-->

Resensi Toggle

Komik dalam Sudut Pandang Kebudayaan

Oleh Donny Anggoro*

Judul: Panji Tengkorak,Kebudayaan dalam Perbincangan
Penulis: Seno Gumira Ajidarma
Editor: Christina M.Udiani
Isi:xx+540 hlm.
Penerbit:Kepustakaan Populer Gramedia (KPG),2011

Sangat sedikit sekali buku kajian tentang komik lantaran komik di Indonesia umumnya masih dipandang sebagai bacaan anak-anak. Padahal lewat komik pun juga membuka pintu bagi studi kebudayaan, apalagi harus diakui komik juga “saudara” dalam wacana seni rupa. Beberapa budayawan yang menghargai komik sebagai hasil kebudayaan pun dapat dihitung dengan jari, diantaranya Arswendo Atmowiloto, Hikmat Darmawan, Agus Dermawan.T, JJ Rizal, dan tentunya penulis buku ini, Seno Gumira Ajidarma (SGA).  Beberapa sastrawan seperti Arswendo, SGA, dan Radhar Panca Dahana bahkan sempat menyampaikan beberapa karya tulisannya yang digubah menjadi komik di buku maupun di koran.

Buku kajian komik Indonesia pertama kali malah dibuat oleh peneliti asal Perancis, Marcel Bonneff pada 1973 yang juga berasal dari disertasi dan sudah pernah diterbitkan KPG pada 1998. Namun seiring dengan perkembangannya hingga kini pada abad XXI komik melahirkan beberapa pengamat yang cukup intens seperti Henry Ismono, saya, trio “Martabakers” (Hafiz Ahmad, Beny Maulana, & Alvanov Zpalanzani) dan Surjorimbo Suroto, siapa sangka sastrawan dan peminat komik SGA justru meraih gelar doktoralnya lewat kajian komik di Fakultas Seni & Budaya Universitas Indonesia.

Buku ini, Panji Tengkorak adalah disertasinya dan kini termasuk buku kajian terkini yang terbilang sangat komprehensif tentang komik Indonesia.   Sesuai judulnya, buku setebal 500 halaman lebih ini mengkaji secara teliti komik masterpiece Hans Jaladara,salah satu maestro komikus Indonesia yang masih hidup dan berkarya. Hans menciptakan komik silat Panji Tengkorak pada tahun 1968 dan kala itu karena populer juga punya cita rasa tersendiri namanya pun disejajarkan dengan maestro komik Indonesia lainnya, misalnya dengan Ganes Th pencipta Si Buta dari Gua Hantu dan Hasmi pencipta Gundala yang juga terbit pertama kali tahun 1968. Komik Panji Tengkorak agak mirip dengan Si Buta yaitu sama-sama menceritakan tokoh pembela kebenaran. Namun bedanya dalam Panji Tengkorak ada kisah romansanya dengan dua gadis cantik, Martiani dan Nesia. Kini untuk menikmati karya-karya terbaru Hans yang sedikit bergaya manga Anda dapat membaca majalah rohani Kristen untuk anak-anak “Kita” yang dipublikasikan divisi penerbitan lembaga Gereja Reformed Injili.

Buku ini mengkaji komik Panji Tengkorak dari berbagai sisi, tentunya dari kacamata teori komik yaitu teori komik Topffer,Gombrich,Eisner dan McCloud. Sedangkan dari teori kajian budaya SGA menuliskannya berdasarkan petimbangannya atas pembacaannya pada teori Foucault, Gramsci, Hall, dan Mulhern guna mempertimbangkan makna yang terungkap secara naratif.
SGA membagi pembacaan karya Panji Tengkorak berdasarkan 3 periode yang digambar Hans berubah-ubah, yaitu dari tahun 1968, 1985 dan 1996 secara kronologis. Uniknya pada gambar Panji Tengkorak 1996 gambarnya disesuaikan dengan selera pembaca saat itu (umumnya anak-anak yang kebanyakan penggemar komik Jepang) yaitu bergaya manga.

Sebelum menukik pada pembahasan tentang Panji Tengkorak, SGA mengawalinya dengan tulisan mengapa komik di Indonesia paling sedikit diperbincangkan sebagai suatu gejala kebudayaan walau komik pertama Indonesia sudah terbit sejak 1931, yaitu komik Put On karya Kho Wan Gie (Sopoiku) yang sempat diterbitkan ulang sebanyak 2 jilid pada 2010. SGA menyebutnya komik dengan tingkat popularitas tinggi dianggap menurunkan derajat intelektualitas, mengembangkan kemalasan membaca dan meliarkan khayalan sampai kekerasan juga pornografi merujuk pada tulisan Arswendo Atmowiloto dalam Seni Komik Indonesia (Pabrik Tulisan Yogyakarta,1980). Selain itu walau nyaris sepanjang tahun 1980-1990-an diskusi tentang komik sering digelar nyatanya hasilnya tak banyak berkembang dengan hanya membincangkan masa lalu kejayaan dan selalu mengeluhkan pelbagai hal yang menyebabkan keterpurukannya sehingga menurut SGA terjadi penanda kebuntuan dalam pengkajian komik.

Komik walau pernah diteliti hingga “merasuk ke tulang sumsum” oleh Bonneff ternyata menurut SGA belum pernah diperiksa dan dikaji dengan pendalaman atau pun pembongkaran radikal seraya memberi peluang pada perbincangan yang berkembang ke segala arah, mulai dari sebagai barang dagangan, karya seni, dan media komunikasi. Padahal jika memungkinkan perbinvangan yang dapat berkembang ke segala arah itu dapat memecahkan kebuntuan.

Sebenarnya perbincangan masalah komik yang di Amerika sendiri juga sangat populer bahkan berkembang menjadi ikon seni rupa baru dalam industri perbukuan macam Graphic Novels (Novel Grafis, merujuk istilah Will Eisner) karena men jadi bacaan dewasa pula akhirnya melahirkan “cap resmi” Comics Code Authority yang menetapkan aturan penerbitan komik selain juga menyensornya dengan maksud melindungi “racun” dari “wabah” komik. Lucunya di sana malah berkembang pula parodi cap resmi Comics Code Authority dari tulisan “Approved by The Comics Code Authority” menjadi “Approved by The Comics Code Anti Authority”  yang  memancing kreativitas pelanggarnya. Salah satu “hasil” komik dengan kode begini ini bisa disebut seri tak resmi komik Tintin yang beredar secara underground, yaitu Tintin in Thailand (yang berbau pornografi) dan Tintin in Iraq yang diberangus oleh Rockwell, suami kedua Fanny, janda Herge (Georges Remi) pencipta Tintin dari penerbit resmi Tintin.

Dalam penelian SGA komik Panji Tengkorak selain mengalami perubahan gaya menggambar, terdapat pula perubahan mencolok yang ditandai dari gambar adegan ciuman Panji Tengkorak 1985 yang dihilangkan sebagai peralihan dari bacaan dewasa pada 1996 karena pada 1996 komik ini diterbitkan sebagai bacaan anak-anak (hlm.97). Gambar tersebut akhirnya diganti dengan kata-kata suara orang berciuman. Selain itu perubahan ekspresi Panji dan Nesia, Panji tatkala membuang topeng tengkoraknya di hadapan Nesia, juga mengalami perubahan (hlm.101). Pada gambar tahun 1996 ekspresi mereka menjadi ke arah karikatural lantaran diterbitkan kembali menjadi bacaan anak-anak. Hal demikian menurut SGA mengacu pada kajian Scott McCloud di buku Understanding Comics (1993), prinsip komik sebenarnya adalah kartun, namun kartunnya tak harus berarti lucu, juga tak mengejar kerincian, melainkan menangkap dan mengungkap konsep karakter yang digambarkan (hlm.105).

Menariknya walau disertasi ini banyak mengambil teori dari berbagai tokoh pengamat komik, SGA juga merujuk pada pembacaan sastra, yaitu dari A.Teeuw. Yaitu fungsi efek komik, nilainya untuk pembaca tertentu tergantung relasi struktur dan cirri-cirinya serta anasir karya itu dengan horison (cakrawala) harapan pembacanya (hlm.107).

Buku ini cukup menarik untuk dimiliki tak hanya peminat komik saja melainkan peminat kebudayaan secara luas karena kehadirannya telah menemani satu dari peenlitian komik yang mumpuni setelah Bonneff, walau terpaksa gaya penulisan disertasi dalam buku ini dibiarkan oleh penerbit seperti aslinya, tak seperti buku Bonneff yang diolah menjadi bahasa populer oleh KPG.
Hadirnya buku ini tentunya memberi kesegaran baru dan sudut pandang lain (yaitu kebudayaan) pembaca dalam memandang komik walau dalam buku ini fokusnya adalah komik Panji Tengkorak. Pada bab-bab pertama penulis banyak membeberkan banyak hal mengapa kajian komik adalah penting yang tak bisa dianggap sepele karena dalam komik dapat terbaca pula kondisi sosiologis masyarakat Indonesia yang di berbagai periode berbeda-beda sesuai konteks zamannya. Membaca komik berarti membaca pula tanda-tanda zaman seperti membaca sejarah. Komik dapat dianggap sebagai salah satu pintu untuk membaca sejarah Indonesia yang pernah disebut peneliti komik HIkmat Darmawan sebagai “sastra gambar”.

Buku ini dalam industri perbukuan menemani wacana kritik komik Indonesia yang pernah ada seperti buku Marcel Bonneff (Komik Indonesia, 1998), Mohammad Natsir Setiawan (Menakar Panji Koming, 2002), Hikmat Darmawan (Dari Gatotkaca hingga Batman, 2005) dan trio Hafiz Ahmad, Beny Maulana, & Alvanov Zpalanzani (Histeria Komikita!, 2006).*

*) penulis adalah wartawan, anggota Lembaga Bhinneka di Surabaya.

*)OaseKompas, 9 Juli 2012

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan