-->

Kronik Toggle

Catatan Project Sophia #2: Tidak Ada Lagi Perkelahian,Hanya Buku!

“Ayo adik-adik, mama dan papa, kakak dan adik, mari kita ceriakan hari Minggu kita dengan buku-buku, origami dan permainan puzzle. Semuanya ada di Perpustakaan Keliling Sophia, yang hari ini akan ada di Kajuawu” Suara dari dalam mobil yang bertuliskan Perpustakaan Sophia terdengar penuh semangat mengajak warga di wilayah pemukiman pengungsi asal Poso Kota dan sekitarnya. Suara ajakan ke Perpustakaan Sophia itu menyebabkan warga keluar dari rumah, menghentikan aktivitas, untuk sekedar melihat dan mendengarkan isi pengumuman dari Perpustakaan Sophia. Sementara itu, belasan anak-anak nampak berlari-lari kecil di belakang mobil Perpustakaan mengikuti kemana perginya. Sesekali mereka mengajak temannya yang hanya melihat di pinggir jalan atau di pintu rumah untuk bergabung dengan mereka.

Siang hari yang terik di pemukiman Kajuawu menjadi ramai dengan iring-iringan anak-anak berjalan ke arah bukit di samping gereja, dimana ratusan buku sedang ditata rapi sesuai kategori usia. Anak-anak nampak sudah tidak sabar mengintip judul-judul buku. Beberapa ibu dan bapak-bapak nampak sibuk membantu menata buku, mengatur meja,dan menyiapkan terpal untuk duduk anak-anak. Sesekali mereka juga tidak sabar melihat judul-judul buku yang menarik.

Ini adalah pertama kali Perpustakaan Sophia mengunjungi pemukiman yang warganya berasal dari pusat konflik. Ini pertama kalinya mereka melihat ratusan buku-buku, bukan hanya puluhan, atau belasan. Ini juga pertama kalinya mereka mendapatkan fasilitas bermain, dengan didampingi. Tidak heran, meskipun aktivitas beribadah saat itu sedang berlangsung di beberapa tempat, anak-anak, remaja dan orang tua silih berganti datang.

Suasana semakin ramai ketika mobil Perpustakaan Sophia yang tadinya berkeliling pemukiman, datang dengan nyanyian lagu anak-anak. Beberapa anak secara otomatis bertepuk tangan mengikuti irama lagu. Jam 13.30, Perpustakaan Sophia dibuka  dengan penjelasan mengenai jenis-jenis aktivitas yang disediakan, yaitu membaca, membuat origami ,menggambar dan mewarnai serta menonton film. Begitu hitungan ke tiga, anak-anak langsung berebutan menghampiri meja, menemui salah seorang kakak pembina yang memegang  kertas gambar dan pensil warna. Yang lainnya mendekati sekumpulan anak-anak Sanggar dari Pamona yang diketuai Buyung dan Nanda untuk membuat origami. Dalam waktu singkat, semua anak-anak sibuk membaca dan melakukan aktivitasnya.

Steve, seorang anak yang menurut orang tuanya sudah bicara soal perpustakaan Sophia sejak jam pagi-pagi sekali nampak membawa tiga buku sekaligus. Seorang anak yg lain membawa dua buku, katanya: “setelah ini, akan baca ini” Satu berbahasa Inggris, yang lainnya berbahasa Indonesia. Anak-anak lain nampak membaca bersama-sama. Dua orang tua yang duduk membaca serius tiba-tiba terlibat diskusi seru tentang isi buku berjudul Cerita Bijak dari Negeri Jepan.

Di bagian lain ruangan terbuka yang disulap menjadi tempat membaca yang cukup nyaman itu, seorang volunteer Perpustakaan Sophia berkebangsaan Australia, nampak sedang serius membacakan buku cerita dalam bahasa Inggris. Anak-anak berkerumun ingin mendengar ceritanya atau sekedar penasaran.

Seorang anak tiba-tiba mendatangi kakak pembina, dengan bangga memamerkan dua buku cerita yang sudah selesai dibacanya “ini sudah kak, mana buku yang cerita tentang laut?” Setelah diberikan  buku tentang laut, Giran, 11 tahun mengatakan bahwa orang tuanya sering cerita tentang laut di Kota Poso tempat dimana dulu mereka pernah tinggal sebelum mengungsi.

Sementara itu seorang bapak sempat menceritakan bagaimana kesulitan mereka saat mengungsi dan tersesat lebih dari seminggu di tengah hutan. Sejak itu, terdapat ketakutan untuk berhubungan dengan pihak dari luar. Kedatangan Perpustakaan Sophia adalah kunjungan yang menghubungkan mereka dengan dunia di luar pemukiman pengungsi mereka. Seorang pembina pemuda di Kajuwau bahkan mengatakan bahwa tingkat stress dan depresi di wilayah pemukiman ini sangat tinggi dan seringkali diwujudkan dalam perkelahian kelompok. Kedatangan Project Sophia merupakan bagian dari membuka ruang aktivitas positif yang tidak dimiliki warga miskin ini, sekaligus sebuah ruang berkumpul alternative yang aman, nyaman tanpa dikurung oleh formalitas yang biasanya ada dalam ruang-ruang pertemuan.

Kegiatan di kelompok Puzzle dan origami tidak kalah seru. Anak-anak yang hadir saling menunjukkan gambar yang diwarnai, atau saling memberi petunjuk warna yang dipilih. Seorang ibu nampak sesekali mengangguk-angguk kagum pada kelompok anak-anak yang cekatan membuat origami bunga,kepiting,kotak.

Orang tua yang mengunjungi anak-anaknya di tempat baca, juga ikut membaca. Mereka mengekspresikan kebahagiaan mereka dengan kunjungan Project Sophia. Mereka mengatakan” Ini adalah bagaimana cara mendampingi anak untuk masa depan mereka lebih baik. Dengan buku. Mungkin hari ini kami sudah tidak dengar lagi ada perkelahian di wilayah ini”

Pemutaran film “Laskar Pelangi” yang bercerita tentang perjuangan 10 orang anak untuk meraih pendidikan demi mimpi-mimpi mereka, menyempurnakan kunjungan Perpustakaan Sophia. Kali ini anak-anak boleh bermimpi lebih tinggi, melewati keterbatasan mereka, untuk hidup lebih baik.Bahkan meskipun mereka dulu pengungsi.Tidak ada lagi perkelahian,hanya buku?

*)Disalin dari blog perpustakaan sophia, 24 Juli 2012

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan