-->

Kronik Toggle

Jusuf Wanandi Luncurkan "Shades of Grey a Political Memoir of Modern Indonesia 1965-1998"

JAKARTA – Jusuf Wanandi menilai, makin banyak catatan sejarah tentang Orde Baru makin baik bagi generasi sekarang dan akan datang. Dia mengatakan, sejarah seperti terulang dalam hidupnya, yakni menjatuhkan penguasa, memunculkan tokoh baru Soeharto, lalu menurunkan Soeharto.

”Kita ikut mendukung. Soeharto tidak mau mendengar pendapat kami, dan anak-anaknya terlibat lalu mengacaukan ekonomi. Kami—Wanandi dan lembaga CSIS—menjadi berjarak dengan Soeharto,” kata Jusuf seusai peluncuran bukunya Shades of Grey a Political Memoir of Modern Indonesia 1965-1998 di Jakarta, Selasa (17/7) malam.

Jusuf dalam bukunya mengungkap, pihaknya mulai berseberangan saat peristiwa Malari Januari 1974. Jenderal Soemitro berusaha menekan Ali Moertopo-Soedjono Hoemardani dan Centre for Strategic and International Studies melalui isu antidominasi ekonomi Jepang.

Redaktur Senior Jakarta Post Endi Bayuni dalam sambutan mengatakan, buku Jusuf Wanandi adalah kesaksian penting tentang jatuhnya Soekarno, munculnya Orde Baru, dan jatuhnya Soeharto.

”Jusuf Wanandi menyaksikan peristiwa politik besar dari dekat sepanjang akhir Orde Lama. Dia pemerhati dari dekat (close observer). Sepak terjangnya seperti kisah detektif menyerempet bahaya,” kata Endi yang menjelaskan kiprah Wanandi dengan istilah Cloak and Dagger.

Penerbit Mark Hanusz mengaku, tulisan Jusuf penuh dengan hal-hal yang serba abu-abu dalam perjalanan Indonesia tahun 1965-1998.

”Tidak ada yang hitam dan putih secara tegas dalam catatan (Jusuf) Wanandi. Semuanya serba abu-abu. Itu yang membuatnya menarik,” katanya.

Jusuf Wanandi mengatakan menyiapkan bukunya selama tiga tahun.

Kliping: Kompas, 19 Juli 2012, “Makin Banyak Catatan Orde Baru Makin Baik”

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan