-->

Kronik Toggle

Khrisna Pabicara Luncurkan "Gadis Pakarena"

Ruangan di PDS HB Jassin, Taman Ismail Marzuki Jakarta sejenak padam ketika tarian Pakarena digelar. Lilin-lilin yang terpasang di depan para penari dan pemain musik gendang serta seruling menghadirkan suasana yang teduh, hening, dan kontemplatif. Para penari membawakan tarian tradisional dari Makassar, Sulawesi Selatan ini dengan lambat lemah gemulai. Sesekali musik terdengar hingar bingar dari dua gandrang dan sepasang alat musik semacam suling (puik-puik).

Tarian Kipas Pakarena memiliki aturan yang cukup unik. Penarinya tidak diperkenankan membuka matanya terlalu lebar, sementara gerakan kakinya tidak boleh diangkat terlalu tinggi. Sementara itu, tabuhan Gandrang Pakarena yang disambut dengan bunyi tuip-tuip atau seruling akan mengiringi gerakan penari. Gemuruh hentakan Gandrang Pakarena yang berfungi sebagai pengatur irama dianggap sebagai cermin dari watak kaum lelaki Sulawesi Selatan yang keras.

Tarian Pakarena hadir di PDS HB Jassin, Sabtu (21/07) sebagai penanda berarti bagi seorang Khrisna Phabicara yang meluncurkan karya fiksinya yang pertama, kumpulan cerpen “Gadis Pakarena” (GP). Penulis kelahiran Borongtammatea, Jeneponto, Sulawesi Selatan tahun 1975 ini dikenal sebagai esais dan belakangan novelis dengan karyanya “Sepatu Dahlan”. GP ini sendiri sebelumnya pernah terbit dengan judul “Mengawini Ibu” pada 2010 yang berisi 12 cerpen dari 14 cerpen di GP.

Seperti halnya tarian Pakarena, cerpen-cerpen Khrisna dalam GP mengungkapkan hubungan manusia dengan Tuhan dan bercerita tentang ritme kehidupan. Meminjam istilah cerpenis, Kurnia Effendi “Sebagai “pendongeng modern” ia tak semata piawai menuliskan gaya lisan secara benar, justru lebih terasa gizi ceritanya ketika dengan sepenuh kesadaran mengekploitasi kearifan lokal ranah Bugis-Makassar”.

Kearifan lokal itu juga mewarnai peluncuran GP yang diisi dengan musikalisasi puisi oleh Masita Riyani dan Ilham Fadillah serta Erha Limanov dan Rumah Kata Bogor yang diambil dari petikan kumcer GP. Khrisna sendiri bermonolog membawakan cerpen “Gadis Pakarena” diiringi grup Juku E Jaya.

Kesadaran menghadirkan muatan budaya lokal itu memang disengaja oleh Khrisna, seperti dikatakannya seusai acara peluncuran itu. “Masih sedikit karya sastra yang bercerita tentang budaya Indonesia bagian timur, seiring dengan menyurutnya para penulis angkatan tua seperti Gerson Poyk, Rahman Age dan Aspara Paturosi”

Kumcer GP hadir sebagai secuil sumbangan bagi pengenalan budaya yang begitu kaya warna dan nilai di Indonesia bagian timur. Apakah akan mampu menjadi pemicu dan daya rangsang penulis-penulis muda untuk berbuat serupa, Khrisna hanya tersenyum saja. “Jika itu terjadi, saya turut senang”, ujarnya pendek.

Peluncuran buku GP tak ubahnya alunan musik yang menyegarkan di tengah makin mengguritanya budaya modern, budaya posmo yang diperkuat dengan terkikisnya kebudayaan daerah itu sendiri. Kearifan lokal pada akhirnya, dan ini terasa ironis, dianggap sebagai “benda” yang bisa ditakar dalam-dangkalnya, ditimbang berat-ringannya. Namun, seperti kata cerpenis dan esais Damhuri Muhammad ketika berbicara tentang GP, Khrisna dalam kumcer ini hendak memaklumatkan bahwa lokalitas adalah sebuah “peristiwa: yang tiada habis dalam sekali baca, yang selalu ditunda tafsir tunggalnya.

Setidaknya Khrisna telah mencoba dan menghadirkannya, menjadi Phabicara atau juru runding, jabatan cukup terhormat pada masa kerajaan di Sulawesi Selatan, kepada budaya modern lewat cerpen-cerpennya. (yo)

*)Oasekompas, 23 Juli 2012

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan