-->

Kronik Toggle

Bedah Buku Helen Creese "Women of The Kakawin World"

MALANG – Kakawin atau cerita berformat puisi adalah warisan yang kaya dalam sejarah klasik di Indonesia. Kakawin merupakan harta karun informasi sejarah yang berharga. Meski isinya berupa fiksi, kakawin bukan teks yang hampa nilai sehingga tetap penting untuk menjadi sumber informasi perihal posisi sosial kehidupan masyarakat pada masa Indonesia zaman kerajaan kuno yang masih misterius. Kakawin terutama bisa dimanfaatkan untuk menilai posisi sosial perempuan, khususnya perempuan keraton.

Demikian persoalan yang mengemuka dalam diskusi bedah buku karya Helen Creese, Guru Besar School of Languages and Comparative Cultural Studies University of Queensland, Australia, yang berjudul Women of The Kakawin World: Marriage and Sexuality in Indic Courts of Java and Bali. Diskusi di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Negeri Malang (UNM), minggu lalu, menampilkan Helen sebagai narasumber bersama dosen Sejarah FIB UNM, Dwi Cahyono dan Syukur Ghazali.

Dwi menjelaskan, kakawin menjadi salah satu sumber yang kaya dalam khazanah arkeologi Tanah Air. Ada cukup kesempatan untuk mempelajari kakawin selama ini dibandingkan prasasti yang lebih banyak menghadapi tantangan kerusakan alam dan waktu. Istilah kakawin merujuk pada format atau bentuk penulisan yang dalam bahasa sekarang adalah format puisi, bukan prosa. Kakawin mengikuti pola dan keteraturan bentuk yang disebut guru lagu (kesamaan bunyi) dan hukum puisi lainnya.

Komunitas sejarawan umumnya agak mengesampingkan kakawin sebagai sumber sejarah karena tidak bisa diandalkan sebagai sumber informasi faktual. Menurut Dwi, kakawin disusun pujangga istana sebagai karya artistik. Buku karya Helen, dalam kajiannya terhadap kekayaan kakawin di Jawa dan Bali, ternyata menunjukkan kakawin berharga untuk menakar posisi perempuan pada masa itu.

Syukur mengingatkan, kakawin tak mencerminkan posisi perempuan dalam masyarakat. Kakawin tetap berharga untuk memahami posisi perempuan dalam konteks zaman meski terbatas di lingkungan istana.

Kliping: Kompas, 18 Juli 2012, “Kakawin Rujukan Sejarah”

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan