-->

Kronik Toggle

Dari Buku Lahirlah Pendongeng

Aryo Wisanggeni

Mendongeng, kata yang akrab di telinga, tetapi semakin sedikit orangtua yang melakukannya. Itu mengapa Kelompok Pencinta Bacaan Anak tak henti mengampanyekan dongeng dan mendongeng karena mendongeng sebenarnya bisa dilakukan siapa saja.

Pak Raden memang tak lagi muda. Di usianya yang 79 tahun itu, ia kerap harus dibantu untuk bangkit dari duduk. Langkahnya tertatih-tatih. Diiringi detak tongkat rotan beradu lantai, ia berjalan pelan mendekati sebuah papan tulis putih.

”Senangnya bertemu anak-anak lagi,” suara Suyadi alias Pak Raden terdengar lantang, penuh semangat. Dia begitu bergairah bertemu para anak yang mengunjungi Festival Bercerita Kelompok Pencinta Bacaan Anak (KPBA) di Bentara Budaya Jakarta, Kamis (12/7). Senyum menghiasi wajah Pak Raden yang tiba-tiba tak lagi terlihat renta.

”Selamat pagi, anak-anak. Suka mendengarkan dongeng, kan?” Pak Raden bertanya sambil mengambil spidol, lalu mulai menggambarkan ceritanya di papan tulis putih itu.

”Ini cerita tua, judulnya Undangan untuk Pakaian Bagus, tentang seorang pemuda desa bernama Xen-xen. Xen-xen ini, waduh, senang bukan main karena mendapat surat undangan pesta dari kepala desa,” kata Pak Raden menggambar seorang pemuda tersenyum, wajah si pemuda sumringah.

Tangannya cepat menggambar sketsa adegan demi adegan yang mengisahkan Xen-xen yang ternyata kecewa karena tidak diacuhkan di pesta perayaan hasil panen itu. ”Tamu begitu banyak, pelayan begitu banyak, tetapi tak seorang pun menyapanya. ’Kenapa ya, saya kan diundang oleh kepala desa? Apa karena pakaian saya lusuh? Apa dikira saya tidak punya pakaian bagus?’ Hmmm, Xen-xen pulang berganti pakaian,” kisah Pak Raden sambil menggambar Xen-xen berpakaian.

Di Sabtu (14/7) siang, anak-anak dari Panti Nugraha mendramakan cerita Tattadu, tentang perempuan yang menikah dengan seekor ulat. Cerita rakyat asal Sulawesi Selatan ini ditulis menjadi buku cerita oleh Murti Bunanta, pendiri KPBA.

Pak Raden memang selalu punya energi untuk mendongeng bagi anak-anak. Kecintaan mendongeng itu pula yang membuatnya ikut mendirikan KPBA, 25 tahun lalu. ”Padahal, saya pelukis. Makanya kalau mendongeng, ya, saya melukis. Asal kita tidak mendongeng sambil cemberut, anak pasti suka,” kata Pak Raden tersenyum.

KPBA berdiri 1987, berawal dari ajakan Murti, doktor peneliti bacaan anak dari Universitas Indonesia, untuk menjawab kegelisahan banyak pihak tentang minimnya bacaan anak di Indonesia. Murti mengawali ajakan mendirikan KPBA lewat tulisan berjudul ”Kalau Belum Terlambat, Mengapa Tidak Sekarang? Kita Butuh Kelompok Pencinta Bacaan Anak” yang dimuat di harian Kompas pada 22 September 1987. Ajakannya disambut banyak pihak, termasuk Pak Raden.

Makin lama, anggotanya kian beragam, tak hanya mereka yang berasal dari dunia dongeng, tetapi juga dari kalangan pustakawan, kartunis, guru, ilustrator, hingga akuntan bank.

Komunitas nirlaba yang memiliki jaringan dengan organisasi serupa di 75 negara itu menggelar berbagai pelatihan menulis buku anak, juga pelatihan serba-serbi dongeng dan keterampilan bercerita. Mereka juga aktif menulis atau menerjemahkan berbagai buku dongeng. Murti sendiri adalah seorang kolektor yang memiliki lebih dari 30.000 judul buku dongeng dan cerita anak.

Setiap pekan sejak 1993, anggota KPBA secara bergantian mendongeng bagi anak penderita kanker dan anak berkebutuhan khusus di Rumah Sakit Umum Cipto Mangunkusumo, Jakarya. Mereka juga memiliki program menghibur anak-anak di daerah bencana, seperti yang pernah dilakukan di Padang, pascagempa 2009.

”Setiap anggota memang didorong untuk bisa mendongeng karena kami punya kegiatan mendongeng untuk menghibur anak-anak,” kata Nana yang baru tiga tahun terakhir ini bergabung dengan KPBA.

Sebelum menjadi pendongeng, Nana adalah seorang karyawan di perusahaan asuransi. Kecintaannya pada dunia anak dan kegemarannya bercerita membuatnya memilih untuk menjadi pendongeng. Saat ini, Nana bisa mendongeng hingga 10 kali per bulan di acara-acara sekolah atau promosi buku baru di toko buku.

Anggota lain, Agus Rakhman, adalah seorang guru di Yayasan Pembina Anak Cacat. Agus bergabung dengan KPBA karena konsistensi lembaga ini dalam menyosialisasikan dongeng tradisional Indonesia. Tak hanya cerita Bawang Merah Bawang Putih, Timun Mas, atau Malin Kundang, KPBA juga telah menulis puluhan dongeng tradisional, seperti Tattadu (Sulawesi Selatan), Masarasenani dan Matahari (Papua), serta Bujang Permai (Sumatera Barat).

Dongeng ini, oleh Agus, digunakan sebagai bahan untuk mengajar anak didiknya di sekolah. ”Tidak harus cerita utuh, saya mencuplik bagian-bagian dari dongeng untuk diceritakan kepada anak-anak untuk berbagai mata pelajaran, termasuk Matematika. Melalui dongeng, mereka lebih mudah mengingat konsep pelajaran yang sebenarnya,” tutur Agus yang bergabung dengan KPBA sejak tahun 2000.

Penampil lain dari anggota KPBA, yaitu Christina Maya, berstatus sebagai editor buku anak dan remaja sebuah penerbit, sementara rekan duetnya di atas panggung, yaitu Wilsa Sahertian, bekerja sebagai seorang bankir.

Pentingnya mendongeng

Festival Bercerita X yang digelar di Bentara Budaya Jakarta, 12-15 Juli, menunjukkan betapa banyak cara mendongeng. Mulai dari melukiskan adegan seperti Pak Raden, menirukan berbagai bunyi-bunyian binatang seperti yang dilakukan Kak Bimo saat mengisahkan cerita rakyat Kalimantan Barat berjudul Kancil dan Kura-kura, ataupun dengan mementaskan drama cerita seperti yang dilakukan anak-anak sekolah.

Penampil muda, Jasmine Wirawan, bahkan bercerita dengan cara unik. Gadis berusia 13 tahun asal Surabaya ini mendongeng cerita dari daerah Jawa yang berjudul Suwidak Loro dan Putri Kemang (Bengkulu) sambil menari hip hop, balet, dan tarian tradisional. Sambil bercerita dalam bahasa Inggris, Jasmine tak hentinya bergerak, menari, sambil mempergunakan alat peraga, seperti busur, gambar buaya, pohon, dan topeng.

Acara ini juga mengundang pendongeng dari Amerika Serikat dan beberapa negara di Asia, serta

pimpinan perusahaan ternama untuk tampil mendongeng. Dengan konsep ini diyakini mendongeng bisa dilakukan siapa saja, terutama orangtua.

”Orangtua adalah pendongeng bagi anak mereka. Buku cerita anak yang baik adalah kunci bagi orangtua untuk mendongeng dan untuk itulah KPBA hadir. Kunci mendongeng itu satu, jadilah diri sendiri, mendongenglah dengan wajar,” ujar Murti. (IYA)

*)Kompas, 17 Juni 2012

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan