-->

Lainnya Toggle

Bisnis Nasehat di Hutan Buku

Oleh: Donny Anggoro

Seorang kawan sastrawan yang sudah berpengalaman dan terkadang menulis resensi di berbagai media massa terkenal  pernah menulis status di Facebook yang isinya begini: “Sedang membaca buku terbaru karya pasangan Donald Trump dan Robert T. Kiyosaki. Sebuah buku yang menggugah”. Membacanya saya tersentak dan entah kenapa tiba-tiba saya tergelitik untuk memberi tahu kepadanya bahwa buku itu menurut saya kurang patut dibaca oleh penulis kaliber sastrawan macam dia. Saya komentari statusnya dengan nada sinis: “setelah membaca harap mengaku dosa dan bertobatlah, masih banyak buku lain yang lebih layak”.

Keesokan harinya dia marah dan menuduh saya kelewat iseng, apalagi ini buku pilihannya dari sebuah penerbit terkemuka terbesar di negeri ini.  Saya berkomentar sinis bukan bermaksud mengganggu atau iseng, karena mungkin dia kepingin menjadi Donald Trump. Yang ingin saya beritahukan sebenarnya kepadanya layakkah seorang miliuner yang bahkan sebelum lahir ke dunia sudah kaya tiba-tiba berkhotbah kepada banyak orang tentang cara menjadi kaya? Saya tahu semua orang bebas menulis apa saja dan saya kagum dengan orang-orang yang bisa menuliskan gagasannya. Tapi buat saya itu hal mustahil jika dilakukan oleh orang yang bahkan sebelum dia lahir pun sudah miliarder!

Tanpa harus membaca buku tersebut, dengan logika paling sederhana sekalipun kita sudah bisa menebak buku tersebut ditulis demi pencitraan “kepingin beken” saja. Beda jika yang menulis memang seorang yang dikenal dulunya bukan siapa-siapa atau memang lahir dari keluarga tak berkecukupan, terus berjuang, lalu kemudian berhasil menuai kerja kerasnya sebagai pengusaha sukses dengan melampaui segala rintangan. Buku tersebut ditulis dengan maksud sebagai “kiat bisnis” ditambah “motivasi nasihat” berbunga-bunga bersama seorang penulis kondang buku jenis begini. Dari segi bisnis industri buku ini kombinasi duet penulis yang luar biasa dan “sangat” berdaya jual tinggi sehingga kawan saya itu memuji-muji dan segera akan  membuat resensinya.

Saya cemas dan heran kenapa kawan sastrawan, yang jika saya bertandang ke rumahnya dikelilingi buku berbagai genre, bisa begitu mudah percaya pada buku macam itu. Saya tak cemas dan lalu tergelitik berkomentar sinis jika yang membaca buku tersebut adalah orang-orang awam, yang memang tak paham trik-trik bisnis industri buku. Yang saya sesalkan kenapa seorang yang saya kenal sebagai pembaca yang giat cum penulis yang serius, sudah menghasilkan beberapa buku sastra, dengan karya dimuat di media massa terpandang ternyata dengan mudah tergoda lantas memuji setinggi langit buku semacam itu?

Sastrawan yang saya kenal biasanya berpikiran maju, bahkan ada yang terlampau maju sehingga ada yang benar-benar tak bisa diterima orang kebanyakan. Saya paham orang-orang tipe begini pun banyak saya temui, apalagi di lingkaran pergaulan kelas “cerdik cendekia” kalangan penulis, akademisi, jurnalis, dan seniman. Tipe begini sebenarnya juga perlu diwaspadai antara memang kepingin selalu tampil beda (baca: pintar, intelek, avant-garde, hipster) dengan selalu melakukan hal yang sebenarnya (mudah) dengan cara susah, yaitu semuanya dipikirkan dan dilakukan secara terbalik sehingga hasilnya mirip “kesombongan intelektual” atau memang sebenarnya dia punya wawasan yang ingin dibagikan kepada orang lain dengan maksud “yang awam jadi paham” sehingga tingkah laku sehari-hari pun tak harus “terbalik”. Selama 13 tahun hidup saya di lingkaran pergaulan macam ini saya sudah tak heran dengan dua tipe begini dan saya hanya mengambil manfaat positifnya saja. Tapi, saya sendiri pun mengambil sikap dengan lebih sering berkontak dengan orang tipe kedua, “yang awam jadi paham”.

Kembali ke teman saya itu, dia marah-marah dan bilang ke saya teganya kamu nulis iseng begini, kan saya nanti bikin resensinya buat anak istri di kampung? Bagaimana kalau dibaca penerbitnya? Saya jawab, semua orang cari duit itu sah, kamu tidak salah, sobat. Sekali lagi bukankah masih banyak buku lain yang lebih layak? Saya tidak main-main dan khawatir dengan sikap kawan sastrawan ini sehingga saya copy paste-kan link sebuah tulisan dari laman situs berkonsep citizen journalism karya jurnalis koran Jakarta yang isinya riset soal betapa buruknya bisnis “nasihat” itu buat dia sebagai bukti konkrit saya punya alasan. Dia masih tidak terima, membentak saya sebagai “sok usil”, berkeras bahwa saya bersalah dan harus minta maaf. Sila periksa tautannya disini: http://www.jakartabeat.net/humaniora/kanal-humaniora/esai/item/1391-kunci-sukses-dalam-berkarir.html#.UBOuxEaIDl4
Perbincangan kami terputus, lalu beberapa hari kemudian dia menghapus saya dari daftar teman  di Facebook dan  mengganti nomor ponselnya agar saya tak bisa mengontaknya lagi. Saya geleng-geleng kepala. Tapi saya lalu berbesar hati dan berpikir memang tak semua bisa menerima kenyataan pahit di zaman depresi begini. Tak semua orang yang menurut saya pintar ternyata ada saja yang mudah terbawa arus hasil produk media massa arus utama yang dianggap kebenaran lantaran dihasilkan dari sebuah penerbit ternama!

***

Kembali ke soal “bisnis nasihat” (ya, saya lebih suka menyebutnya begini) saya lalu browsing dan ternyata kondisi ini sudah banyak membuat orang resah. Seorang sastrawan yang kini menjadi kolumnis harian terkemuka sudah pernah menuliskannya dengan nada sinis pula, kali ini BUKAN buku tapi media lain yaitu televisi yang juga dirambah “bisnis nasihat”: “Selain menyediakan panduan-panduan menuju neraka dan bahan-bahan untuk bergosip, tentu saja di sana ada juga orang-orang yang mengajak ke surga. Ada tukang khotbah dan seruan azan. Ada juga para pemompa semangat yang memberi tahu Anda bagaimana cara menjadi Superman…” di http://as-laksana.blogspot.com/2011/10/dunia-yang-berisik.html

Ah, sobat, tentunya anda tahu siapa yang dimaksud, bukan? Kawan saya yang lain juga sastrawan, jengkel lalu menulis status di akun Facebooknya dengan nada keluhan: “sepertinya semua motivator bilang hidup ini mudah, padahal IT’S F#@@$$%NG HARD!” Belum foto-foto iseng kreatif yang diposting di Facebook dengan tulisan: “Hidup Tak Semudah Cocote…” (ah, saya segan menyebut namanya!)

Dua kawan saya yang lain (bukan sastrawan) pernah mengutarakan keresahannya langsung kepada saya soal ini. Mereka berdiskusi sebagai sesama pekerja buku kepada saya dengan salah satunya mengatakan berdasarkan riset amatan kecil yang mereka buat, bahwa hampir semua buku motivasi self-help di sini hampir sama hanya membolak-balik bahan atau ditambahkan sedikit ajaran agama. Bahkan ada yang mengajak saya menulis duet karya fiksi yang maksudnya menyindir buku-buku produk “bisnis nasihat”.

Bukan Antipati

Mengenai “bisnis nasihat” atau motivasi, memang tak salah dan bisa dimaklumi jika lantas menjadi marak, mengingat kondisi zaman di negara kita yang sedang mengalami depresi luar-dalam, ini dimulai sejak akhir 1990-an ketika bisnis MLM mulai masuk dan merajalela. Semua orang dari berbagai lapisan butuh panduan, ada yang lari ke agama dan menjadi fanatik, kemudian mengecam orang lain yang berbeda agama sampai memang terpedaya larut dalam fantasi “cepat kaya”, sedangkan ada juga yang tak sadar dirinya sebenarnya sedang dieksploitasi oleh kapitalisme yang mampu mengadakan pelatihan motivasi.

Ya, sebenarnya anda diharapkan berubah hanya demi keuntungan kantor anda! Ada pula tetangga saya yang kesal hidupnya tak meningkat lalu memilih hidup biasa-biasa saja semampunya dengan salah satu contoh membuang buku itu…
Oke, itu contoh di sini. Tapi, hmm, penulis asing, Walker Percy saking kesalnya dengan “bisnis nasihat” ini pernah menulis buku tebal 330 halaman terbitan tahun 1983, The Last Self Help Book (sudah diterbitkan edisi Indonesianya oleh Jalasutra, 2006).

Ah, jadi, bukankah sebenarnya saya tidak sendirian?

Atau coba lihat ini apakah anda pernah mendengar ajaran “jangan bekerja demi uang, tapi biarkan uang bekerja untuk anda?” Intinya uang anda harus diinvestasikan, sehingga orang lain bekerja mengembangkan uang anda, sedangkan anda bisa meluangkan waktu jalan-jalan keliling dunia atau melakukan aktivitas lain menikmati hidup. Kelemahan mendasar ajaran ini adalah TIDAK bisa diterapkan untuk semua orang. Sebab, kalau semua orang tidak mau jadi pegawai, lantas SIAPA orang yang harus mengerjakan “hal-hal kecil di kantor anda” seperti membersihkan ruangan, membuat kopi, membelikan makan siang, menjalankan fungsi administrasi kantor, petugas satpam, melakukan ini dan itu demi perusahaan? Bukankah tanpa mereka, anda sebenarnya tidak bisa kaya raya, apalagi masuk daftar orang terkaya versi Forbes?! coba periksa tautan ini:  http://www.amazon.com/Rich-Dad-Poor-Money-That-Miniature/dp/0762434279

Saya memang tak membeli buku-buku macam itu, tapi karena dulu kantor saya adalah salah satu penerbit yang merintis penerbitan buku-buku macam beginian sejak akhir 1980-an dan menjadi inspirasi banyak penerbit sesudahnya, tentu saja saya membaca juga buku semacam itu. Tulisan ini bukan berarti saya antipati pada penerbitan buku bisnis motivasi, eh, bisnis nasihat. Hanya sekedar saya ingin berbagi bahwa di tengah “hutan buku” (baca: toko buku) dan “dunia yang sedang sumpek”, zaman depresi, mungkin yang paling tepat kita juga harus punya “filter” agar tak salah pilih.

Kembali ke contoh kawan saya yang jengkel tadi, ya, mungkin ini karena dirinya sudah tak sanggup lagi memilih di tengah “hutan buku”. Seorang kawan lain mencoba mengambil manfaat dari maraknya penerbitan buku beginian dengan berfikir “masih untung karena banyak orang masih baca buku”. Ya, itu benar, sobat. Tapi sekali lagi buku apa dulu? Sekali lagi Anda sedang di tengah, “hutan buku”, Bung! Baiklah, saya tak mau mengakhiri tulisan ini dengan keluh kesah belaka, seolah-olah industri bisnis “buku nasihat” salah besar. Dan saya pun bukannya mau promosi buku juga. Masih ada buku jenis beginian yang menurut saya layak baca.

Misalnya, The Science of Getting Rich karya Wallace D. Wattles. Dan buku ini tergolong sangat tua, terbit tahun 1910 namun menjadi cikal bakal beberapa buku sejenis macam Napoleon Hill dan Rhonda Byrne (ya, The Secret yang terkenal itu). Mengapa buku ini menarik, berikut saya kutip beberapa ajarannya dari A.S Laksana dalam kolomnya di http://as-laksana.blogspot.com/2011/12/ilmu-menjadi-kaya-2.html yang mungkin buat banyak orang terlupakan tapi sesungguhnya bisa dipraktikkan dan masuk akal, ketimbang jadi “Superman” dan menolak jadi pegawai:

1. Anda hanya perlu menjadi kaya dalam cara yang kreatif, bukan kompetitif. Anda tak perlu menjadi kaya dengan mengalahkan siapa pun. Anda hanya perlu memulai “penciptaan” dari pikiran Anda. Itu sumber utama Anda untuk mewujudkan segala sesuatu, termasuk mewujudkan kekayaan.

2. Jangan peduli pada kegiatan-kegiatan amal. Orang miskin tidak butuh amal. Kegiatan amal hanya meringankan penderitaan dalam satu dua hari. Sebuah hiburan hanya akan memberi kesenangan dalam satu dua jam. Orang miskin membutuhkan inspirasi. Beri mereka inspirasi, dan itu adalah pemberian yang akan bertahan seumur hidup.

3. Seperti apa pun situasi anda sekarang, lihatlah diri anda melampaui apa yang tampak di permukaan. Bereskan dulu urusan anda sekarang sebaiknya, bicara filosofis belakangan. Atau buku ini Dare to Fail karya Billi Lim, yang intinya sederhana saja yaitu: kalau mau sukses ya, harus berani gagal. Jangan takut untuk terus mencoba. Buku ini sangat terkenal bahkan dijadikan versi lain yaitu komik. sila periksa tautan ini: http://www.goodreads.com/book/show/8506405-berani-gagal

Dan penulisnya, Billl Lim, penulisnya bukan Donald Trump dan saya rasa tepat jika Anda baca bukunya.

Billi Lim lahir pada tahun 1950 dalam sebuah keluarga besar beranggota 14 orang. Ayahnya adalah seorang tukang daging dan ibunya adalah seorang ibu rumah tangga. Masa kecilnya amatlah keras dan tidak ada satu haripun bisa pergi tanpa salah satu saudara kandungnya kalau tidak ingin dibentak atau dipukuli ayahnya. Mereka biasanya makan dari sisa-sisa tulang dan potongan-potongan daging dari kios ayahnya sepulang kerja. Masa-masanya dipenuhi kegagalan, sebagai remaja, mahasiswa dan kemudian dalam bisnis dipenuhi kegagalan-kegagalan. Gagal masuk universitas negeri dan ditolak lagi untuk usaha yang keduanya. Dalam kehidupan cintanya ia gagal beberapa kali. Ia telah membangun bisnis yang hebat hanya untuk melihatnya runtuh. Dia dikenal sebagai “Guru Kegagalan”.

Nah, kedua buku ini tidak muluk-muluk, bukan?

OK, sobat selamat membaca. Silakan jika ada buku lain yang relevan. Saya harap bagi yang memang butuh motivasi, jangan lagi tersesat di “hutan buku”

*)Disalin dari Jakartabeat, akses 29 Juli 2012

1 Comment

enu - 30. Jul, 2012 -

Pencerahan yang sesungguhnya…

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan