan pengetahuan kepada masyarakat.

Untuk tahap awal, Forum Lenteng mendistribusikan 40 judul buku dengan berbagai jenis isi berupa; sejarah, teori komunikasi, filem dan video, sastra, dan pengetahuan umum. Komunitas yang menerima Buku Untuk Semua pada tahap awal ini adalah; Komunitas Sarueh–Padang Panjang Sumatera Barat, Saidjah Forum–Lebak Banten, Komunitas Djuanda–Ciputat Tangerang Selatan dan Komunitas Pasir Putih–Pemenang Lombok.

Program pengembangan Perpustakaan Komunitas ini akan diikuti pula oleh pendistribusian DVD Untuk Semua kepada jaringan Komunitas akumassa dalam waktu dekat. DVD Untuk Semua adalah program penerjmahan ke subteks Bahasa Indonesia filem-filem yang dianggap penting dalam sejarah sinema dunia. Hingga saat ini telah lebih dari 40 filem yang telah diterjemahkan Forum Lenteng ke dalam subteks Bahasa Indonesia. Filem-filem ini adalah bagian dari pembelajaran sejarah dan bahasa filem bagi komunitas untuk mengembangkan diri dalam penggunaan bahasa audio visual dalam memproduksi informasi dan karya-karya mereka.

Forum Lenteng dan akumassa berharap sumber pengetahuan ini dapat diberdayagunakan oleh kawan-kawan komunitas dan mendistribusikannya pengetahuan yang didapat kepada masyarakat.

Profil Jaringan

Sanggar Gardu Unik didirikan 29 September 2005 oleh Nico Broer di kota Cirebon. Sanggar ini memfokuskan kegiatannya pada pendidikan, terutama bidang seni rupa. Anggota sanggar ini sebagian besar merupakan pengajar di sekolah-universitas. Program pendidikan yang diberikan berupa privat —dimana siswanya datang ke sanggar dengan pengajar satu orang; regular—satu minggu sekali; dan workshop —di Februari 2008, workshop video di Komunitas Jurnalistik Rumah Pena yang diperuntukkan bagi siswa sekolah menengah umum. Sanggar Seni Rupa Gardu Unik juga melakukan program pengiriman pengajar ke sekolah-sekolah untuk memberikan pendidikan: seni musik, seni rupa, desain grafis, teater, dan seni tari. Terlibatnya Sanggar Gardu Unik dalam beberapa event, festival, workshop, nasional maupun internasional, baik dalam seni tradisi maupun seni kontemporer (video salah satunya) memungkinkan bagi institusi pendidikan ini untuk berkembang dan melahirkan kemungkinan-kemungkinan dalam sistem pendidikan alternatif.

Sanggar Gardu Unik
Permata Harjamukti blok H4 No.06
Cirebon – Jawa Barat
Telp.08179074773
www.garduunik.co.cc

————————————————————————————————————————————–

Kelompok Studi Sarueh didirikan oleh mahasiswa Sekolah Tinggi Seni Indonenesia (STSI) Padang Panjang pada 16 Oktober 2008 sebagai tempat proses kreatif dan belajar untuk dapat menjadi bagian penting dalam perkembangan dunia komunikasi (penyiaran dan filem) di Indonesia. “Sarueh” atau dalam bahasa Indonesia seruas atau satu ruas yang artinya secara filosofis merupakan bagian terkecil dari masyarakat yang mengharapkan ruas yang kecil ini akan bercabang kemana-mana.

Sarueh terdiri dari 15 orang mahasiswa jurusan televisi dan film STSI Padangpanjang. Berawal dari obrolan kecil antar beberapa teman yang merasa tidak nyaman dengan proses perkuliahan dan merasa jauh panggang dari api untuk mendalami disiplin ilmu yang diminati, maka munculah keinginan untuk membuat sebuah kelompok kecil yang bertujuan untuk belajar mandiri (independen) terlepas dari tekanan dan permasalahan di kampus. Sarueh mempunyai moto “Ciek ndak ka jalan, basamo nan ka jadi” (Satu orang saja tidak akan berjalan, bersamalah akan menjadi).

Kelompok Studi Sarueh saat ini beraktifitas di rumah kos di Kampung Dobi Padang Panjang. Para penggiat kelompok studi ini antara lain; Linda (ketua), Ari (wakil), Ipunk (sekretaris), Sherin (bendahara), Fandi (humas), Angga, Via, Ulil, Rudi, Capaik, dan Roni.

Kelompok Studi Sarueh
Jalan Bahder Johan No. 30
Kecamatan Guguk Malintang
Padang Panjang – Sumatera Barat 27128
www.sarueh.wordpress.com

————————————————————————————————————————————–

SaidjahForum berdiri pada 3 Februari 2005 di Serang, dibentuk oleh beberapa mahasiswa komunikasi, kampus Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (UNTIRTA) Serang. Sejak itu forum ini mengalami perjalanan dalam pengorganisasian, kemudian Juli 2007, Fuad Fauji dan Helmi Darwan sebagai ketua pengurus forum ini memutuskan untuk pindah menuju Rangkasbitung, maka sejak 2007 Saidjah Forum berdomisili dan fokus pada permasalahan sosial budaya di wilayah Lebak, tepatnya kota Rangkasbitung.

SaidjahForum
www.forumsaidjah.wordpress.com

————————————————————————————————————————————–

KOMKA pada awalnya adalah sebuah kelompok diskusi bagi mahasiswa KPI dalam mengaktualisasikan dan merambah wacana disiplin keilmuan komunikasi yang dirasa sangat sedikit didapat di bangku kuliah ketika itu. KOMKA didirikan pada tanggal 5 mei 2004 oleh mahasiswa KPI (Komunikasi Penyiaran Islam) FDK (Fakultas Dakwah dan komunikasi) angkatan 2003 yang ketika itu sedang menempuh studi di semester II. Seiring berjalannya waktu, geliat KOMKA makin produktif dalam mengasah kepekaan mahasiswa sehingga pada tanggal 28 Mei 2005, KOMKA berubah nama menjadi “Komunitas Mahasiswa Kreatif Audio Visual”. Sebelumnya akronim KOMKA adalah “Komunitas Mahasiswa Komunikasi”, namun kecenderungan anggotanya untuk berkreatifitas dan berminat di bidang audio visual. Pada saat ini konsentrasi KOMKA di bidang sinematografi, video dan dunia perfilman secara luas, artinya KOMKA salah satu komunitas yang bergerak di bidang tersebut.

KOMKA
www.komkauin.blogspot.com

————————————————————————————————————————————–

Anakseribupulau adalah komunitas terbuka di Randublatung, Blora. Sebuah komunitas mandiri yang dibentuk oleh empat orang yaitu Exi, Djuadi, Hasan dan Agung pada 1999. Mempunyai anggota dengan latar belakang heterogen mulai dari mahasiswa, seniman dan pecinta alam (MAPALA). Aktifitas kelompok ini banyak dipengaruhi oleh kebudayaan punk (khususnya musik), dan aktif dalam memberikan workshop daur ulang sampah (recycle), cukil kayu dan beragai macam kegiatan kesenian lain, baik untuk sekolah atapunu komunitas lain. Selain itu komunitas anakseribupulau juga aktif dalam pembuatan zine-zine lokal yang membahas isu lokal.

Anakseribupulau
Jalan Onggososro no. 20 RT. 05/RW.02
Desa Randu, Kecamatan Randublatung
Blora – Jawa Tengah
Telp. (02596) 810532, 081225163277
www.anakseribupulau.info

————————————————————————————————————————————–

Komunitas Djuanda adalah kelompok studi berwawasan komunitas, egaliter dan kritis. Bertujuan membangun kebudayan visual berbasis media melalui diskusi, penelitian, produksi dan diseminasi. Didirikan oleh mahasiswa komunikasi/jurnalistik UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada 17 Oktober 2009. Komunitas Djuanda berperan aktif menggagas pengembangan media alternatif kepada khalayak dan meningkatkan kepedulian anggotanya terhadap permasalahan sosial dan budaya.

Komunitas Djuanda
Jl. Mandor Baret Komplek Kontrakan H. Yusuf No. 1 RT.01/07
Kel. Pisangan, Kec. Ciputat Timur – Tangerang Selatan 15419
Telp. (021) 742 9551
www.komunitasdjuanda.wordpress.com

————————————————————————————————————————————–

Komunitas Pasir Putih memang sengaja dibentuk akhir 2009 di Pemenang, Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat untuk mendukung kerjasama dengan akumassa Forum Lenteng. Komunitas ini terdiri dari beberapa komunitas yang berdiri sebelumnya, diantaranya: Teater Nol (North Of Lombok) dan Teater Satu, dua komunitas teater ini cukup aktif melakukan pementasan publik, selain itu ada pula Komunitas Akarpohon, Mataram yang bergelut di bidang sastra, Komunitas Barackshieva yang aktif di bidang sosial dan lingkungan hidup dan Komunitas Remaja Masjid Ass-Shirathal Mustaqim, Pemenang aktif di bidang sosial keagamaan.

Komunitas Pasir Putih
Jl. Raya Pemenang Karang Subagan, Desa Pemenang Barat, Kecamatan Pemenang,
Kabupaten Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat 83352.
Telp. 081917214351 / 087865137379

————————————————————————————————————————————–

Komunitas Sebumi terdiri dari para mahasiswa UNTIRTA, STIKOM Wangsa Jaya Banten dan IAIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten. Komunitas ini sengaja dibentuk untuk mendukung program akumassa di Serang dan berdiri pada 1 Juli 2010. Seperti namanya ‘Sebumi’, para anggotanya menjunjung tinggi rasa kebersamaan dan memiliki harapan besar untuk dapat menjadi media center yang baik bagi Serang dan sekitarnya.

Komunitas Sebumi
Kantor Rekonvasi Bhumi Lt. 2 Jalan Joenoes Soemantri No. 4/20, RT 01/01
Kelurahan Tembong, Kecamatan Cipocok Jaya
Serang – Banten

————————————————————————————————————————————–

Komunitas Kinetik berdiri pada 1 Mei 2010. Anggotanya terdiri dari para mahasiswa Universitas pembangunan Nasional (UPN) Veteran Jawa Timur. Di umurnya yang masih sangat dini, komunitas ini memiliki harapan besar untuk dapat menjadi wadah para seniman dan pemuda kreatif Surabaya dalam berkarya. Mereka juga bertekad memperkenalkan seniman-seniman Surabaya kepada khalayak luas dan membuktikan bahwa kesenian masih hidup di Surabaya. Komunitas Kinetik merupakan kelompok belajar mengenai media, baik itu audio, visual, maupun teks. Kinetik juga berusaha menjadi media center yang merekam keadaan sosial masyarakatnya dengan segala medium.

Komunitas Kinetik
Jalan Mendoan Ayu Asri Utara X/6 M3
Surabaya – Jawa Timur
www.jurnaletik.wordpress.com

————————————————————————————————————————————–

Suburbia adalah sebuah kelompok belajar yang digagas oleh para aktivis muda yang berkecimpung dalam kegiatan jurnalisme warga, dalam rangka meneliti dan membedah Kota Depok, Jawa Barat. Kelompok belajar ini terdiri dari para partisipan yang ikut aktif terlibat dalam kegiatan program akumassa, sebuah Program Pemberdayaan Masyarakat Melalui Media yang digagas oleh Forum Lenteng, untuk daerah dampingan akumassa Depok.

Berangkat dari keinginan untuk terus ‘membaca’ Kota Depok dan sekitarnya secara lebih jauh dan mendalam, para partisipan ini berinisiatif untuk membentuk sebuah kelompok egaliter nirlaba, yang bercita-cita menjadi pusat data yang merekam segala hal tentang Depok. SUBURBIA, yang memposisikan diri sebagai bagian dari warga dan massa, memiliki potensi sebagai kelompok yang dapat menggerakkan masyarakat Kota Depok melangkah ke tingkat yang lebih maju, terutama dalam bidang pengetahuan dan penggunaan media sebagai wadah penyebaran informasi di tingkat warga lokal.

Suburbia
www.halamanwarga.wordpress.com

*)Disarikan dari situs akumassa

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan