-->

Kronik Toggle

Catatan Project Sophia #3: Menyeberangi Danau Membangun Keluarga

Saat perahu dengan banner bertuliskan “Perpustakaan Sophia: Ayo Baca Raih Mimpi-mimpimu” merapat di pelabuhan kecil Desa Peura, empat orang pemuda dan dua orang tua bersama sebuah boks beroda langsung mendekat mengangkut boks-boks buku. Dua orang ibu tergopoh-gopoh menghampiri sambil berkata “wah, sudah ditunggu-tunggu dari tadi”. Dua jam sebelum perahu Perpustakaan Sophia melintasi Danau Poso, melalui telepon dikabarkan ratusan anak sudah menunggu sejak jam 11. Semangat membaca buku langsung membuat team Project Sophia bergerak cepat dibantu orangtua di Desa Peura yang ingin anaknya mendapatkan buku bacaan. Dari kejauhan terdengar suara ratusan anak-anak menyanyikan lagu-lagu. Seperti sedang mengusir kejenuhan menunggu datangnya buku.

Hari Minggu, tanggal 16 Oktober Baruga Desa Peura dipenuhi ratusan anak dan puluhan orang tua. Tempat duduk yang berfungsi sebagai dinding Baruga tidak mampu menampung jumlah anak-anak  sehingga beberapa yang lain duduk di tengah atau di atas tumpukan beras. Mata mereka langsung bersinar begitu melihat boks-boks buku, layar, dan anggota team Project Sophia mendekat. Puluhan anak-anak langsung berlari mendekati boks buku namun dicegah oleh orang dewasa lainnya “tunggu, tunggu sampai bukunya selesai disusun, ayo menyanyi lagi” Dua orang anak bergantian memimpin lagu-lagu sementara team Project Sophia berusaha bergerak cepat menata buku-buku. Seseorang berbisik “saya ragu apa buku-buku ini cukup untuk anak-anak, kak. Banyak sekali yang datang”

Ketika melihat buku-buku selesai disusun, belasan anak mengambil ancang-ancang akan lari menuju buku. Lagi-lagi dicegah orang tua “sabar,sabar, semua akan dapat buku”. Lian, pembina Project Sophia berusaha secepat mungkin menyelesaikan penjelasan mengenai aturan membaca buku dan fasilitas menggambar dan membuat origami. Anak-anak tidak cukup sabar, beberapa yang berada di samping susunan buku sudah menunjuk-nunjuk buku yang akan dibacanya, tidak mau buku itu diambil oleh yang lain. Saat dijelaskan bahwa semua anak harus mencuci tangan dan mengeringkannya sebelum membaca, anak-anak langsung berebutan mencuci di ember, langsung mengambil posisi siap berlari menuju buku. Suasana riuh bahkan sebelum aktivitas membaca dimulai. Semua mata tertuju pada buku-buku yang disusun.

Beberapa orang tua perempuan berusaha membantu team Project Sophia mengatur anak-anak, memberikan petunjuk agar anak-anak mengambil buku dengan mengantri. Semangat luar biasa dari ratusan anak-anak untuk mendapatkan akses buku tidak dapat dibendung. Ketika dua orang anak sedang mempraktekkan mengantri mengambil buku, ratusan anak-anak lainnya langsung menyerbu buku. Mereka berebutan mengambil buku-buku, bukan cuma satu tapi beberapa orang membawa buku empat sekaligus. Team Project Sophia hanya mampu tersenyum dan berusaha tetap memberikan penjelasan mengenai tata cara penggunaan buku.

Seketika ruangan berukuran 10 x  12 meter itu riuh dengan aktivitas membaca, menggambar dan origami. Berulangkali anak-anak berlari-lari hingga terjatuh hanya untuk mengganti buku yang sudah selesai dibaca dengan buku-buku. Belasan anak-anak tidak beranjak dari sekeliling tempat buku sejak awal hingga akhir. Tidak ada yang hanya berdiam diri, semua tenggelam dalam aktivitas membaca, dan menggambar.

Aktivitas membaca orang tua tidak kalah serunya. Seorang kakek membaca serius buku tentang konflik. Sebelum Project Sophia datang, warga di Desa Peura terlibat konflik antar warga karena perbedaan pendapat mereka tentang pembangunan jalur transmisi PLTA Sulewana milik Jusuf Kalla, dengan perusahaannya PT Bukaka. Warga terbagi dua, mereka yang setuju dan mereka yang tidak setuju pembangunan di wilayah pemukiman masyarakat. Konflik antar warga ini menyebabkan suami istri saling meninggalkan rumah, ayah dan anak tidak lagi saling mengakui, antar saudara tidak saling menyapa, hingga saling memukul, menganiaya bahkan saling melaporkan ke Polisi.

Kedatangan Project Sophia meleburkan rasa benci dan mengingatkan kembali ikatan kekeluargaan diantara mereka. Ruangan dimana dulu mereka pernah saling menuding dan memaki, sekarang menjadi ruang membaca bersama. Aktivitas membaca mempertemukan mereka. Bukan hanya orang tua tapi juga anak-anak yang dulu dipisahkan jika bermain hanya karena orang tua mereka berbeda pendapat. Seorang ibu mengatakan “ini pertama kali kami bisa kumpul bersama satu desa tanpa bersitegang atau saling memandang sinis. Soalnya yang dipandangi buku-buku” Anak-anak tidak lagi segan-segan duduk bersama membaca, menggambar dan belajar origami yang dipimpin oleh anak-anak Sanggar Mosintuwu. Mereka bisa saling membuat janji untuk bermain bersama lagi di lapangan atau di tepi Danau (yang sayangnya sekarang sudah terbangun tower SUTET).

Sementara itu pada menit-menit awal, kelompok origami hanya diminati oleh sedikit anak-anak. Namun dalam sepuluh menit berikutnya, Mimi dan Angel yang mewakili Sanggar Anak Mosintuwu, mulai kewalahan mengajarkan puluhan anak-anak yang meminta diajarkan membuat kotak, dan burung. Hanya sekali diajarkan, anak-anak mulai saling mengajarkan temannya yang lain yang juga tertarik membuat origami. Beberapa mendatangi orangtuanya menunjukkan hasil karyanya. Semua sibuk dengan aktivitasnya masing-masing, tidak ada yang hanya diam.

Lima ratus buku-buku yang melintasi Danau Poso hari itu tidak ada yang tidak disentuh untuk sekedar dilihat isinya atau dibaca. Lagu anak-anak yang diputar mengiringi aktivitas membaca, menggambar dan origami menambah semarak suasana dalam ruangan. Orang tua terus berdatangan, anak-anak semakin bersemangat membaca seakan takut hari cepat berlalu dan mereka tidak lagi dikelilingi buku-buku.

Lima jama setelah boks-boks buku dibuka, layar untuk menonton film bersama sudah dibuka, namun anak-anak masih meneruskan aktivitas membaca. Mereka membawa buku-bukunya di depan layar putih yang belum menyajikan tontonan apapun. Mereka membaca, dan membaca terus dan siap menonton film Denias. Hanya janji bahwa Project Sophia akan mengunjungi mereka lagi yang membuat anak-anak dan orang tua merasa lega dan mau melepaskan buku-buku yang mereka baca untuk ditemui lagi dalam kunjungan berikutnya.

Hari ini, Project Sophia melintasi batas daratan, menyusuri Danau Poso, menemui sahabat Project Sophia, membuat mereka mengingat kembali kekeluargaan dan indahnya bersatu untuk kehidupan bersama. Melalui Buku.

*)Disalin dari blog Perpustakaan Sophia

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan