-->

Resensi Toggle

Kabar Resensi Pekan Pertama Juli 2012

Berikut ini adalah KABAR BUKU Edisi Khusus RESENSI yang disiarkan RADIO BUKU bekerjasama dengan portal berita www.indonesiabuku.com. Kabar sepekan resensi buku di sejumlah media massa cetak di Indonesia. Kabar ini disusun Aya Hidayah dan dibacakan Ratih Fernandez

Sepatu Dahlan

Karya Khrisna Pabichara

Resensi ditulis Qaris Tajudin

Dimuat KORAN TEMPO, 1 Juli 2012

Dahlan Iskan adalah sosok yang menarik. Semua orang tahu itu. Mantan wartawan Tempo itu berhasil menjadi pendiri raksasa media massa di Surabaya, lalu berhasil menangani PLN dengan baik. Saat diangkat menjadi menteri Badan Usaha Milik Negara, dia melakukan sejumlah gebrakan. Novel pertama dari Trilogi ini, Sepatu Dahlan, terbit pada Mei Lalu. Lanjutan yang belum terbit adalah Surat Dahlan dan Kursi Dahlan. Dalam Sepatu Dahlan, dikisahkan masa kecil Dahlan yang amat sederhana di sebuah desa di Magetan, Jawa Timur. Ia hidup demikian miskin hingga orang tuanya tak mampu membeli sepatu. Karena alasan ekonomi pulalah Dahlan ketika tamat SD tak masuk di SMP ibu kota kabupaten. Ia dimasukkan di pondok pesantren. Bersekolah dengan kaki telanjang.

Berjalan Menembus Batas

Karya A. Fuadi dkk

Resensi ditulis T. Nugroho Angkasa, Spd

Dimuat JAWA POS, 1 Juli 2012

Batasan hanya ada dalam pikiran yang sempit manusia sendirilah yang menciptakan limit (garis Pembatas) itu dalam benaknya. Tak heran kalau dalam bahasa inggris ada istilah, “Sky is the limit” lewat buku ini, A Fuadi dkk membongkar mitos tersebut. Batasannya bukan lagi langit, tapi berbanding lurus dengan spirit untuk terus berjuang. Berjalan Menembus Batas berisi 13 kisah nyata. Buku ini terbagi atas tiga bab: Melawan Keterbatasan Hidup, Menahan Rasa Sakit, dan Menembus Batas Usaha. Lakon-nya bukan politisi atau selebriti yang jadi sorotan media karena ketahuan korupsi dan kawin-cerai, tapi rakyat jelata kebanyakan. Wong Cilik yang legawa hidup apa adanya.

Wanita dalam Pembinaan Karakter Bangsa

Karya Prof Dr Husain Haikal MA

Resensi ditulis Akhmad Wakhid

Dimuat KEDAULATAN RAKYAT, 1 Juli 2012

kiprah perempuan dalam pembangunan karakter bangsa memiliki dimensi penting. Tak berlebihan bila dikatakan maju tidaknya suatu bangsa tergantung seberapa besar peran perempuan didalamnya. Buku ini menyajikan data sejarah. Tidak saja mendeskripsikan peran perempuan di masa silam. Perempuan modern ditampilkan  dengan spirit dan karakter kepribadian kaum hawa  yang tak jauh beda dengan pendahulu, meski zaman telah berubah. Perempuan yang tangguh, pantang menyerah, relijius, cerdas, dan pekerja keras.

10 Mutiara Ahad Pagi

Karya KH Asyhari Marzuqi

Resensi ditulis Subegjo

Dimuat KEDAULATAN RAKYAT, 1 Juli 2012

Berbagai tindak pidana yang merebak di negeri ini, sangat memiriskan siapapun yang masih memiliki nurani. Terlebih dalam kasus korupsi. Pelaku secara umum adalah kaum terpelajar. Mereka menyalahgunakan kesempatan setelah memiliki kekuasaan/kewenangan kerena wawasan keilmuan yang dimilikinya. Anugrah ilmu yang mestinya dimanfaatkan untuk kebaikan telah diselewengkan, ketika mereka memiliki kekuasaan. Kisah ini merupakan salah satu uraian hikmat dari buku KH Asyhari Marzuqi.

One Day in A Library

Karya Ida Mulyani, dkk

Resensi ditulis Hendra Sugiantoro

Dimuat KEDAULATAN RAKYAT, 1 Juli 2012

Perpustakaan menjadi tempat yang tak pernah hilang ditelan zaman. Sejak zaman dahulu, perpustakaan senantiasa ada diberbagai belahan dunia. Bahkan, perpustakaan telah melahirkan sosok manusia-manusia besar. Ilmuan dan tokoh-tokoh besar dunia pasti memiliki riwayat sebagai pengunjung perpustakaan atau malah mendirikan perpustakaan pribadi. Buku One Day in A Library ini berisi kisah-kisah yang ditulis oleh puluhan yang menceritakan pengalamannya berhubungan dengan perpustakaan. Begitu banyak pengalaman yang didapatkan, entah itu menyenagkan, kurang menyenangkan, menegangkan, bahkan mungkin menyebalkan.

Go Thunderfly, Lintasilah Langit

Karya Violet Afifah

Resensi ditulis Irwan Kelana

Dimuat REPUBLIKA, 1 juli 2012

Jo (14 tahun), seorang jenius cacat yang introver, mengetahui bahwa lembah indah tempat teman-teman barunya bersekolah akan digusur untuk dijadikan hotel oleh papanya (yang merupakan seorang arsitek) dan kontraktor miliarder, Tohar Siranggeng. Kenyataannya itu membuka fron permusuhan antara kelompok Jo dan miliarder tersebut. Namun konflik melebar sebab jo dan kawan-kawannya kemudian terlibat intrik adu layang-layang dengan anak-anak Siranggeng yang kemudian berubah menjadi pertaruhan muskil, bertanding terbang melintasi Candi Borobudur. Kelompok Jo membuat Sebuah pesawat dengan satu tujuan untuk mempertahankan lahan sekolah mereka. Kalau pesawat itu berhasil tebang melintasi Borobudur, berarti Jo dan kawan-kawannya mendapatkan lembah dan sekolah mereka kembali. Namun kalau pesawat itu gagal terbang maka kegagalan tersebut harus dibayar dengan lebih mahal daripada sekedar kematian.

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan