-->

Kronik Toggle

Komandan Intelijen Pertama Indonesia Dibukukan

MALANG – Tidak banyak orang mendengar nama Zulkifli Lubis. Komandan Intelijen  TNI Angkatan Darat pertama di Indonesia tersebut dianggap “kolonel misterius” karena sedikitnya literatur tentang dirinya.

Di kalangan Angkatan Darat sekalipun, nyaris tak ada yang mengenal sosok Zulkifli Lubis. Yang tersisa darinya hanya cerita-cerita mengenai dosa-dosa Zulkifli Lubis, yang dihembuskan kelompok yang membencinya.

Peter Kasenda, dosen sejarah di Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta mencoba mengupas sosok Zulkifli Lubis dalam bukunya Zulkifli Lubis: Kolonel Misterius di Balik Pergolakan TNI AD. Buku ini diluncurkan, Senin (9/7/2012), di Aula Perpustakaan Universitas Negeri Malang (UM).

“Saya mencari foto Zulkifli Lubis saja susahnya setengah mati,” ujar Peter mengambarkan betapa misteriusnya sosok Zulkifli Lubis.

Peter yang menulis tentang Zulkifli Lubis sejak 20 tahun silam ini akhirnya mendapatkan foto Lubis di buku 30 Tahun Indonesia Merdeka, yang kemudian menjadi gambar sampul dalam bukunya.

Peter mengatakan, selama masa kemerdekaan, Zulkifli dianggap terlibat dalam peristiwa Cikini, yakni peristiwa percobaan pembunuhan terhadap Presiden Soekarno, dan terlibat dalam pemberontakan PRRI.

Padahal dalam penelusuran Peter, Zulkifli Lubis sama sekali tidak terlibat dalam dua peristiwa itu.

John Roosa, sejarahwan dari University of British Columbia, Kanada  dan Nur Hadi, dosen dan sejahrawan UM yang menjadi pengulas bedah buku, menuturkan, buku karangan Peter cukup membantu untuk mengetahui riwayat  dan sepak terjang Zulkifli Lubis.

Meski demikian, Peter tidak lepas dari kritik, yakni terlalu banyak menggunakan sumber sekunder dalam penulisannya. “Zulkifli Lubis meninggal 1993, sedangkan penulisan buku ini sejak 1992. Masih ada jeda satu tahun yang bisa digunakan untuk mencari data primer dari narasumber,” ucap Nur Hadi

Peter menyadari kekurangannya dan berjanji akan mengadakan edisi revisi jika data-data yang ia dapat sudah cukup memadai. Ia juga menuturkan keinginannya menemui keluarga Zulkifli Lubis di Bogor untuk penelusuran lebih lanjut.

“Dulu Lubis merasa tidak pantas untuk ditulis. Oleh karena itu, saya banyak mengandalkan data-data sekunder. Bedah buku ini sekaligus menjadi kritik yang membangun untuk saya,” ujar Peter.

Malang merupakan kota pertama untuk bedah buku Zulkifli Lubis ini. Peter memang menginginkan peluncuran pertama di luar kota Jakarta, karena alasan pemerataan informasi.

*)Tribunnews, 10 Juli 2012

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan