-->

Tokoh Toggle

Aan Ratmanto:Menemukan Sejarah yang Hilang

Thomas Pudjo Widijanto

Kawasan Shopping Center, Yogyakarta, bukan sekadar tempat penjualan buku-buku loak alias bekas. Mereka yang beruntung bisa menemukan buku-buku lama yang bagi pembelinya merupakan ”emas”. Buku yang menjadi referensi keilmuan.

Di sisi lain, tempat ini juga menjajakan ribuan skripsi karya mahasiswa dari hampir semua perguruan tinggi di Yogyakarta. Bahkan, disertasi pun ada di sini. Sulit menjawab mengapa karya ilmiah itu ada di sini. Beberapa pedagang buku pun bercerita, ada saja mahasiswa yang membuat skripsi dengan ”membeli” karya skripsi yang diperdagangkan itu.

Pada titik inilah contek-mencontek karya ilmiah terjadi. Bahkan, Universitas Gadjah Mada pernah mendiskualifikasi tesis seorang kandidat doktor karena kasus mencontek. Inilah tragedi keilmiahan. Orang bisa lulus cepat meski dengan ”kriminalisasi intelektual”, menjiplak karya orang lain.

Adalah Aan Ratmanto, kala itu tahun 2009, sedang mempersiapkan skripsi untuk S-1 Jurusan Sejarah di Universitas Negeri Yogyakarta. Untuk mewujudkan skripsi yang menyoroti soal tentara Wirkres III pada masa pergolakan kemerdekaan di Yogyakarta, ia mencari literatur dengan masuk-keluar perpustakaan.

Ketika sedang asyik mencari buku-buku di Perpustakaan Museum Kodam IV/Diponegoro, Semarang, Jawa Tengah, Aan melihat dua bendel dokumen yang membuatnya terkesima. Di sini, ia menemukan fakta, pada 1 Mei sampai 30 Juli 1949—saat pemerintahan Republik Indonesia berada di Yogyakarta—ada pemerintahan transisi yang dipegang langsung oleh Sultan Hamengku Buwono IX (HB IX) atas mandat Presiden Soekarno. Saat itu, Bung Karno dan Bung Hatta dalam pengasingan di Menumbing, Bangka.

”Ini informasi sejarah baru,” kata Aan. Untuk menguatkan dugaan itu, ia semakin dalam menyuruk dari perpustakaan ke perpustakaan mencari literatur sejarah yang berkaitan dengan kedua dokumen tersebut.

”Dua tahun lebih saya mencari-cari, tetapi belum menemukan buku yang secara tegas menceritakan adanya pemerintahan transisi Republik Indonesia di Yogyakarta pada masa perjuangan kemerdekaan. Artinya, banyak orang belum tahu bagian sejarah masa perjuangan kemerdekaan,” katanya.

Membuat buku

Dari temuan dokumen itu, ia lantas berpikir untuk menjadikannya sebagai buku. ”Di sini ada missing link, ada sejarah yang hilang dalam perjuangan kemerdekaan RI, khususnya saat ibu kota RI berada di Yogyakarta,” ujarnya.

Dari studi pustaka selama lebih dari dua tahun, Aan mampu menyelesaikan karyanya mengenai dokumen sejarah itu. Namun, mencari penerbit bukan hal mudah. Empat penerbit besar di Yogyakarta tak bersedia menerbitkan karyanya.

”Bahkan, ada penerbit yang menganggap tak ada hal baru di sini,” katanya.

Sampai seorang teman memperkenalkan dia kepada pemilik Penerbit Matapadi, yang tak begitu besar, tetapi mengkhususkan penerbitannya pada karya sejarah dan kemiliteran. Buku itu diberi judul Mengawal Transisi: Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan Pemerintahan Transisi Republik Indonesia Yogyakarta 1949.

”Begitu buku itu terbit, Widihasto, Ketua Sekretariat Bersama Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta, mau meluncurkannya. Setidaknya ada masyarakat yang mendengar, ada sejarah lain di bumi Yogyakarta,” ujar Aan tentang peluncuran bukunya, awal Juli lalu.

Ia lalu bercerita, pada periode 1 Mei-30 Juli 1949, ibu kota RI berada di Yogyakarta. HB IX pernah mengeluarkan pernyataan proklamasi menandai penyerahan kedaulatan RI dari tangan Belanda, sekaligus penarikan pasukan Belanda dari Yogyakarta.

Saat itu adalah masa pemerintahan transisi, dan HB IX mendapat mandat menjalankan roda pemerintahan dari Bung Karno yang sedang berada di tempat pembuangan.

Beberapa waktu setelah ibu kota pemerintahan RI dipindahkan ke Yogyakarta, Bung Karno, Bung Hatta, dan beberapa pemimpin lain diasingkan ke Bangka, tetapi pemerintahan tak kosong. Bersama Paku Alam VIII, HB IX menjaga keamanan Yogyakarta sebagai ibu kota negara. Untuk menjaga keamanan Yogyakarta, HB IX mengadakan serangan terhadap Belanda, yang kemudian dikenal sebagai Serangan Umum 1 Maret 1949.

Dampaknya, selain membuka perhatian dunia, serangan itu pun mendorong Bung Karno menyerahkan pemerintahan RI untuk sementara ke tangan HB IX. Penyerahan itu ditandai surat penetapan yang ditandatangani Presiden Soekarno dari pengasingan, tertanggal 1 Mei 1949.

Penyerahan inilah yang disebut Aan sebagai masa transisi, sampai HB IX menyerahkan kembali kepada Bung Karno pada 30 Juli 1949.

Lebih lanjut, Aan mengatakan, selama menjalankan tugasnya sebagai pemimpin pemerintahan transisi, HB IX telah mengeluarkan 42 kebijakan, baik berupa peraturan, maklumat, instruksi, maupun pengumuman.

Hasil penting yang dicapai pada masa itu adalah peristiwa penarikan tentara Belanda dari Yogyakarta. ”Secara berturut-turut Sultan HB IX memberi jadwal penarikan itu, mulai 24 Juni sampai 30 Juni 1949. Jadwalnya tersusun rapi dan dilaksanakan sesuai jadwal itu,” tuturnya.

Pada hari akhir penarikan, HB IX membuat teks proklamasi, yang inti isinya antara lain menyebutkan, dirinya ditunjuk Bung Karno untuk menyelesaikan semua persoalan yang menyangkut pengembalian pemerintahan RI dari tangan Belanda, berikut penarikan pasukan keluar dari Yogyakarta.

Dalam proklamasi itu juga disebutkan, HB IX segera mengembalikan kekuasaan kepada Pemerintah RI yang sah jika situasi sudah memungkinkan.

”Tutur Tinular”

Aan Ratmanto bisa menjadi contoh sosok akademisi muda yang tidak terlibat arus pendidikan instan. Bukan termasuk mereka yang berharap lulus sarjana atau pascasarjana secara cepat meskipun terkadang menggunakan segala cara. Pencarian ilmu yang ditekuninya telah melahirkan catatan baru sejarah Indonesia.

Aan mengaku sejak masih kanak-kanak sudah tertarik pada sejarah. ”Waktu itu, saya sering mendengarkan sandiwara radio berlakon Tutur Tinular. Itu sandiwara yang mengisahkan sejarah Majapahit. Hasilnya, ketika ada tes (pelajaran) Sejarah, saya langsung bisa menjawab tanpa belajar lagi dari buku,” ungkapnya.

Aan mencontohkan, kisah tentang siapa sebenarnya Raja Tumapel dia dapatkan dari sandiwara radio. ”Informasi tentang Raja Tumapel saya dengar dari radio, bukan dari buku sejarah,” ujarnya.

Ketertarikannya pada sejarah juga mendapat dukungan dari sang ayah, seorang seniman ketoprak tradisional. ”Lakon dalam ketoprak itu, hampir semua ceritanya mengangkat epos sejarah. Sering berdiskusi dengan Bapak makin mendorong saya mencintai sejarah,” katanya.

*)Kompas, 11 Juli 2011

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan