-->

Kronik Toggle

Komik Indonesia Mulai Diminati Pasar LN

SEMARANG — Komikus dalam negeri mengatakan, produk industri kreatif karyanya mulai diminati pasar nondomestik seperti kawasan Amerika dan Eropa.

Menurut pengakuan salah seorang komikus Burhan Arif saat ditemui di Semarang, Kamis, hasil karya komikus asal Indonesia sudah mendapat tempat di hati seniman luar negeri.

“Kami lebih banyak mendapat pesanan komik dari luar negeri, seperti Amerika, Hongkong, Australia, Afrika Selatan, dan Yunani,” jelas pria yang juga punggawa Studio Komik Papillon di Semarang.

Menurut dia, pasar luar negeri lebih dapat memberikan apresiasi yang tinggi dibandingkan dengan pasar lokal dan produk yang bernilai karya seni bisa dibayar dengan nilai yang tinggi di mancanegara.

“Untuk setiap proyek pembuatan komik, seperti tahap ilustrasi sampai pewarnaan digital, kami bisa mematok tarif hingga 1.500 dollar AS,” katanya.

Biaya sebesar itu, kata dia, juga tergantung dari tingkat kerumitan dan detail gambar komik itu sendiri.

“Kalau untuk tahap pewarnaan digital saja, biasanya kami mematok tarif sampai 200 dollar AS untuk segmentasi pasar luar negeri,” ujarnya.

Ia mengaku studio komik miliknya dapat menghasilkan omzet hingga Rp 20 juta per bulan dari pendapatan mengerjakan proyek pesanan komik dari luar negeri.

Sementara untuk pasar dalam negeri, kata dia, tidak bisa berharap banyak untuk mendapatkan keuntungan finansial.

“Masyarakat di Indonesia belum bisa mengapresiasi karya komikus dalam negeri sehingga kami tidak bisa menjual produk kami dengan harga pantas,” katanya.

Kendati demikian, Burhan mengaku banyak komikus Indonesia yang tetap eksis hingga kini walaupun tidak dikenal oleh masyarakat Indonesia.

“Mereka bertahan hidup dengan mengandalkan pesanan dari luar negeri, komik-komik hasil coretan komikus lokal malah sering menghiasi etalase buku di negeri asing,” ujarnya.

Pemilik studio komik yang sudah meluncurkan beberapa komik ke pasar dalam dan luar negeri, seperti komik berjudul Boneka Kematian, komik serial tokoh nasional Pangeran Diponegoro, dan komik “Minx”, ini, menyatakan sudah cukup senang jika karya mereka dikenal masyarakat lokal walaupun belum pada tahap apresiasi secara finansial.

*)Kompas, 26 Juli 2012

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan