-->

Penerbit Toggle

Kompas Gramedia

Jakob-Oetama-P.K.Ojong-Adisubrata-dan-Irawati

Jakob-Oetama-P.K.Ojong-Adisubrata-dan-Irawati

Dari Sang Pemula ke Jaringan Bisnis KG

Ketika tahun 1963 Jakob Oetama diajak P.K. Ojong mendirikan Majalah Intisari, tak terbayangkan bahwa inilah langkah awal Sang Pemula, yang kemudian menjadi jaringan bisnis raksasa Kompas Gramedia (KG).

Majalah Intisari didirikan P.K. Ojong (Auwjong Peng Koen 1920-1980) bersama Jakob Oetama pada 1963. Ojong mendirikan Intisari, setelah pada 1 Agustus 1957, Harian Keng Po dibredel Pemerintah. Kemudian pada 7 Oktober 1961 menyusul Majalah Star Weekly, grup Keng Po, juga diberangus. Star Weekly dibredel karena tinjauan luar negeri yang ditulis Ojong sangat tajam mengritik kebijakan pemerintah.

Sebelum mendirikan Intisari, Ojong adalah Redaktur Pelaksana Star Weekly, dan Jakob adalah Redaktur Mingguan Penabur, sambil kuliah di Perguruan Tinggi Publisistik.

Intisari edisi perdana terbit tanpa baju (sampul), dan dicetak di percetakan PT Kinta, nama baru dari PT Keng Po. Majalah Intisari, yang sekarang berkantor di Gedung Gramedia Majalah, Jalan Panjang, Kebon Jeruk, Jakarta Barat, adalah cikal bakal bisnis KG. Maka secara intern, Intisari disebut sebagai Sang Pemula. Dalam waktu sangat singkat, tiras Intisari, Majalah Bulanan untuk Umum ini, meningkat terus, hingga pernah mencapai 350.000 eksemplar sekali terbit. Selain Ojong dan Jakob, yang ikut mengelola Intisari adalah J. Adi Subrata dan Irawati.

Koran Partai Katolik

Dekade pertama 1960-an, dunia politik Indonesia disebut oleh para petinggi Partai Komunis Indonesia sebagai “sedang hamil tua”. Politik Indonesia condong ke Poros Jakarta Peking (Beijing). Indonesia keluar dari PBB, merebut Irian Barat dari kekuasaan Belanda, dan berkonfrontasi dengan Malaysia. Presiden Soekarno mencanangkan Nasional Agama Komunis (NASAKOM). Dominasi Harian Rakyat, koran Partai Komunis Indonesia, sangat kuat. Maka, Menteri Panglima Angkatan Darat, Jenderal Ahmad Yani, minta kepada Drs Frans Seda sebagai Ketua Partai Katolik, untuk membuat “koran Katolik”. Sebagai pencetus NASAKOM, Bung Karno merestui pendirian “koran Katolik” ini.

Banyak kendala hingga “koran katolik” itu belum juga bisa terbit. Soal dana sebenarnya bukan kendala utama, sebab semua partai politik mendapat bantuan dana pemerintah. Kendala utamanya, Ojong yang paling kapabel mengelola “koran Katolik” justru menolak. Di Intisari pun ia tak mau namanya tercantum. Pemerintah masih mengincar nama Ojong. Ojong juga tidak mau apabila “koran Katolik” itu hanya sekadar menjadi corong partai. Ia ingin mengelola koran sebagai sumber informasi, dan membela kepentingan rakyat.

Kompromi akhirnya tercapai. Ojong dan Jakob akan mengelola koran tersebut, dengan syarat untuk sementara nama Ojong tak tercantum di masthead, dan koran itu tidak akan menyuarakan kepentingan partai, tetapi kepentingan umum. Secara harafiah, Katolik memang berarti umum. Maka, siaplah koran bernama Bentara Rakyat, Harian untuk Umum, dengan slogan Amanat Hati Nurani Rakyat. Dalam KBBI, Bentara berarti abdi dalem (pembantu). Sebelum Bentara Rakyat naik cetak di percetakan Era Grafika, Frans Seda melapor ke Bung Karno, yang tak setuju dengan nama tersebut. Bung Karno memberi nama koran itu Kompas.

Berkah Karmila

Di satu pihak, G30S adalah tragedi nasional. Namun, di pihak lain, juga ada berkah yang dibawanya. Salah satu berkah tersebut adalah dibredelnya korankoran utama yang beraliran kiri. Pada 2 Oktober 1965 Kompas juga ikut dibredel, dan baru boleh terbit tanggal 6 Oktober 1965. Sejak terbit pertama, 28 Juni 1965, Kompas mendapat julukan sebagai Kompas Morgen, yang berarti datang esok hari. Sebab sebagai koran kecil yang edisi perdananya bertiras 4.800 eksemplar, Kompas harus mengalah dicetak belakangan. Hingga koran ini baru bisa beredar tengah hari, atau malah esok hari.

Dari Era Grafika, Kompas pindah cetak ke Masa Merdeka, kemudian ke PT Kinta. Berkat kredit dari Bank BNI 1946, pada tahun 1971 Kompas mulai membangun percetakan sendiri di Jalan Pal Merah Selatan. Tanggal 25 November 1972 Percetakan PT Gramedia diresmikan oleh Gubernur DKI Jakarta, Ali Sadikin. Tahun 1970-an adalah era terentangnya sayap “Sang Pemula”. Diawali dengan membuka Toko Buku Gramedia di Jalan Gajah Mada pada 2 Februari 1970. Tahun lalu (2010) sudah ada 80 Toko Buku Gramedia, yang tersebar di Indonesia, ditambah TriMedia Bookstore di Surabaya. Sementara percetakan yang dibangun pada 1971, sekarang sudah menjadi jaringan cetak jarak jauh di Jakarta, Cikarang, Bandung, Bawen (Semarang), Surabaya, Makassar, Banjarmasin, Palembang, dan Medan.

Kemudian, tahun 1972, mengudaralah Radio Sonora, yang sekarang punya jaringan stasiun di 13 kota. Tahun 1973, “Sang Pemula” punya saudara, majalah anak-anak Bobo. Saat ini Kantor Divisi Majalah Kompas Gramedia di Jalan Panjang dan di Graha Mandiri di Jl Imam Bonjol, menerbitkan puluhan majalah, dengan karyawan lebih dari 1.500 orang. Yang menarik adalah kisah lahirnya penerbit Gramedia Pustaka Utama (GPU) tahun 1974, yang kemudian disusul PT Elex Media Komputindo, Gramedia Widiasarana Indonesia (Grasindo), Kepustakaan Populer Gramedia (KPG), Penerbit Kompas, dan Bhuana Ilmu Populer (BIP).

Akhir tahun 1960-an, tiras semua koran di Indonesia stagnan, atau turun, karena kesulitan ekonomi masyarakat. Kedaulatan Rakyat di Yogya tertolong, tirasnya naik tajam, karena memuat cerita bersambung Nogososro Sabuk Inten, karya S.H. Mintardja. Tiras Kompas juga terdongkrak berkat cerita bersambung Karmila karya Marga T., dan kemudian Cintaku di Kampus Biru karya Ashadi Siregar. Antusiasme pembaca Kompas terhadap Karmila demikian luar biasa, hingga mereka menuntut cerita bersambung ini diterbitkan. Novel Karmila karya Marga T. adalah cikal bakal penerbit GPU. Selain diterbitkan sebagai buku, Karmila dan Cintaku di Kampus Biru kemudian juga difilmkan.

Uang pribadi

Tahun 1977, ada sebuah hotel kecil di sudut kota Bandung, akan dijual. Ketika itu P.K. Ojong masih hidup. Terjadi perdebatan, apakah “hotel bangkrut” perlu dibeli? Sebagian personel manajemen Kompas menyetujui hotel ini dibeli, namun sebagian besar menolak. Jakob Oetama kemudian memutuskan: “Dibeli, kalau perlu pakai uang saya pribadi!” Maka “hotel bangkrut” itu pun jadi dibeli oleh Kompas. Di bawah manajemen PT Grahawita Santika, jaringan hotel KG saat ini sudah mencapai 33 hotel yang tersebar di Indonesia, dengan brand Santika, Santika Premiere, Royal Collection, dan Amaris. Di luar jaringan bisnis hotel ini, Kompas juga masih punya Wisma Kompas di Anyer, Kab Serang, dan di Pacet, Kab Cianjur.

Selain nekad dan ngotot, Jakob juga bisa sangat hati-hati. Sejak 3 Maret 1984, Kompas memberi “bonus” sisipan Bola pada setiap hari Jumat. Empat tahun kemudian, pada April 1988, Jakob baru berani memutuskan, sisipan Bola dilepas. Sekarang, sisipan itu menjadi Tabloid Bola. Kisah yang agak mirip dengan pendirian Santika juga terjadi ketika Majalah Tempo, bersama Detik, dan Editor dibredel pemerintah pada 21 Juni 1994. Ketika itu, wartawan Tempo, Detik dan Editor cerai berai. Wartawan desk ekonomi Tempo mencoba menawarkan konsep penerbitan baru, kepada manajemen KG.

Waktu itu, kesan tabloid adalah murah, dan hanya memuat isi berupa hiburan. Kasus Tabloid Monitor pada 1990, menguatkan pendapat ini. Ketika itu Monitor yang juga diterbitkan oleh KG, memuat angket yang menempatkan Nabi Muhammad SAW pada urutan ke-11. Umat Islam Indonesia marah, Monitor dibredel, dan Arswendo Atmowiloto, Pemimpin Redaksi, diadili dan dipenjara. Para wartawan Tempo desk ekonomi, menawarkan membuat tabloid ekonomi bernama Kontan. Ekonomi adalah hal serius, sementara tabloid dikenal sebagai media hiburan kelas bawah. Kembali manajemen KG bersilang pendapat, dan Jakob memutuskan: “Kalau perlu pakai uang pribadi saya!”

Pada 27 September 1996 Mingguan Kontan terbit. Sekarang, Mingguan dan Harian Kontan menjadi salah satu produk andalan KG. Naluri bisnis Jakob juga terjadi ketika ia mempertahankan Warta Kota tetap terbit meskipun merugi. Sejak terbit perdana pada 3 Mei 1999, Warta Kota memang “berdarah-darah”, istilah yang diciptakan oleh intern manajemen KG. Warta Kota adalah koran lokal Jakarta terbesar dengan tiras 200.000 eksemplar per hari. Ini terjadi setelah masyarakat bosan dengan gaya pemberitaan Pos Kota, Lampu Merah, dan Rakyat Merdeka.

Jaringan bisnis KG juga melebar ke pers daerah. Perintis pers daerah adalah Harian Serambi Indonesia (Banda Aceh). Pos Kupang (Kupang), Bernas (Yogja), Bangka Pos (Pangkal Pinang), Banjarmasin Post (Banjarmasin), Sriwijaya Pos (Palembang), Tifa (Papua), dan Harian Surya (Surabaya). Sejak 2003, Pers daerah KG dengan brand Tribun, tersebar di hampir semua kota di Indonesia, lengkap dengan majalah pendukung, dan percetakan sendiri.

Dari Tivi 7 ke Kompas Tivi

KG juga merambah ke bisnis Event Organizer. Tercatat antara lain PT Dyamall Graha Utama/E-Mall; PT Dyandra Communication/Dyacomm (Advertising Agency); PT Samudra Dyan Praga (Exhibition Contractor); PT Kerabat Dyan Utama (Radyatama); dan Bali Nusa Dua Convention Center. KG juga punya pabrik tisu Tessa, dan Lembaga Pendidikan English Language Training International (ELTI). Pada 20 November 2006 KG mendirikan Universitas Multimedia Nusantara di Scientia Garden, Summarecon Serpong, Tangerang, yang memfokuskan pada pendidikan Information Communication and Technology (ICT).

Sukses bisnis KG tentu bukan pekerjaan mulus tanpa rintangan. Beberapa majalah KG berguguran. Salah satunya majalah Jakarta-Jakarta (JJ). Kasus tabloid Monitor juga menjadi ganjalan tersendiri. Setelah menjadi raksasa, manajemen KG juga kedodoran karena fixed cost sering lebih gemuk dibanding variable cost. Maka, sejak dekade pertama 2000-an, berbagai pembenahan dilakukan. Contohnya, manajemen penerbitan buku GPU, Elex, dan Grasindo, disatukan di bawah satu direktur. Maka, sejak itulah di lingkungan KG populer istilah “pendi” akronim dari pensiun dini.

KG juga pernah masuk ke industri film layar lebar melalui PT Gramedia Film. Produksi pertamanya “Suci Sang Primadona” disutradarai oleh Arifin C. Noer, tidak begitu laku di pasaran, hingga akhirnya PT Gramedia Film ditutup. KG juga pernah membuka dua pasar swalayan “Grasera” di Jakarta, namun akhirnya juga ditutup.

Salah satu sandungan bisnis KG adalah Tivi 7. Stasiun tivi ini pernah disebut oleh manajemen KG sebagai “berdarah-darah” sebelum saham mayoritasnya dijual ke Trans Tivi, hingga namanya menjadi Trans 7. Namun, Jakob Oetama, pada usia menjelang 80 tahun, tetap menunjukkan kengototannya. Impiannya tentang media televisi tak surut. Maka, tanggal 6 September 2011, sebagai Presiden Komisaris KG, Jakob Oetama meresmikan beroperasinya Studio Berita Kompas Tivi, dengan pemotongan tumpeng. Ini adalah “kado ulang tahun” Jakob Oetama yang pada 27 September 2011 genap berusia 80 tahun.

“Saya bersyukur masih bisa menyerahkan Kompas TV, unit paling baru Kompas Gramedia, kepada yang muda-muda!” kata Jakob.

F. Rahardi

*)hidupkatolik.com, 11 Januari 2012

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan