-->

Kronik Toggle

Kisah Inspiratif Perempuan Pejuang Mimpi

Setiap fase kehidupan manusia, dari bayi sampai dewasa, pasti akan menemui masalahnya masing-masing. Hal inilah yang dialami Meuthia Rizki. Di balik kesuksesannya sebagai sebagai top leader perusahaan kecantikan berbasis multi level marketing (MLM), ternyata Meuthia Rizki memiliki masa lalu yang cukup kelam. Namun segala upaya dan dukungan keluarga, terutama ibu dan suaminya, menjadi senjata utamanya untuk bangkit. Pengalaman bangkit dari keterpurukan ini dituangkan Meuthia dalam bukunya, Meuthia Rizki: Memeluk Mimpi Mendayung Harapan.

“Buku ini memaparkan cerita perjalanan hidup yang diharapkan bisa memotivasi banyak orang untuk bisa bangkit dari keterpurukan,” tukas Meuthia Rizki kepada Kompas Female di The One Club, fX, Jakarta Selatan, Senin (16/07/2012) lalu.

Semasa kecil, Thia (panggilan akrab Meuthia) sudah harus mengalami berbagai masalah pelik seperti perceraian orangtua yang menyisakan trauma parah dalam hidupnya. Penderitaan yang datang bertubi-tubi tersebut sempat membuatnya mengalami berbagai masalah kesehatan, dari asma, masalah penglihatan, patah tulang karena kecelakaan, sampai menderita gagap. “Gagap merupakan salah satu masalah besar bagi anak-anak, karena mereka bisa dijauhi teman-temannya,” ungkap Thia.

Faktanya, masalah tidak akan berhenti menghampiri kita. Setelah dewasa, masalah demi masalah masih tak henti juga menderanya. Jatuh bangun saat membangun bisnis dan sempat dilaporkan ke polisi karena masalah uang, belum lagi sindrom baby blues yang membuatnya semakin terpuruk. “,Namun, yang saya kagumi adalah adanya keyakinan Thia untuk tetap memelihara mimpinya dan tetap bangkit untuk bisa meraihnya walau sering menghadapi masalah,” tukas Alberthiene Endah, yang menuliskan kisah hidup Meuthia.

Satu hal yang menjadi motivasi Thia untuk bisa bangkit adalah cinta sang bunda. Ibu menjadi sosok yang selalu mendukung dalam menjalankan setiap keputusan yang diambilnya. Selain itu, dukungan sang suami juga membuat Thia bisa bertahan menghadapi masalah dan meraih mimpi-mimpinya untuk bahagia. Dalam perjalanan hidupnya, Thia pun memetik satu pelajaran penting, bahwa kebahagiaan bisa dibangun dari rasa syukur pada setiap kondisi yang ada, baik susah maupun senang.

Pengalaman pahit yang pernah dialaminya mengajarkan Thia bahwa bahagia itu memang harus diciptakan dan diniatkan. Salah satu caranya adalah dengan mengenyahkan perasaan buruk, dan mengundang sebanyak mungkin pemikiran yang baik. Sebab, hidup meminta kita untuk belajar mengapresiasi apa yang kita alami.

12 tahun untuk sukses
Sempat bekerja sebagai seorang sekretaris di hotel, dan beberapa kali mencoba untuk bermain saham, pernah mengantarakan Thia dalam masalah besar dan nyaris dipenjara. Rentetan kejadian itu sempat membuatnya depresi, dan repotnya lagi terjadi saat ia sedang hamil. Namun, ia sadar harus bangkit dan mencari jalan keluar. “Impian saya sangat sederhana, yaitu hanya ingin keliling dunia,” serunya.

Dalam hati Thia masih tersisa sebuah keyakinan untuk bisa sukses dan keliling dunia. Pada suatu titik, ia memutuskan untuk bergabung dengan sebuah perusahaan MLM untuk produk-produk kosmetik dan perawatan kulit. Sebagai buah manis dari perjuangannya, kini ia sudah menjadi top leader ke empat di perusahaan ini, dan sudah bepergian ke 15 kota di dunia.

“Saya butuh waktu 12 tahun dan jatuh bangun untuk mencapainya. Tapi sejak awal saya yakin saya bisa sukses,” bebernya. Keyakinan ini membuatnya tetap bersemangat, dan membantunya untuk berhasil memeluk mimpinya seperti sekarang.

Maka peluncuran buku ini bertujuan untuk memotivasi semua orang untuk selalu bersyukur dan bangkit dari semua masalah yang membuat kita  terpuruk. Ia berharap buku ini bisa menyakinkan banyak orang bahwa mereka bukan satu-satunya orang yang mengalami masalah di dunia ini, dan mereka masih punya teman senasib agar bisa bangkit dan mengejar mimpi mereka.

Setelah sukses, kini Thia masih punya sebuah mimpi dalam hidupnya, yaitu membantu para downline-nya di MLM agar bisa sukses dan mencicipi semua kenikmatan yang dirasakannya sekarang.

*)Kompas.com, 17 Juli 2012

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan