-->

Tokoh Toggle

Ineke Turangan: Buku Kreasi Janur

Janur, tiga kuntum anggrek, dan serumpun setaria itu menjelma menjadi seperti gunungan, perlambang bumi dan segala makhluk hidup penghuninya dalam pewayangan Jawa. Dengan irisan dan lipatan lain, janur pun menjelma jadi sriti, burung-burung kecil yang bersukaria terbang dalam kawanannya.

Teresa Maria Ineke Turangan (48) merangkai aneka bentuk janur—dan sisipan bunga—lalu memuat model-model rangkaian itu dalam buku Janur, Introducing Tradition into Modern Style. Buku dalam dua bahasa ini ia luncurkan setahun lalu. ”Lebih banyak pembaca dari luar negeri yang antusias menyambut daripada di negeri kita sendiri,” ujarnya.

Ineke bukan sekadar menulis buku. Ia juga mendirikan dan mengelola Newline Floral Education Center sejak tahun 2003. Di sekolah itu, ia mengajarkan teknik melipat, mengiris/memotong, dan menganyam janur menjadi rangkaian cantik dan bentuk karya seni.

Tidak cukup sampai di situ, janur juga materi flora yang selalu ia promosikan dengan bangga sebagai kekayaan tradisi Indonesia dalam berbagai forum demo dan ekshibisi di berbagai negara. Saat ini, Ineke aktif sebagai anggota beberapa asosiasi desainer bunga internasional. Itulah profesi yang ia lakoni: desainer bunga dan pengajar seni merangkai bunga.

Berbeda dengan penjual bunga (florist), desainer bunga atau floral designer mendesain segala sesuatu yang berhubungan dengan bunga ataupun materi flora lainnya, seperti daun, akar, sulur, dan batang. Seorang desainer membuat suatu rangkaian flora—termasuk bunga, mendesain dekorasi ruang atau gedung dengan materi flora, dan menciptakan tren.

Sebagai desainer bunga, selama 12 tahun terakhir, Ineke adalah koordinator dan desainer keseluruhan penataan bunga di Istana Negara dan Istana Merdeka pada setiap peringatan Kemerdekaan RI 17 Agustus.

Ia akrab dengan aneka jenis flora yang juga ia manfaatkan dalam karyanya. Namun, janur—daun muda dari pohon kelapa—menempati posisi khusus di hati Ineke.

”Saya sebel jauh-jauh ke Jerman, belajar macam-macam teknik jalinan, eh, di sana bahannya cuma rumput,” ujarnya menuturkan saat awal ia mendalami salah satu teknik merangkai bunga. Indonesia punya janur yang bernilai seni tinggi. Janur pun sudah menjadi bagian dari berbagai kegiatan tradisi turun-temurun di negeri ini.

Di Bali, rangkaian bunga dan buah terbingkai dengan janur dalam upacara keagamaan dan adat. Di Jawa, upacara pernikahan sesuai tradisi menggunakan janur. Janur lebih dari sekadar pembungkus ketupat saat Lebaran.

”Saya percaya di berbagai daerah banyak yang bisa merangkai janur, bahkan lebih bagus daripada yang ada di buku saya. Namun, mereka belum melihat pasarnya siapa,” ujar ibu dua anak ini.

Nilai janur

Di luar lingkup acara tradisi, janur bukan perangkat dekorasi yang dipandang berkelas. ”Konsumen kelas atas belum melihat janur sebagai sesuatu yang orisinal dan punya nilai seni. Mereka lebih memilih bunga impor seperti lili dan mawar.”

Padahal, Ineke menemukan penghargaan dunia luar pada rangkaian janur yang ia suguhkan di berbagai kesempatan. ”Saya promosi janur ke luar negeri dengan harapan apresiasi dari luar itu akan membuat kita lebih menghargai apa yang kita punya. Biasanya kalau sudah populer di luar, baru kita bilang, lho itu, kan, dari Indonesia.”

Situasi ini membuatnya geregetan. Ia sudah menyaksikan beragam jenis bunga yang tumbuh di pedalaman hutan Indonesia ”diambil” bibitnya lalu dikembangkan dengan budidaya dan teknologi di negara-negara lain. Lalu, dipopulerkan sebagai milik mereka. Jangan sampai tragedi yang sama terjadi pada janur.

”Itu yang mendorong saya membuat buku tentang janur dan mendirikan sekolah ini. Saya ingin kita lebih sadar bahwa kita punya sesuatu yang berharga untuk kita olah menjadi karya seni, lapangan kerja, alternatif mencari nafkah.”

Dengan janur, pada suatu forum di Belanda, misalnya, Ineke menampilkan bentuk baju-baju daerah Indonesia melalui tatanan di manekin. Tergelitik menyaksikan itu, banyak yang menyarankan kepada Ineke untuk mendorong perangkai janur di Indonesia mendalami ilmu melipat dan mendapatkan gelar di bidang itu.

”Aduh, boro-boro mau ambil spesialisasi melipat, yang umum dalam merangkai bunga saja di Indonesia enggak ada sekolahnya. Di Eropa dan Amerika, ada pendidikan dan gelar khusus untuk itu.” kata Ineke yang meraih gelar sebagai desainer bunga bersertifikasi dari American Institute of Floral Designers.

Berawal dari Baju

Maria Teresa Ineke Turangan lebih dulu ahli mendesain busana sebelum menggeluti desain flora. Ia merampungkan pendidikan di Paris Academy School of Fashion di London, Inggris. Kemudian selama 10 tahun menggeluti bisnis fashion dengan mengelola butik miliknya di Jakarta.

Perkenalannya dengan bunga semula sekadar karena ketertarikan mengikuti kelas ikebana atau merangkai bunga ala Jepang pada tahun 1990-an. Ternyata, hatinya terpikat di situ. ”Begitu mulai belajar bunga, saya seperti haus ingin terus memahami lebih banyak,” ujarnya.

Beragam program pendidikan tentang seni merangkai bunga dan desain flora di berbagai negara—Amerika Serikat, Belanda, Australia, Jerman, dan China—ia ikuti. Bunga dan aneka bentuk flora lainnya menyedot perhatian dan energi Ineke, hingga ia tak melanjutkan lagi bisnis fashion yang sudah sempat mapan berjalan.

Tak cuma tancap

Berulang kali Ineke menghadapi ”keheranan” orang tentang apa perlunya belajar merangkai bunga. Toh, tinggal tancap-tancap saja bunga sudah akan tersaji cantik, begitu pendapat sebagian orang. ”Ternyata semua ada ilmunya. Makin dipelajari, makin terasa perlunya terus belajar.”

Pandangan awam lainnya, asalkan bunganya cantik dan segar—apalagi mahal—rangkaiannya bukan perkara penting. Padahal, dengan seni merangkai bunga, keindahan bisa ditampilkan bukan hanya oleh bunga yang mahal, melainkan juga dengan daun kering—termasuk janur yang dikeringkan—dan kulit batang.

Ineke bercerita, salah satu momen mengesankan baginya, adalah saat menerima kunjungan salah satu pembimbingnya, Gregor Lersch, guru besar seni merangkai bunga dari Jerman yang begitu mencintai ilmu botani. Di Kebun Raya Bogor, sang profesor menjelaskan bagaimana setiap pohon yang dia lihat menginspirasi suatu rangkaian bunga.

”Kalau dibilang cuma tancap-tancap, ya, bisa saja begitu. Namun, kalau kita pelajari, kita akan tahu persis apa yang kita buat dengan rangkaian itu. Alam, bentuk bangunan, bahkan motif kain semua bisa jadi sumber inspirasi merangkai bunga,” ujar Ineke.

Totalitasnya belajar, kemudian mengajar bunga, sekaligus mempromosikan kekayaan flora Indonesia itu pula yang membuat Ineke terpilih menjadi koordinator dan desainer penataan bunga di Istana Negara dan Istana Merdeka pada peringatan Kemerdekaan RI 17 Agustus sejak era Presiden BJ Habibie tahun 2000 hingga saat ini.

Setiap tahun, untuk dekorasi flora Istana pada acara 17 Agustus itu, dipilih tema suatu daerah. Tahun 2011, misalnya, dipilih tema Papua. ”Papua punya daun kadaka. Satu lembar daun itu bisa setinggi orang, hampir 2 meter. Desainnya saya buat lebih natural. Rangkaiannya tidak pakai vas-vas, tetapi pakai pisang-pisangan atau air.” (DAY)

*)Kompas, 8 Juli 2012

1 Comment

fpibencana@gg - 22. Okt, 2012 -

Sukses selalu , Teresa Maria Ineke Turangan
GBu..
NonMuslim jangan menyerah walau penghargaan kurang di negara sndiri.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan