-->

Kronik Toggle

Bahasa Melayu Alami Degradasi oleh Bahasa Indonesia

JAKARTA — Pakar bahasa Melayu, Yusmar Yusuf, mengatakan, bahasa Melayu yang menjadi akar dari bahasa Indonesia semakin mengalami degradasi karena banyak kata sudah berubah dari makna awalnya.

“Sebagai bahasa yang dituturkan oleh banyak manusia, mau tak mau bahasa itu akan mengalami ‘pengeroyokan’ oleh penutur bahasa kedua dalam jumlah yang ramai,” kata Guru Besar Kajian Masyarakat Melayu Universitas Riau itu saat dimintai konfirmasi di Jakarta, Rabu (4/7/2012).

Fakta ini sebagaimana bahasa Inggris yang dituturkan oleh orang di Hongkong, Malaysia, dan lain-lain yang mengalami degradasi makna dan struktur.

Yusmar memberi contoh, kata alih-alih dalam bahasa Melayu berarti ‘tak disangka-sangka’, tetapi kini sudah berubah makna dalam bahasa Indonesia. Bahkan, orang Melayu sendiri jadi tak mengerti apa arti kata alih-alih itu.

“Demikian pula, orang Melayu menjadi bingung ketika kata seronok dikeroyok menjadi wakil dari erotisme dan sensualitas. Padahal, artinya amat positif, yakni menyenangkan, enak, sedap, dan lezat,” kata budayawan Riau itu.

Bahasa Melayu, menurut dia,  justru amat berkembang ketika dituturkan oleh  250 juta manusia Indonesia karena bahasa ini menjadi bahasa yang progresif. Namun, dampaknya, bahasa Melayu menjadi kehilangan “rasa” dan makin menuju pada kedangkalan bahasa, terutama dalam knowledge content.

Bahasa Melayu, sebagaimana bahasa Inggris, Jawa, dan bahasa lain, awalnya adalah bahasa ekspresif. Namun, , ujar Yusmar, setelah diadopsi sebagai bahasa Indonesia, bahasa itu berubah hanya sebagai bahasa deskriptif yang berfungsi untuk menjelaskan.

“Dia menjadi kering. Mereka yang merasa kekeringan itu adalah penutur bahasa Melayu asli, yang memakai bahasa Melayu sebagai bahasa ibu, seperti di Riau, pantai timur Sumatera, atau pantai barat Kalimantan.”

Menurut dia, semestinya ada sistem “rujuk” yang diterapkan dalam bahasa Indonesia, yakni ketika ada upaya penambahan lema (entri) sejalan dengan perkembangan dunia, hendaklah dirujuk dulu ke bahasa Melayu.

“Jika tidak ada, baru diambil dari bahasa lokal Nusantara lainnya, setelah itu diambil dari bahasa Arab. Jika tidak ada dalam semua bahasa tadi, baru diadopsi dari bahasa lain, seperti Inggris. Hendaklah Indonesia bersetia memelihara keaslian arti dan makna,” tuturnya.

Bahasa internasional
Soal gagasan membawa bahasa Melayu menjadi bahasa internasional, menurut Yusmar, sah-sah saja. Namun, bahasa ini bisa menjadi lebih rusak karena akan dikeroyok lagi dalam skala yang lebih besar.

“Sekarang kita bertanya, sudah siapkan kita dengan instrumen penakluk untuk mendakwahkan bahasa Melayu sebagai bahasa dunia? Tiadanya lembaga kebudayaan, seperti Goethe Institut, Erasmus Huis, Centre Culturel France, dalam versi Melayu akan menggamangkan bahasa Melayu untuk disandingkan dengan bahasa-bahasa dunia yang tinggi dan kuat itu,” katanya.

Kamus bahasa Melayu atau Indonesia baru memuat 98.000 kata, ujarnya. Bandingkan dengan bahasa Inggris, Perancis, dan Jerman yang dalam kamus mereka tersedia lebih dari 1 juta lema.

Ia lebih percaya pada bagaimana memperkuat bahasa Melayu ke dalam lingkungan ASEAN ketimbang bahasa PBB. Apalagi, bahasa Melayu telah digunakan juga di Malaysia, Singapura, Brunei, bahkan Thailand selatan.

Yusmar menjadi salah satu pembicara pada Seminar Dari Rio untuk Riau: Pembangunan Berkelanjutan Berbasis Ekonomi Hijau, Sosial, dan Budaya yang digelar Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia di Pekanbaru, akhir pekan lalu, dengan topik “Revitalisasi Bahasa Melayu sebagai Bahasa Internasional”.

*)Antara, 4 Juli 2012

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan